Jebakan Riba Bagi Pegawai

4
1100
Ilustrasi

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Biasanya jika seseorang diterima dan diangkat menjadi pegawai akan sangat bergembira jika telah mendapatkan SK pengangkatan pegawai baik itu pegawai negeri sipil (PNS) atau pegawai swasta. Kegembiraan tersebut sebagian pegawai adalah agar bisa mengajukan kredit bank atau ke lembaga keuangan lainnya semisal leasing dengan mudah. Kalau kredit atau leasing bisa dengan mudah tentu akan segera mendapatkan mobil, motor, atau rumah dengan mudah pula. Dengan alasan mengatakan “jika tidak dengan kredit mana mungkin dapat Rumah, mobil, motor atau barang-barang lainnya”.

Itulah mengapa sebagian orang begitu semangat menjadi pegawai, namun kami tidak katakan semuanya punya maksud seperti itu. Mohon tidak salah paham. Namun biasanya inilah prinsip sebagian pegawai.

Masa pengembalian pinjaman atau tenor ada yang maksimal sampai 10 tahun dengan besaran cicilan adalah 60% dari gaji pemohon kredit yang bersangkutan. Yang kami dengar dari sebagian pegawai negeri, gara-gara mesti mencicil seperti itu dari gajinya, sampai ada yang hanya membawa pulang Rp.50.000,- bahkan bisa lebih kecil dari itu ketika gajian karena sebagian besar membayar cicilan di mana-mana. Wallahul musta’an.

Misalkan untuk PNS golongan III-B dengan gaji Rp 3 juta per bulan maka pinjaman yang diizinkan adalah Rp 216 juta yang merupakan hasil perkalian dari 60% gaji dikalikan dengan 10 tahun masa cicilan.

“Enak benar yah jadi PNS …dari uang pinjaman sebesar itu cukup untuk membeli sebuah mobil baru merk ternama di negeri ini ….”

Tetapi kaya dengan harta riba jelas tidak tenang. Dosa dan harta haram jelas menggelisahkan jiwa.

Dari Nawas bin Sam’an, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kebaikan adalah dengan berakhlak yang mulia. Sedangkan kejelekan (dosa) adalah sesuatu yang menggelisahkan jiwa.” (HR. Muslim no. 2553)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Dosa selalu menggelisahkan dan tidak menenangkan bagi jiwa. Di hati pun akan tampak tidak tenang dan selalu khawatir akan dosa.”

Tak percaya kalau pengajuan kredit bank itu riba?

Coba bayangkan, mobil yang asalnya bisa dibeli dengan harga 200 juta rupiah secara cash, karena harus kredit bank akhirnya harus dibayar hingga 300-an juta rupiah. Padahal kaidah yang patut diingat oleh setiap muslim bahwa setiap utang piutang yang dalamnya ada keuntungan, maka itu adalah riba. Hakekat yang terjadi dari jual beli kredit lewat leasing atau bank adalah utang piutang bukan jual beli. Ini yang patut dipahami.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata,

“Setiap utang yang dipersyaratkan ada tambahan, maka itu adalah haram. Hal ini tanpa diperselisihkan oleh para ulama.” (Al Mughni, 6: 436)

Bukan hanya rentenir yang kena laknat, namun nasabah riba kena laknat. Patut diingat bahwa makna laknat adalah jauh dari rahmat Allah.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba.” Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ada penegasan haramnya menjadi pencatat transaksi riba dan menjadi saksi transaksi tersebut. Juga ada faedah haramnya tolong-menolong dalam kebatilan.” (Syarh Shahih Muslim, 11: 23)

Semoga tulisn ini semakin membuka hati pegawai yang lain dan kaum muslimin secara umum akan bahaya riba.

Coba kita memiliki sifat qana’ah, yang dijadikan standar mulia bukanlah kekayaan harta namun hati yang baik dan selalu merasa cukup.

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051). Kata para ulama, “Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (hati yang miskin)” (Lihat Fathul Bari, 11: 272).

Ini doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering beliau panjatkan agar kita selalu dicukupi dengan yang halal,

“Allahummak-finii bi halaalika ‘an haroomik, wa aghni-nii bi fadhlika ‘amman siwaak”, artinya: Ya Allah, anugerahkanlah padaku yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu. (HR. Tirmidzi no. 3563, hasan)

Tidak ada larangan sama sekali untuk menjadi pegawai, namun marilah tulisan sederhana dalam editorial ini menjadi renungan agar kita tidak menggampang-gampangkan transaksi riba. Prinsip penting, “Carilah keberkahan, bukan yang penting punya.”

Semoga kampanye gerakan ekonomi tanpa riba (GETAR) dapat diterima oleh kaum muslimin dengan hati yang lapang disertai keikhlasan untuk menjalankan perintah Allah SWT.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah. Amin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*Redaksi beritalangitan.com

Suara Ulama

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR