Tafsir Surat Al-Maidah 51 “Dalam Pencarian Sosok Kepemimpinan Nubuwwah”

0
298

Oleh: Dedi Ahmad Husna

beritalangitan.com – Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini: “Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang hamba-Nya yang beriman untuk loyal kepada orang Yahudi dan Nasrani. Mereka itu musuh Islam dan sekutu-sekutunya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerangi mereka. Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan bahwa mereka itu adalah auliya terhadap sesamanya. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengancam dan memperingatkan bagi orang mu’min yang melanggar larangan ini. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Lalu Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab, Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia berkata: “Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?”. Abu Musa menjawab: “Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram”. Umar bertanya: “Kenapa? Apa karena ia junub?”. Abu Musa menjawab: “Bukan, karena ia seorang Nasrani”. Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: “Pecat dia!”. Umar lalu membacakan ayat: “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132).

Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin Islam merupakan agama yang kamil dan syamil. Artinya Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia. Termasuk dalam masalah politik dan kepemimpinan, Islam juga mengatur dan menjelaskannya. Maka ketika ada pemahaman bahwa Islam tidak memiliki sangkut paut dengan masalah politik dan negara, jelas pemahaman itu merupakan pemahaman yang salah. Bahkan pemahaman tersebut merupakan pemahaman sekuler yang ingin memisahkan urusan dunia dari campur tangan agama.

Islam tidak hanya mengatur urusan pribadi, bahkan Islam juga mengatur urusan masyarakat. Bahkan lebih dari itu Islam juga mengatur urusan politik dan negara. Syaikh Abdul Majid al-Ghaili salah seorang ulama Yaman yang mengkaji al-Qur’an berdasarkan urutan turunnya surat, beliau menjelaskan dalam muqaddimah kitab Kaifa Yubarmiju al-Qur’anu al-Hayaah bahwa sepertiga awal al-Qur’an adalah untuk membentuk dan memperbaiki pribadi atau individu. Sepertiga berikutnya mengatur dan memperbaiki masyarakat. Kemudian sepertiga yang terakhir adalah mengatur urusan pemerintahan dan negara.

Mungkin sebagian kalangan mengira bahwa para ulama salaf hanya membahas masalah aqidah, fiqih, tafsir, hadits dan masalah-masalah yang berkaitan dengan ritual keagamaan saja. Jelas anggapan mereka itu salah. Kenapa? Karena agama Islam adalah agama yang sempurna. Agama Islam adalah agama yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Bahkan masalah politik juga termasuk dalam cakupan agama Islam. Sehingga para ulama membahas masalah politik dan negara dalam kitab-kitab mereka.

Bagi mereka yang bermadzhab Syafi’i, pasti nama ulama yang satu ini tidak asing lagi. Ya, beliau adalah Imam al-Mawardi pengarang kitab al-Hawi al-Kabir. Dalam masalah politik dan negara beliau menulis sebuah kitab yang menjadi salah satu referensi utama dalam masalah ini. Ya, kitab ini bernama al-Ahkam ash-Shulthaniyyah.

Dalam madzhab Hanbali juga ada ulama yang menulis kitab dalam masalah politik dan negara. Salah satunya adalah al-Qadhi Abu Ya’la yang juga menulis kitab dengan nama al-Ahkam ash-Shulthaniyyah. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga punya kitab yang berjudul as-Siyasah asy-Syar’iyyah. Selain mereka masih banyak lagi ulama yang menulis kitab dalam masalah politik dan negara.

Ketika kita membuka kitab as-Siyasah asy-Syar’iyyah karya Ibnu Taimiyah kita akan mendapatkan dua kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin ideal. Beliau mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat al-Qashash ayat 26. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang terbaik yang anda tunjuk untuk bekerja adalah orang yang kuat lagi amanah”. (al-Qashash: 26) Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kuat disitu tergantung pada medannya.

Seorang pemimpin perang berarti harus kuat dalam peperangan dan mengatur strategi. Sementara kuat dalam menetapkan hukum di tengah masyarakat berarti kuat dalam hal keilmuannya menetapkan hukum itu berdasarkan al-Qur’an dan sunnah. Sedangkan sifat amanah kembali kepada kesungguhan pemimpin tersebut takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak memperjual belikan ayat-ayatNya untuk kepentingan dunia, serta tidak takut dengan ancaman manusia.

Dalam surat al-Baqarah ayat 247 Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan alasan kenapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memilih Thalut menjadi pemimpin bagi Bani Israel. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. (al-Baqarah: 147).

Ayat di atas menunjukkan bahwa seorang pemimpin haruslah seorang yang berilmu dan memiliki kekuatan.

Mencari Sosok Pemimpin Ideal

Ketika kita ingin mencari sosok pemimpin ideal, kita harus kembali pada sirah nabawiyah. Sosok pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam kabarkan dalam haditsnya sebagai pemimpin-pemimpin masa Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah. Sebuah masa keemasan setelah masa kenabian. Masa yang akan berlangsung selama tiga puluh tahun. Dan kelak masa kejayaan Islam itu akan kembali lagi sebagaimana yang Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam kabarkan dalam haditsnya tentang lima fase yang akan dilalui umat Islam.

Para pemimpin masa Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah ternyata adalah para sahabat yang mulia, yang dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin. Mereka adalah Abu Bakar, Umar ibn Khathab, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib.

Tidak ada yang meragukan kemuliaan mereka. Mereka semua adalah orang-orang yang dijamin masuk surga. Bahkan Ahlussunnah Wal Jama’ah sepakat merekalah manusia paling mulia dari umatnya Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Sedangkan urutan keutamaan mereka seperti urutan masa kekhilafahan mereka.

Tapi yang perlu kita garis bawahi disini adalah ternyata mereka adalah ulamanya para sahabat. Mereka adalah mujtahidnya para sahabat. Mereka adalah fuqaha’nya para sahabat. Inilah kepemimpinan ideal, kepemimpinan yang berdasarkan tingkat keilmuan. Maka tidak mengherankan jika logika inilah yang dipakai oleh para sahabat ketika memilih pemimpin mereka sepeninggal Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
“Rasulullah telah ridho padanya untuk memimpin urusan agama kita, apakah kita tidak ridho dia menjadi pemimpin urusan dunia kita?”.

Islam Berjaya di Bawah Kepemimpinan ‘ala Minhaj Nubuwah Ketika kita membuka lembaran sejarah Islam, kita akan mendapati puncak kejayaan sebuah negara terjadi ketika pemimpinnya adalah orang yang mengerti agama dalam tuntunan Nubuwah. Puncak kejayaaan Islam setelah masa kenabian adalah masa Khulafaur Rasyidin. Tidak ada yang meragukan keilmuan dan keshalehan mereka.

Dinasti Bani Umayyah memiliki Umar ibn Abdul Aziz, khalifah sekaligus ulama dalam tuntunan Nubuwah yang berhasil membawa Daulah Umayyah menuju puncak kesejahteran hanya dalam waktu 29 bulan. Bani Abbasiyah ketika dipimpin oleh Harun ar-Rasyid.

Bani Umayyah di Andalusia di bawah kepemimpinan Abdurrahman ad-Dakhil dan Abdurrahman an-Nashir. Ada Nuruddin Zankiy, ada Shalahuddin al-Ayyubi, dan juga ada Muhammad al-Fatih, para pemimpin dalam tuntunan Nubuwan di sepanjang sejarah umat Islam.

Antara Minhaj Nubuwah dan Kesejahteraan

Mungkin para sekularis dan kaum liberalis tidak akan percaya hubungan Minhaj Nubuwah dan kesejahteraan suatu bangsa. Tetapi itulah faktanya. Dan memang itulah sunnatullah yang tidak akan pernah berubah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS.al-A’raaf: 96)

Inilah ketika Minhaj Nubuwah dan keimanan telah hilang dari pemimpin dan masyarakat suatu negeri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mencabut keberkahan dari mereka. Hujan yang merupakan nikmat berubah menjadi bencana. Dan akan disusul oleh bencana- bencana yang lainnya.

Pengaruh Pemimpin Terhadap Rakyatnya

Antara pemimpin dan rakyatnya memiliki hubungan yang sangat erat sekali. Karena pemimpin itu berasal dari rakyat, maka seperti pemimpin itulah kualitas mayoritas rakyatnya.

Namun ada hal yang menarik yang disampaikan oleh para pakar sejarah terkait hubungan pemimpin dengan rakyatnya. Para pakar sejarah mengatakan bahwa obsesi Khalifah al-Walid ibn Abdul Malik adalah membangun. Maka rakyatnya pun demikian. Jika ada seorang bertemu kawannya, maka pertanyaan yang terlontar: “Apa yang sudah kau bangun? Kau bangun dengan apa tanah yang kau miliki?”

Sedangkan obsesi Khalifah Umar ibn Abdul Aziz adalah membaca al-Qur’an, shalat dan beribadah. Kondisi masyarakat di masa beliau juga seperti itu. Jika ada seseorang bertemu dengan kawannya, pertanyaan pertama yang terlontar adalah: “Berapa rakaat shalat malam yang kau rutinkan? Berapa banyak kau membaca al-Qur’an? Shalat apa saja yang kerjakan
semalam?”

Ya, itulah hubungan antara pemimpin dan rakyatnya. Maka benarlah ungkapan “Rakyat itu mengikuti agama pemimpinnya”. Akan menjadi indah jika pemimpin kita adalah seorang yang dituntun oleh ‘ala Minhaj Nubuwah. Namun sebaliknya akan menjadi musibah jika pemimpin kita suka berbohong dan tidak amanah. Jika demikian kira-kira seperti apa rakyatnya?

Manusia adalah makhluk yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala jadikan khalifah di bumi ini. Sungguh menjadi khalifah di bumi ini tidaklah mudah. Tetapi itulah manusia, makhluk yang haus akan kekuasaan walaupun belum tentu dia amanah. Kebodohan dan kezhalimannnya itulah yang membawanya pada hal tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (QS.al-Ahzab: 72)

Sungguh menjadi pemimpin adalah amanah yang sangat besar. Kelak dia akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka untuk menilai bodoh atau tidaknya seorang pemimpin cukup kita melihat reaksinya ketika dia terpilih menjadi pemimpin.

Para pemimpin terbaik dalam sejarah Islam begitu takut ketika menerima amanah sebagai pemimpin. Mereka khawatir tidak bisa menjalankan amanah tersebut. Mereka menganggap kepemimpinan itu sebagai ujian. Lalu bagaimanakah dengan pemimpin di lingkungan kita ?

Wallahu A’lam Bish Shawab 

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR