“Negeri Cantik Nan Elok Ini Penuh Ditaburi Dengan Bunga Riba”

0
1146
Ilustrasi (protekita)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Rasulullah saw bersabda “Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al Hakim)

Sungguh sangat miris jiwa ini ketika melihat dengan mata hati dan melihat kenyataan kehidupan di negeri Indonesia tercinta ini, karena wajah yang cantik nan elok ini penuh ditaburi dengan bunga riba dan fakta tersebut telah hadir dimana-mana dengan mudah dan cepat menjalar dan merambah ke seluruh pelosok negeri tercinta indonesia ini.

Benar-benar mengerikan kenyataan kehidupan sekarang ini, pesan-pesan promosi “satu jam cair, bunga ringan, jaminkan bpkb motor atau mobil”, “satu hari cair bunga ringan *ketentuan berlaku”,  “butuh dana cepat????? Hubungi 08xxxxx”, cash dan kredit angsuran dan bunga ringan dan sebagainya, bisa dengan mudah kita baca pamflet-pamflet, spanduk dan sejenisnya dipinggir jalan, di tembok-tembok, tiang listrik atau pohon-pohon yang berjajar dari sabang sampai merauke. Prinsip dari pesan itu adalah kemudahan mendapatkan pinjaman, mengatasi masalah ekonomi dengan masalah baru, yang disebut dengan riba.

Transaksi-transaksi ribawi  sudah sangat mengkristal dalam masyarakat di negeri ini dan menganggapnya sebagai transaksi “biasa” yang bebas nilai dan bebas dosa. Orang khususnya muslim dengan sangat ringan melakukan transaksi ribawi di perbankan konvensional, lembaga keuangan simpan-pinjam, koperasi sekolah umum dan bahkan di madrasah dan lembaga pendidikan Islam lainnya, koperasi-koperasi RT atau bahkan pada banyak arisan yang dikelola oknum-oknum tertentu dengan dalih arisan motor, arisan rumah ataupun barang lainnya. Transaksi-transaksi ini biasa menggunakan prinsip persen bunga dan ada dikemas dengan dalih biaya administrasi, prinsip lelang dan bahkan biaya jasa atau ujrah.

Kenyataan ini sungguh sangat ironis di negeri yang menurut catatan statistik katanya 88 persennya pemeluk agama mulia yang dengan tegas mengharamkan dengan bobot yang sangat berat atas transaksi-transaksi berbasis bunga atau riba, akan tetapi pada kenyataannya nampak jelas praktek riba subur dimana-mana, dari desa terpencil sampai kota-kota besar, dari rakyat jelata sampai pejabat tertinggi negara, dari pedagang gendong dan buruh tani sampai bisnis asset triliunan rupiah, semua tidak bisa lepas dari cengkeraman transaksi ribawi. Terlebih ironis lagi lembaga agama tertinggi negara pun masih menggunakan lembaga keuangan konvensional yang berbasis riba untuk transaksi maupun aliran dananya dan menggaji para pegawainya. Padahal sudah jelas Majelis Ulama Indonesia dengan Dewan Syariah Nasionalnya sudah mengeluarkan fatwa pengharaman bunga (riba) diantaranya Fatwa DSN-MUI no.1 th. 2004.

Dari kenyataan tersebut, kira-kira 1400 tahun yang lalu Nabi Muhammad saw sudah melarang riba baik melalui kalam Allah yang diterima maupun penjelasan melalui sunahnya dengan tingkat pelarangan yang sangat berat melebihi pelarangan terhadap perilaku zina. Banyak ayat dalam alquran dan hadits rasulullah mengenai pelarangan riba. Oleh karena itu, materi-materi tentang muamalah syar’iyah sangat mendesak untuk disosialisasikan kepada umat muslimin dimanapun di negeri yang cantik nan elok ini.

Semoga kampanye GETAR (Gerakan ekonomi tanpa riba) melalui editorial ini menggugah hati yang kelam karena himpitan ekonomi yang makin berat ini.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Redaksi beritalangitan.com

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR