Berpasrah Diri dan Tawakal pada Allah

0
176

Oleh: Ali Abdullah (dari bukunya Galau Secukupnya Move On Secepatnya)

AL-QUR’AN ataupun hadits Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam yang menjadi sumber hukum dan pedoman tersepakati dalam Islam, dibahas berbagai hal tentang masalah kehidupan manusia. Lebih dari itu, kedua sumber hukum yang menjadi pedoman tersebut banyak berbicara terkait persoalan hidup demi kemaslahatan umat manusia.

Oleh karena itu, kita beruntung bisa memperoleh hidayah memeluk agama Islam. Kita menjadi makin beruntung jika kita mengamalkan ajaran agama Islam yang penuh dengan ajaran kasih sayang dan kebajikan tersebut.

Secara akidah, Islam mengajarkan tentang tauhid, yakni bertuhan dengan satu Tuhan. Ketika agama lain mengajarkan banyak tuhan, Islam hanya mengajarkan tentang satu Tuhan Yang Mahakuasa dan kekuasaan-Nya lebih dari segala tuhan yang ada. Meski demikian, Islam juga mengajarkan toleransi terhadap agama lain yang bertuhan lebih dari satu tuhan dengan ketentuan-ketentuan tertentu.

Islam tidak sekadar mengajarkan teologi, tetapi juga mengajarkan berkehidupan, baik secara individual maupun sosial, baik secara vertikal maupun horizontal. Oleh karena itu, jika kita mengamalkan ajaran Islam, kita bisa mengatasi segala permasalahan hidup dan memercayakan kepada Allah tentang segala ketentuan dan kehendak-Nya.

Galau? Apalagi sekadar galau, Islam memberikan ajaran-ajaran sebagai solusi kegalauan kita. Move on? Tentunya Islam mengajarkan kita move on yang sesuai dengan syariat demi maslahat. Di dalam al-Qur’an saja terdapat berbagai ayat motivasi untuk menggugah semangat berkehidupan. Di dalam beberapa riwayat hadits pun demikian, ada banyak riwayat yang matannya menguraikan motivasi yang memicu untuk tumbuhnya semangat.

Ketika kita galau karena suatu musibah atau masalah, Islam membawakan ajaran penting untuk move on. Lebih dari sekadar bisa move on, Islam juga menyisipkan sisi religiusitas agar kita juga mendalami keislaman serta sadar diri tentang keberadaan Allah.

Allah menegaskan dalam al-Qur’an:

(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS al-Baqarah [2] 156-157)

Dari ayat tersebut kita bisa memahami betapa al-Qur’an memberikan kita pedoman ketika kita menghadapi musibah atau masalah yang membuat kita galau. Cara move on yang diajarkan menurut ayat tersebut dengan mengucap lafal tarji’, sebagaimana tertera dalam ayat di atas, yakni:

Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.

Lafal tarji’ tersebut pada dasarnya bukan sekadar diucapkan, melainkan dihayati dan didalami maknanya. Dari pemaknaan lafal tarji’ tersebut, kita menyadari bahwa kita memang milik Allah dan hanya kepada Allah pula kita kembali. Dengan demikian, kita menjadi sadar bahwa kita hanyalah kecil dan tidak ada apa-apa dibandingkan Allah Yang Mahabesar. Lebih dari itu, karena kita milik Allah dan segalanya juga milik-Nya, kita akan kembali kepada-Nya ketika diminta.

Islam mengajarkan cara move on dari galau yang demikian. Oleh karenanya, selain kita bisamove on, kita juga makin sadar diri bahwa kita memang tidak berhak atas segala sesuatu, kecuali hanya karena izin Allah. Ketika kita move on dengan cara yang demikian, kita akan makin meyakini bahwa Allah Mahakuasa dan Mahaada. Untuk itu, kita menjadi bergantung kepada Allah dan memang hanya kepada-Nya kita bergantung.

Selain itu, ayat tersebut juga mengajarkan kita tentang tawakal dan kepasrahan. Artinya, jika kita menginginkan sesuatu, kita harus berusaha dan mengiringinya dengan doa. Yang penting, kita telah melakukan usaha dan doa, selebihnya kita pasrahkan kepada Allah. Dengan demikian, hal itu menjadi sangat logis dan masuk akal.

Tetapi Islam tidak mengajarkan kepasrahan belaka tanpa usaha. Misalkan, kita ingin kaya, tetapi kita tidak berusaha (bekerja dengan sungguh-sungguh) untuk menjadi orang kaya dan kita juga enggan berdoa kepada Allah, kecuali hanya pasrah, nah semacam ini penyimpangan nyata. Islam tidak mengajarkan seperti itu. Islam mengajarkan kita agar mau bekerja dan berdoa serta memasrahkan hasilnya kepada Allah.

Saat menjalani hidup justru kita menemui musibah atau masalah yang bikin galau, kita sepenuhnya sadar bahwa Allah memang berada di balik semua hal yang terjadi. Semua pasti ada hikmahnya dan kita tinggal mengucapkan lafal tarji’ yang kita sertai dengan pemaknaan lafal tersebut secara khusyuk. Setelah itu, move on lagi kemudian berusaha dan berdoa. Selebihnya, kita pasrahkan kepada Allah. Itulah tawakal dan kepasrahan yang diajarkan oleh agama kita, Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR