Benarkah….PILIHAN PEMIMPIN : Biar Bodoh Asal Jujur….?

0
1682
Ilustrasi : Bodoh vs Pintar

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jika suatu bangsa ditimpa keresahan dengan terjadinya kehancuran moral kepemimpinan sehingga terjadi berbagai musibah, maka akan terjadi pilihan pemimpin yang darurat asal pilih, jawabannya adalah biar bodoh asal jujur….demikian pada pilihan akhir rakyat saat harus menentukan sikap kepada siapa mereka harus dipimpin.

Demikian pula Ibnu Khaldun, seorang sosiolog Muslim ternama abad XIV pernah mengajukan pertanyaan untuk direnungkan yang kurang lebih berbunyi: “Kalau harus memilih salah satunya, yang mana Anda pilih, pemimpin jujur tapi bodoh, atau pemimpin pintar tapi pembohong?” Kalau pertanyaan seperti ini diajukan pada Anda saat ini, saya menduga Anda akan memilih jawaban dengan mengikuti psikologi keresahan Anda tentang kondisi negeri tersebut yang dikelola dengan begitu banyak kebohongan. Kemungkinan Anda akan menjawab bahwa yang sangat mendesak bagi negeri tersebut perlunya pemimpin jujur meskipun pemimpin tersebut bodoh.

Tapi mungkin anda akan terkejut dengan jawaban Ibnu Khaldun, dan saya pribadi memahami keterkejutan Anda itu. Saya memahaminya karena secara empiris, mereka rata-rata menjawab bahwa lebih baik memilih orang jujur meskipun bodoh, daripada pintar tapi pembohong. Sekali lagi, Anda kemungkinan juga berada dalam pikiran demikian, bukan?

Ibnu Khaldun menjawab bahwa kalau harus memilih, lebih baik pemimpin pintar meskipun pembohong daripada bodoh tapi jujur. Beliau berpandangan bahwa sangat susah dipimpin oleh orang bodoh karena dengan kebodohonnya, kejujurannya akan sia-sia. Orang bodoh susah diintervensi karena memang sudah bodoh. Ia tidak bisa menerima ide-ide perubahan karena kebodohannya. Menurutnya, pemimpin pintar tapi pembohong lebih baik karena watak bohongnya bisa dikontrol dan dikebiri dengan menciptakan sistem supaya pemimpin tersebut tidak berbohong.

Lalu mengapa banyak orang saat ini, jawabannya berbanding terbalik dari jawaban Ibnu Khaldun, yaitu memilih pemimpin yang jujur meskipun bodoh? Ada beberapa alasan yang bisa menjelaskan. Pertama, mungkin mereka melihat di sekitarnya bahwa yang paling sering membohongi mereka adalah orang-orang pintar. Kedua, mungkin mereka merujuk kepada kehidupan berbangsa, bahwa betapa keroposnya bangsa ini karena ulah para pembohong. Ketiga, kejujuran publik sekarang ini laksana mencari jarum di sebuah hutan belantara yang gelap gulita.

Dan lebih berbahaya lagi jika suatu bangsa dipimpin oleh orang bodoh yang pembohong. Dia bisa jadi pemimpin dan dipilih rakyat karena kebohongannya….apa yang akan terjadi pada nasib bangsa tersebut…?

Sabda Rosulullah saw:“Tunggu saat kehancuranannya, apabila amanat itu disia-siakan!” Para sahabat serentak bertanya, “Ya Rasulullah, apa yang dimaksud menyia-nyiakan amanah itu?” Nabi SAW menjawab: “Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” (HR. Bukhari).

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Redaksi beritalangitan.com

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR