GETAR…….!

0
836

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Getar baru hanya sebuah Selogan kampanye dari Gerakan Ekonomi Tanpa Riba, istilah ini muncul dari fikiran team Redaksi untuk menggugah cara nalar umat terhadap kondisi sosial ekonomi yang dirasakan makin menghimpit dalam mengisi kehidupan ini. Ada fakta yang tidak habis fikir dari realitas sosial yang ada saat ini, seperti contohnya. Hampir semua hal mudah didapat seperti kebutuhan Rumah tinggal dari mulai rumah sederhana sampai rumah mewah, kendaraan mulai sepedah motor sampai mobil mewah bahkan kebutuhan sehari-haripun bisa didapatkan. Tapi hampir semuanya harus melalui pintu pinjaman bunga atau Riba.

Menurut pandangan kebanyakan manusia, pinjaman dengan sistem bunga akan dapat membantu ekonomi masyarakat yang pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat. Anggapan tersebut telah menjadi keyakinan kuat hampir setiap orang, baik ekonom, pemeritah maupun praktisi. Keyakinan kuat itu juga terdapat pada inetelektual muslim terdidik yang tidak berlatar belakang pendidikan ekonomi. Karena itu tidak aneh, jika para pejabat negara dan direktur perbankan seringkali bangga melaporkan jumlah kredit yang dikucurkan untuk pengusaha kecil sekian puluh triliun rupiah. Begitulah pandangan dan keyakinan hampir semua manusia saat ini dalam memandang sistem kredit dengan instrumen bunga. Itulah pandangan material (zahir) manusia yang seringkali terbatas.

Pandangan umum di atas dibantah oleh Allah dalam Al-quran surah Ar-Rum : 39, “ Apa Apa yang kamu berikan (berupa pinjaman) dalam bentuk riba agar harta manusia bertambah, maka hal itu tidak bertambah di sisi Allah” (QS.ar-Rum : 39).

Ayat ini menyampaikan pesan keyakinan, bahwa pinjaman (kredit) dengan sistem bunga tidak akan membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara agregat dan adil. Pandangan Al-quran ini secara selintas sangat kontras dengan pandangan manusia kebanyakan. Manusia menyatakan bahwa pinjaman dengan sistem bunga akan meningkatkan ekonomi masyarakat, sementara menurut Allah, pinjaman dengan sistem bunga tidak membuat ekonomi tumbuh dan berkembang.

Mengapa Allah Ta’ala mengatakan pinjaman kredit dengan sistem bunga tidak menumbuhkan ekonomi?. Di sinilah keterbatasan akal (pemikiran) sebagian besar manusia. Mereka hanya memandang secara dangkal, kasat mata dan material (zahir) belaka. Dari sinilah muncul konsep meta-ekonomi Islam, yaitu, sebuah pandangan ekonomi yang berada di luar akal material manusia yang dangkal.

Begitulah, akal manusia sering kali tidak bisa menjangkau apa yang dibalik realitas ekonomi. Padahal sistem riba itu justru merusak dan sama sekali tidak membawa pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya. Inilah yang dijelaskan Al-Quran dalam surah Ar-Rum ayat 39 di atas. Inilah konsep metaekonomi Islam dalam larangan riba. Namun, bagi para ekonom Islam, hal tersebut bukan lagi meta, tapi fakta, karena mereka telah melihat fakta riil kerusakan ekonomi masyarakar, negara dan dunia akibat riba (bunga). Mereka telah melihat secara nyata bahwa riba tidak akan menumbuhkan perekonomian masyarakat. Metaekonomi Islam dalam larangan riba hanya relevan bagi para penganut dan pengamal ekonomi ribawi yang mayoritas di negeri ini. Selanjutnya tugas pakar ekonomi syari’ah untuk menjelaskan meta ekonomi Islam itu kepada penganut dan pengamal kapitalisme ribawi yang masih mayoritas di negeri ini. Sehingga kampanye Gerakan Ekonomi Tanpa Riba atau disingkat GETAR dapat direspon positif oleh umat. Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Redaksi beritalangitan.com

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR