Dana Talangan Haji

0
610
Ilustrasi.

Beritalangitan.com – Editorial kali ini masih menampilkan Kampanye Gerakan Ekonomi Tanpa Riba (GETAR), kali ini redaksi akan menayangkan sebuah tulisan karya Bloger : Raehanul Bahraen sebuah artikel yang ditayangkan pada situs www.muslimafiyah.com. Sekilas isi artikel ini mengupas tentang lika-liku persoalan Ibadah Haji di tanah air ini.  Ibadah Haji jika disusupi dengan praktek riba atau yang pura-pura tidak riba maka muncul kerumitan dalam pelaksanaannya salah satunya adalah tentang antrian Haji yang cukup panjang samapai 10-15 tahun kedepan.

Tidak diragukan lagi, antrian haji yang menjadi panjang sampai 10-15 tahuan tersebut adalah salah satu kerusakan dari sistem riba dengan kamuflase “dana talangan haji”. Kita bisa lihat beritanya:

“Jakarta-Kementerian Agama (Kemenag) menerapkan pembatasan dana talangan haji yang dituding yang sebagai penyebab panjangnya antrean haji. Caranya, 27 Bank penerima setoran (BPS) biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) boleh memberikan dana talangan haji, namun tidak boleh bersifat pinjaman.”

Dan alhamdulillah pemerintah sadar dan akhirnya mengharamkan sistem ini.

“Polemik boleh tidaknya perbankan syariah menyediakan produk dana talangan haji berakhir sudah. Kementerian Agama (Kemenag) resmi melarang perbankan syariah menjajakan layanan ini ke masyarakat.

Kemenag beranggapan, naik haji hanya bagi mereka yang mampu. Sementara calon haji yang menggunakan dana talangan haji belum memiliki kemampuan secara ekonomi naik haji.

Riyanto, Direktur Utama Bank Syariah Bukopin (BSB), mengaku telah mendapatkan imbauan dari Kemenag agar tidak menawarkan produk tersebut. Alasannya, talangan haji menambah panjang daftar antrean naik haji.

“Ini merupakan isu lama di dewan pengawas syariah perbankan. Kami menyesalkan imbauan tersebut, sebab Kemenag tidak mempertimbangkan keputusan ini secara mendalam,” ujarnya, Rabu (20/3).”

Hanya dengan uang sekitar 2-5 juta seseorang sudah bisa mendaftar haji dan memperpanjang antrian haji. Padahal ia belum tentu mampu dan syarat haji adalah mampu.

Demikianlah bagaimana sistem riba merusak kehidupan dan merusak perekonomian suatu bangsa dan banyak dari umat Islam yang tidak menyadari. Memang sistem riba tidak langsung terlihat dampaknya atau secara individu tidak terlalu terlihat. Akan tetapi secara sistem akan merusak sistem perekonomian dan bisa meruntuhkan perekonomian suatu bangsa.

Riba pada sistem dana talangan haji

Jelas terdapat riba dalam sistem ini, karena aqad yang di maksud adalah pinjaman dan pinjaman termasuk aqad sosial untuk membantu (Transaksi tabarru’at), sehingga tidak boleh ada dari salah satu pihak yang mengambil keuntungan, karena memang niat awalnya adalah membantu.

Kita bisa lihat di salah satu situs yang melayani sistem dana talangan haji:

“Fitur Umum: Berdasarkan prinsip syariah dengan akad al-qardh (pinjaman), Fasilitas angsuran secara autodebet dari Tabungan Haji Arafah”.

Dalam Transaksi tabarru’at dengan niat membantu, maka tidak boleh ada mengambil keuntungan. Jika ada maka termasuk riba. Sebagaiman kaidah yang sudah ma’ruf dari ulama.

“Setiap piutang yang memberikan keuntungan maka (keuntungan) itu adalah riba.”

Ini maksudnya adalah segala keuntungan. Pelayanan, pemberian sesuatu terkait dengan pinjaman tersebut. dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,

“Apabila kalian mengutangkan sesuatu kepada orang lain, kemudian (orang yang berutang) memberi hadiah kepada yang mengutangi atau memberi layanan berupa naik kendaraannya (dengan gratis), janganlah menaikinya dan jangan menerimanya.”

Dalam dana talangan haji, yang ada biaya ganti semacam “ujrah” untuk bank sekian juta. Inilah sistem riba yang dimaksud

Dan yang perlu diperhatikan juga bahwa haji dikaitkan dengan kemampuan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah(Ali-Imran : 97) 

Dan ini (talangan haji) termasuk memaksakan diri dalam beribadah dan mengerjakan amalan yang tidak sanggup dikerjakan. Ini sudah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wahai umat manusia, hendaknya kalian mengerjakan amalan yang kuasa kalian kerjakan, karena sejatinya Allah tidak pernah merasa bosan (diibadahi) walaupun kalian sudah merasakannya. Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah ialah amalan yang dilakukan secara terus menerus, walaupun hanya sedikit”

Bahaya sistem riba

Riba sangat dilarang dalam Islam bahkan ancamannya sangat keras. Karena memang bisa merusak kehidupan dan menghancurkan ekonomi suatu bangsa. Karena dampak buruknya tidak langsung dengan cepat terlihat.

Terlalu banyak dalil dan ancaman mengenai riba, beberapa akan dipaparkan di sini.

  • Dosanya yang paling ringan seperti menzinahi ibu sendiri dan sekian kali lipat dosa berzina

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.”

  • Akan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya, Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al-Baqarah: 278-279)

  • Dilaknat semua yang mendukung riba

dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwasannya ia menuturkan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan / membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, ‘Mereka itu sama dalam hal dosanya’.”

  • Termasuk dosa besar yang membinasakan,

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Beliau mengatakan, “(1) Menyekutukan Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) melarikan diri dari medan peperangan, (7) menuduh wanita yang menjaga kehormatannya (bahwa ia dituduh berzina)

Demikian semoga bermanfaat dan menjadi nasihat bagi kita semua, amin. (aha)

*Redaksi beritalangitan.com

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR