Taubat Obat Segala Khilaf

0
316

Oleh  : H. Rachmat Muhammad Soji Lc., MA.
(Pimpinan Pondok Pesantren Bina Insan Madani Sukabumi Jawa Barat)

beritalangitan.com – Abu Sa’id al-Khudri ¬–radhiyahu ‘anhu- pernah bercerita, bahwa beliau pernah mendengar sebuah kisah langsung dari Rasulullah, Sallallahu Alaihi Wasallam., bahwasanya, pada zaman dahulu, ada seorang laki-laki yang dikenal bengal, sampai dia pernah membunuh 99 orang manusia secara zhalim. Namun, kemudian dia tersadar ingin kembali kepada Allah, dan dia mencari orang yang paling ‘alim dimasa itu, dan ditunjukanlah ia kepada seorang laki-laki ‘alim, dan ia pun mendatanginya lalu bertanya, wahai sang ‘alim, Aku banyak dosa, aku sudah membunuh 99 orang tanpa hak.

Apakah aku punya kesempatan bertaubat? Sang alim terheran, dia mengatakan dengan penuh kaget, 99 orang? Melihat sikap sang alim yang menunjukan tidak mungkin dia bertaubat, sang laki-laki itu lalu menghunus pedangnya dengan penuh kecewa, dia bunuh sang ‘alim itu., sehingga sempurnalah pembunuhannya menjadi 100 orang.

Ternyata, keinginannya untuk taubat sangat kuat, dan dia mencari lagi orang yang paling ‘alim yang bisa membimbingnya untuk taubat, dan ditunjukanlah ia kepada laki-laki lain.

Sesampainya dirumah orang ‘alim baru ini, ia bertanya dengan penuh kecewa tentang perilaku yang sudah dia lakukan, wahai ‘alim, Aku sudah membunuh 100 orang tanpa hak. Apakah Aku bisa bertaubat? Sang ‘alim dengan penuh keyakinan, menjawab, memang siapa yang akan menghalangi taubatmu? Bisa, tentu saja sangat bisa, jawab sang ‘alim tegas. Pergilah kamu jauh dari lingkunganmu yang kotor dan datanglah kamu ke kampung yang baik disana, dan beribadahlah kamu disana.

Singkat cerita, sang lelaki bergegas pergi menuju kampung yang ditunjukan sang ‘alim. Ternyata, takdir bercerita lain, ditengah perjalanan, dia dipanggil oleh Allah, dan dia wafat.

Rasulullah melanjutkan kisahnya, datanglah malaikat siksa dan malaikat rahmat. Masing-masing mengklaim bahwa dia paling berhak mengambil roh sang laki-laki ini. Malaikat azab beralasan, bahwa orang ini selama hidupya tidak pernah beribadah dengan baik, masa hidupnya dihabiskan dengan maksiat, sehingga dialah yang berhak menjemputnya menuju siksaan alam barzakh dan siksaan akhirat.

Sedangkan malaikat rahmat berargumen bahwa orang ini sudah melangkah dalam perjalanan taubat, walaupun taubatnya belum, tapi kesungguhannya sudah cukup menjadi alasan dia mendapat ridho Allah.

Berdebatlah kedua malaikat ini, dan datanglah satu malaikat yang diutus oleh Allah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Malaikat ini berkata, ukur saja kesebelah mana dia lebih dekat, maka itulah kedudukannya. Lalu diukur jarak dari kampung yang ia tinggalkan sampai tempat dia meninggal dan dari situ ke kampung yang dia tuju, ternyata lebih dekat ke tujuannya, akhirnya dibawalah dia -seorang yang pernah melakukan pembunuhan 100 orang tanpa hak-, oleh malaikat rahmat menuju ampunan dan kasih-sayang Allah. (H.R. Imam Muslim)

Para pembaca yang budiman, kisah diatas cukup menjadi motivasi dan harapan bagi kita, yang tentu saja sering terperosok, terpedaya setan, terdorong hawa nafsu, dan gagal mengendalikan diri, bahwa pintu taubat selalu terbuka, sampai nyawa berada dalam tenggoran (sekarat), atau matahari terbit dari sebelah barat.

Ketahuilah, bahwa luput dari kekhilafan dan kesalahan adalah mustahil, karena itu hanyalah sifat malaikat dan bukan sifat manusia. Sedangkan, terperosok kedalam jurang kesalahan dan dosa adalah sifat manusia biasa. Namun terus-menerus dalam kubangan dosa dan tidak mau kembali kepada Allah adalah sifat setan.

Manusia bisa berusaha secara maksimal mendekati sifat malaikat, tapi tidak bisa menjadi malaikat. Dan dilarang keras menyerupai sifat setan yang enggan untuk kembali disaat tersesat.

Manusia pertama yang mulia, nabi Adam, As., disurga, cukup menjadi renungan bagi kita, beliau nabi, disurga, tapi beliau terpeleset secara tidak sengaja oleh tipu daya setan. Maka apalagi kita, manusia biasa, didunia yang penuh fitnah dan godaan.

Nabi Adam, As., pernah bersalah, tapi kesalahannya tidak mengurangi derajat kenabian dan kedekatannya dengan Allah, karena ketika beliau diingatkan beliau segera insaf, segera sujud merengkuh, menyesal, menangis, dan berkomitmen tidak akan kembali lagi. Allah pun memberikan ampunan dan kasih-sayang-Nya.

Sedangkan iblis, ketika terperosok dan diingatkan oleh Allah, malah dengan sombong dia berkata, “Ya Tuhan, berikan aku umur yang panjang, agar aku bisa menggoda sebanyak mungkin anak Adam, agar menemaniku di neraka”.

Ketahuilah, bahwa Allah lebih suka manusia yang berdosa tapi rengkuh sujud mengaku kesalahannya, rapuh hatinya, kembali dan bertaubat, dibanding orang yang ibadah kepada Allah, lalu ia bangga, kagum, sombong dengan kebaikannya.

Inilah artinya bahwa “Allah bersama orang-orang yang hancur hatinya”. Inilah juga artinya,
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan (juga) mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya”.

Itulah maksud dari ungkapan salafussholih, “Tidak sedikit dosa yang bisa mengantarkan pelakunya ke surga”.

Ibnu Athoillah pernah berkata, “Dosa yang menyebabkan kerendahan dan perasaan butuh kepada Allah, lebih baik daripada ketaatan yang menyebabkan perasaan bangga dan kesombongan”.

Oleh sebab itu, bertaubatlah, berhentilah, kembalilah, kapan saja kita bersalah, dimanapun kita khilaf, sebesar apapun dosanya. Jangan sekali-kali punya perasaan putus asa, jangan sekali-kali punya perasangka bahwa Allah tidak akan memaafkan. Kembalilah segera, jangan ditunda, jangan dinantikan, karena kita tidak tahu kapan usia kita akan berakhir.

Ingatkah, sesungguhnya tidak ada dosa besar, kalau berhenti dan tidak ada dosa kecil, kalau terus-menerus.

Wallahu A’lam *

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR