4 Pilar Akhlak Kenabian “Membangun Karakter Bangsa Dengan Shaum”

0
175

Oleh: Dedi ‘Ahmad’ Husna

Ahlan Wa Sahlan Yaa Ramadhan. Bulan suci Ramadhan telah tiba kembali di tahun 1438H. Hampir setiap tahun bisa kita klasifikasikan setidaknya ada empat tipologi umat Islam saat menyambut bulan Ramadhan.

Pertama, suka cita dan gembira menyambut hadirnya Ramadhan, karena ia merasakan kenikmatan beribadah
di dalamnya.

Kedua, mereka yang suka cita dan gembira menyambut hadirnya bulan Ramadhan, karena diuntungkan secara materi.

Ketiga, merasa berat dan terbebani atas hadirnya Ramadhan. Berat secara ta’abudi maupun berat secara fisik material. Sebab harus melintasi lapar, dahaga dan repot memikirkan beban Lebaran dengan target belanja yang cukup besar.

Keempat, kalangan yang biasa-biasa saja dalam menapaki Ramadhan. Alias acuh tak acuh karena sudah biasa tidak peduli dengan ibadah shaum dan suasana Ramadhan.

Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan tingkatan dalam berpuasa. Shaumul umum, shaumul khusus, dan shaumul khususil khusus. Ketiganya bagaikan tingkatan tangga yang menarik orang berpuasa agar bisa mencapai tingkatan yang khususil khusus.

Pertama, Puasa Orang Awam (orang kebanyakan), Puasa orang awam adalah menahan makan, minum dan menjaga kemaluan dari godaan syahwat. Pada tingkatan Puasa ini menurut Al-Ghazali, adalah tingkatan Puasa yang paling rendah, kenapa? Karena Puasa ini hanyalah menahan dari makan, minum, dan hubungan suami-istri.

Apabila Shaumnya hanya karena menahan makan dan minum serta tidak melakukan hubungan suami-isteri di siang hari, maka kata Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, Puasa orang ini termasuk Puasa yang merugi yaitu berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala melainkan sedikit.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy shohih).

Kedua, Puasanya Orang Khusus adalah puasa selain menahan makan dan minum serta syahwat, puasa ini juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa. Maka puasa ini sering disebutnya dengan puasa para Shalihin (orang-orang saleh).

Menurut Al- Ghazali, seseorang tidak akan mencapai kesempurnaan dalam tingkatan puasa kedua ini, kecuali harus melewati 6 hal sebagai prasayaratnya, yaitu :
1) Menahan pandangan dari segala hal yang dicela dan dimakruhkan;

2) Menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri, menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah serta membaca Al-Quran;

3) Menjaga telinga dari mendengar kata-kata yang tidak baik;

4) Mencegah anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa;

5) Tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, sampai perutnya penuh makanan;

6) Hatinya senantiasa diliputi rasa cemas (khauf) dan harap (raja) karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.

Ketiga, Puasa khususnya orang yang khusus adalah puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Puasa khusus yang lebih khusus lagi yaitu, disamping hal diatas adalah puasa hati dari segala keinginan hina dan segala pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala (shaum al-Qalbi ‘an al-Himam ad-Duniyati wa al-Ifkaar al-Dannyuwiyati wakaffahu ‘ammaa siwa Allaah bi al-Kulliyati). Menurut Al-Ghazali, tingkata puasa yang ketiga ini adalah tingkatan puasanya para Nabi, Shiddiqqiin, dan Muqarrabin.

Mari kita renungkan masuk kepada tingkatan manakah puasa kita? Mudah-mudahan masuk pada tingkatan puasa yang kedua dan ketiga.

Jika seseorang berusia 40 tahun, maka setidak-tidaknya telah melaksanakan puasa 27 bulan. Asumsinya adalah semenjak aqil baligh ia sudah puasa penuh. Pertanyaannya adalah:

(1) Apakah puasa yang sudah dilakukan sekian lama itu telah berdampak bagi pembentukan pribadi yang baik, atau belum?

(2) Pada tataran kolektif, apakah dampak berpuasa bagi bangsa ini sudah tampak nyata?

Pertanyaan pertama membutuhkan introspeksi atau muhasabah individu masing-masing. Jika seseorang berpuasa sementara pada saat yang sama ia juga melakukan perbuatan-perbuatan kidzb atau berdusta, ghibah wa al-namimah atau menggunjing dan mengadu domba, nadlarun bi al-shahwah atau melihat dengan hawa nafsu; dan yumna la bihaq atau bersumpah palsu, maka puasanya menjadi hampa makna.

Pertanyaan kedua membutuhkan muhasabah nasional. Jika bangsa ini terus berpuasa, namun perilaku kolektifnya masih belum menunjukkan karakter mulia dan menemukan maqom Taqwa sesuai dengan Goal-nya orang berpuasa maka dapat dinyatakan puasanya belum sampai pada nilai yang sesungguhnya.

Pada tataran realitas, kita masih menjumpai moralitas individu maupun kolektif sebagai bangsa belum sesuai dengan harapan. Masih banyak dijumpai fenomena menurunnya karakter individu maupun bangsa.

Menurut Ratna Megawangi dalam bukunya Pendidikan Karakter (2009:21), menuliskan bahwa: Seorang Profesor Pendidikan dari Cortland University, Thomas Lickona mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda – tanda zaman yang harus diwaspadai karena menandakan sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran.

Tanda-tanda yang dimaksud adalah meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, penggunaan bahasa dan kata– kata yang memburuk, pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, meningkatnya perilaku merusak diri, semakin kaburnya moral baik dan buruk, menurunnya etos kerja, semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, membudaya ketidakjujuran dan adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

A. Membangun Karakter
Membangun karakter individu dan masyarakat merupakan sebuah keharusan, karena hal itu merupakan tugas perjuangan Umat Islam serta fungsi kekhalifahan setiap muslim. Setiap muslim diperintahkan oleh agama untuk membangun karakter dengan cara ber-akhlaq al-karimah.

“Innama bu’itstu liutammima makarimal Akhlaq”, dan tidak lupa bahwa agama Islam sangat menjunjung tinggi urgensi akhlaqul karimah dalam rotasi kehidupan dunia, implikasinya adalah amar ma’ruf dan nahi munkar.

Pernyataan Nabi itu mengandung beberapa makna, di antaranya :
(1) Kedatangan Nabi melengkapi kemuliaan akhlak manusia yang sebelumnya belum sempurna,

(2) Inti dari ajaran Islam sesungguhnya adalah kemuliaan akhlak. Misi beliau yang utama adalah perbaikan akhlak, penyempurnaan budi pekerti yang mulia (Al-akhlak al-karimah). Sahabat betanya-tanya tentang bagaimana sesungguhnya akhlak Nabi itu. Ketika ada sahabat yang bertanya kepada Aisyah isteri Nabi, kaifa akhlaquhu? (bagaimana akhlak Nabi itu ?) Aisyah menjawab dengan singkat akhlaquhu Al Qur’an (akhlaknya adalah Al Qur’an).

Tugas mulia Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, adalah untuk menyempurnakan karakter mulia dilandasi rahmah atau kasih sayang. Beliau mencontohkan sendiri ajaran akhlak mulianya, dengan empat pilar: shidiq, amanah, tabligh, dan fathonah.

Karakter Shidiq (benar) dipraktikkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dengan perilaku yang sama antara perkataan dan tindakan.

Sifat Amanah (jujur) menjadi landasan utama gerak beliau dalam tingkah laku keseharian, sampai-sampai beliau mendapat julukan al-amin oleh suku Quraisy.

Tabligh (akuntabel), karakter Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dalam melaksanakan tugas sebagai rasul. Sedangkan Fathonah (cerdas) merupakan cerminan sikap kreatif dalam menjalankan tugas sebagai utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jika ditarik ke konsep kekinian, maka empat pilar karakter Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam tersebut sangatlah relevan. Dalam literatur moderen karakter positif biasanya dicirikan dengan hal-hal berikut:
(1) menghargai nilai normatif;                                                                                           (2) menumbuhkan rasa percaya diri;
(3) kemandirian
(4) keteguhan; dan
(5) kreativitas.(Foester, 2012:2)

B. Nilai-nilai shaum
Nilai-nilai shaum disampaikan kepada umat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dan umat sebelumnya supaya mereka mencapai derajat taqwa sebagaimana Q.S. al-Baqarah: 183.

Target orang melaksanakan ibadah shaum adalah untuk mencapai taqwa, maka tentu yang dimaksud bukan sekedar puasa untuk menahan lapar dan dahaga saja, namun juga puasa dalam arti mengendalikan hawa nafsu. Dengan kata lain, puasa yang dimaksud adalah mengendalikan diri dari sikap negatif, lalu masuk ke dalam sikap positif, seperti: jujur, disiplin, patuh pada aturan, etos kerja tinggi, dan solidaritas pada sesama.

Ending-nya adalah orang puasa akan mendapatkan nilai-nilai Taqwa disertai perubahan menuju karakter kenabian yakni Siddiq-amanah-fathonah dan tabligh.

Itulah harapan ibadah puasa yang diulang-ulang setiap tahun oleh umat Islam bangsa Indonesia ini, sehingga eksistensi umat Islam Bangsa Indonesia akan menjadi ushwah bagi sesama warga bangsa lainnya. Tujuan terwujudnya baldatun thoyyubatun warrobbun ghafur akan menjelma sejalan dengan tertatanya karakter umat Islam bangsa Indonesia.

Wahai saudara-saudarku se-Iman, Rebut dan Milikilah negeri ini dengan modal akhlaq kenabian. Inshaa Alloh.

Semoga bermanfaat,
Selamat menjalankan ibadah Shaum.

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR