3 Persiapan Menyambut Ramadhan

0
141

RAMADHAN adalah tamu agung yang kedatangannya selalu dinanti-nantikan tanpa mengharap untuk ditinggalkan. Itulah mengapa ada banyak hal yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari untuk menyambut kedatangannya.

Menyambut kedatangan Ramadhan yang agung tentu persiapan yang dilakukan tidaklah sama dengan tahun-tahun yang telah berlalu. Harus ada peningkatan yang lebih dan hal itu tidaklah mungkin akan terwujud kecuali jika kita mempersiapkan diri dengan baik pula. Keberhasilan kita pada Bulan Ramadhan tahun ini, insyaallah, tergantung pada upaya kita menyambut kedatangannya, maksimal atau kah tidak.

“Ramadhan tahun ini insyaallah akan menjadi Ramadhan kita ya untuk pertama kalinya,” ungkap salah seorang teman yang sama-sama baru merasakan tinggal di negeri  Mesir.

Benar. Penulis pun merasakan bahwa ada banyak sekali perbedaan yang dialami. Terlebih Bulan Ramadhan bertepatan dengan waktunya musim panas. Bisa dibayangkan bagaimana panasnya wilayah Timur Tengah yang hanya dikelilingi hamparan padang pasir tanpa pepohonan nan hijau seperti yang Allah Subhanahu Wata’ala anugerahkan untuk negeri pertiwi, Indonesia tercinta.

Musim panas di Negeri Seribu Menara ini, ketika pucaknya bisa sampai 50o C dan juga waktu siang lebih panjang dibandingkan waktu malamnya. Sehingga waktu puasa pun akan lebih lama. Itulah mengapa, bagikita (penulis) dan teman-teman di tahun-tahun pertama tinggal di negeri Timur Tengah harus lebih ekstra untuk mempersiapkannya.

Di bulan Sya’ban ini sudah harus banyak berlatih sehingga akan menjadi terbiasa ketika tamu agung, Ramadhan,nanti datang. Hal semacamini pun sebenarnya tidak hanya bagi yang tinggaldi Timur Tengah, yaitu membiasakan diri berlatih dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban yang pahalanya sangat besar di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala.

So, sebenarnya bagaimana caranya agar kita menyambut tamu agung ini agar tidak terlewatkan dengan penyesalan?

Pertama, di pertengahan bulanSya’ban yang mulia ini kita memohon ampunan kepada Allah dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin dan memperbanyak puasa di dalamnya.

Ummul mukminin, Aisyahra menuturkan:

ما رايت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر الا رمضان وما رايته أكثر صياما منه في شعبان

 “Aku tidak melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan dan aku tidak melihat beliau lebih banyak berpuasa dibandingkan dengan di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari Muslim)

Tidak melenakan apalagi menganggap bulan ini yakni bulan Sya’ban sama seperti bulan-bulan lainnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, para sahabat dan salafush shalih di zamannya. 

“Ya Allah, serahkanlah aku kepada Ramadhan dan serahkan Ramadhan kepadaku dan Engkau menerimanya kepadaku dengan kerelaan.” Dan juga seperti do’a yang sering kita lantunkan: 

“Ya Allah, rahmati kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami kepada Bulan Ramadhan.”

Kedua, menunaikan kewajiban puasa di tahun lalu jika ada yang ditinggalkan karena sebab syar’i yang membuatnya meninggalkan puasa, semisal sakit, safar. Dan tidak hanya itu, kita juga melihat kembali apa saja yang kurang di Bulan Ramadhan tahun yang lalu. Dengannya kita akan memuhasabah dan tidak akan mengulangi kembali di Ramadhan tahun ini. Senantiasa menanamkan dalam hati bahwa Ramadhan adalah momen spesial bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, muraqabah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Membaca Al-Qur’annya semakin ditingkatkan karena pahalanya akan dilipatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga Allah Subhanahu Wata’ala menurunkan kepadanya rahmat. 

Ketiga, yaitu mempersiapkan bekal ilmu terlebih tentang fiqh puasa. Sebab dengan ilmu maka amal yang kita lakukan akan terjaga. Seperti yang disampaikan oleh Muadz bin Jabal bahwa: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah.”

Selanjutnya yaitu mempersiapkan jiwa. Maksudnya adalah persiapan lahir dan batin dalam melaksanakan ibadah di Bulan Ramadhan dengan penuh ketaatan dan keikhlasan karena Allah Subhanahu Wata’ala. Mengapa demikian. Hal ini karena di saat puasa tentu akan banyak sekali godaan yang bisa membuat seseorang batal puasanya. Tidak hanya karena makan atau pun minum. Akan tetapi hal-hal seperti menjaga lisan dan perbuatan dari yang diharamkan. Sebab sebenarnya hal itu juga membuat seseorang yang berpuasa tidak akan mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu Wata’ala selain dari rasa haus dan lapar semata. Naudzubillah min dzalik.* (artikel hidayatullah)

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR