Sekilas Tentang Ummatan Wahidah

0
224

Oleh: Dedi Ahmad Husna

beritalangitan.com – Sejarah telah mencatat bahwasanya umat Islam pernah menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat yang mampu menancapkan bendera “Laa ilaaha illa allah Muhammadur Rasulullah” di dua pertiga dunia dan sungguh Rasulullah telah meletakkan batu pertama pembangunan umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya. Beliau bersama para sahabat dan orang-orang beriman telah berjuang sekuat tenaga menyampaiakn risalah Islam dan mengajak ‘umat manusia untuk hidup dengan cara Islam. Mereka berhasil dengan gemilang dalam waktu yang singkat menjadi umat Islam yang kuat dan besar serta mampu mewujudkan suatu pola kehidupan yang aman, tentram dan damai. Kurang lebih selama tiga belas abad, umat Islam menjadi poros kehidupan umat manusia dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan peradaban.

Waktu telah bergulir dan sejarahpun telah berganti maka kondisi tersebut berbalik 180 derajat. Umat Islam saat ini ibarat buih di lautan yang terus dipermainkan arus tanpa mampu mengendalikan dirinya dan juga sama seperti seonggok makanan empuk yang masak dan siap untuk dilahap siapa saja yang lapar. Semenjak kaum penjajah, menghantam dan merobek-robek kesatuan umat Islam, dan Islam dilenyapkan dari eksisitensi politik, mereka terus menerus melakukan usaha untuk menghancurkan umat Islam, hingga umat ini tidak memiliki kekuatan di muka bumi.

Upaya yang pertama kali mereka lakukan adalah menciptakan keraguan terhadap Islam, kemudian mereka membagi-bagi wilayah kaum muslimin menjadi negeri-negeri Islam, dan agar negeri-negeri itu tercerai berai dibuatlah ikatan-ikatan seperti ikatan ketetanggaan, kebersamaan atau persahabatan yang didasarkan kepentingan belaka. Ikatan seperti inilah yang menggantikan ikatan berdasarkan aqidah Islam. Padahal sesungguhnya, inilah ikatan yang dahulu telah menumbuhkan kesatuan kaum muslimin. Ikatan yang tidak berdasarkan
aqidah Islam telah terbukti lemah dan menimbulkan perselisihan, pertentangan bahkan peperangan antar sesama muslim.

Islam adalah risalah untuk seluruh umat manusia, tidak dikhususkan untuk kaum muslimin saja, karena Rasulullah diutus untuk memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta. Rasulullah berhasil menyatukan jazirah arab yang kala itu memiliki 30 qabilah. Tugas menyebarluaskan dakwah Islam dilanjutkan oleh khulafaur rasyidin hingga ke masa kesultanan Turki Utsmani di Istanbul, Turki. Selama lebih dari 13 abad kaum muslimin telah disatukan dalam satu naungan akidah dan sistem Islam.

Terpecahnya kaum muslimin menjadi beberapa Negara kecil telah banyak mencetuskan perselisihan satu dengan yang lainnya. Sejaran telah mencatat beberapa perselisihan tersebut. Irak berperang dengan Iran, arab Saudi dengan Yaman, Pakistan dan Bangladesh, dan lain-lain. Selain itu fragmentasi ini menyebabkan kaum muslimin tidak peduli dengan nasib saudaranya di Negara lain yang sedang dirundung kesusahan. Negara-negara kaya seperti Saudi, UEA, Qatar, Bahrain tidak mempedulikan kesengsaraan saudara-saudaranya di Bosnia, Palestina, Somalia dll. Hal ini disebabkan karena mereka dipisahkan oleh warna bendera, bangsa atau suku.

Dalam masalah ini, Islam telah mengharamkan propaganda paham ‘ashobiyah (fanatisme adat, wilayah/negeri, suku, ras dll) melalui sabda Rasulullah SAW : “siapa saja yang menyeru kepada ‘ashabiyah, maka ia tidak termasuk golongan kita (kaum muslimin)” (HR Abu Dawud)

“Siapa saja yang berbagga-bangga dengan kebangaan jahiliyah, maka hendaklah kalian menyuruh mereka menggigit kemaluan bapaknya dan janganlah kalian mengatakan (menyuruh) hal itu secara samar-samar” (HR ahmad, Nasa’I, ibnu Hibban, dan Thabrani).

Sesungguhnya persatuan dan ukhuwah Islamiyah atau ummatan wahidah prinsip utamanya adalah aqidah Islam. Ini satu-satunya ikatan kaum muslimin, dimanapun mereka berada, apapun ras dan suku bangsanya, apapun pilihan politiknya bila telah memiliki aqidah yang sama, maka mereka bersaudara dan diperintahkan untuk bersatu padu berdasarkan ikatan persaudaraan tersebut.

Lalu, apa makna “ummatan wahidah” dalam berbagai ayat, semisal firman Allah : “inna hadzihi ummatukum ummatan wahidah” Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku (QS Al Anbiyaa’ : 92) lihat juga QS Al Mu’minun : 52.

Imam Jalaludin al Muhallah dan Jalaludin As Suyuthi dalam kitabnya Al Jalalian menafsirkan surat Al Anbiya’ ayat 92 dengan ; “yakni millah (agama) Islam, agama kalian wahai orang-orang yang diseru, yaitu wajib kalian bersatu.

Imam Ibnu Katsir berpendapat mengenai ayat tersebut : telah berkata Abdullah bin ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Zubair, Qatadah, dan Aburrahman bin Zaid mengenai ayat ini – agama kalian agama yang satu – Al Hasan Basri mengatakan yaitu sunah kalian adalah sunah yang satu.

Pandangan para ahli tafsir ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan “Ummatan wahidah” dalam ayat diatas adalah diin (agama), yakni Islam. Sesungguhnya Islam telah menunjukkan bahwa sebagian besar dunia, bahkan seluruhnya bisa saja disatukan dengan sistem Islam, meskipun di dalamnya terdapat berbagai kelompok yang berbeda-beda agama. Bukankah Rasulullah telah berhasil menyatukan jazirah arab yang terdiri dari berbagai agama, adat, dan kebudayaan dalam kesatuan sistem Islam, satu perundang- undangan yaitu syari’at Islam ?

Dalam hal ini bahkan Rasulullah menggunakan kata-kata ‘ummatan wahidah’ dalam piagam Madinahnya yang termasyhur. Isi piagam tersebut mencakup suku-suku dan kaum yang belum memeluk Islam, termasuk orang-orang Yahudi dan Nasrani di Madinah. Adapun maksud dari ‘ummatan wahidah’ dalam piagam madinah tercermin dalam kalimat berikut.

“Bahwa bilamana timbul diantara kamu perselisihan tentang sesuatu masalah yang bagaimanapun, maka kembalikanlah itu kepada Allah dan kepada Muhammad SAW. (sirah Ibnu Hisyam, jilid II, hal. 501) Dengan demikian, kata itu-dalam piagam madinah- menggambarkan disatukannya berbagai qabilah, ras, bahkan berbagai agama dengan sistem Islam. Meski Islam dijadikan sebagai sistem masyarakat, tetapi masalah aqidah dan Ibadah diberikan hak kebebasan melaksanakan sesuai keyakinannya

Allah berfirman : “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al Hujurat ; 10).

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai
berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (QS Ali Imron : 103).

Untuk lebih memperjelas seputar makna tentang kajian ‘ulama dan ummatan wahidah maka pada terbitan yang pertama ini redaksi menurunkan tulisan para ‘ulama seputar kajian tersebut, semoga bermanfaat. *

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR