Apik adalah Sikap Berhati-hati Dalam Sesuatu Yang Belum Pasti

0
172

Oleh: H. Rachmat Muhammad Soji Lc., MA.

Al-marhum Prof. DR. Syekh, Muhammad Abu Sa’adat rahimahullah-, seorang guru besar pada jurusan akidah, Univ. Al-Azhar Cairo, yang dikenal sangat ramah dan penuh keadaban, pernah bercerita sebuah kisah menyentuh dalam sebuah kuliah khusus pasca sarjana:

Alkisah, imam Abu Hamid al-Gazaliy rahimahullah-, Beliau adalah al-Imam, al-Bahr, Hujjatul Islam, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, al-Ghazaliy seorang ulama multi talenta yang sangat terkenal karena kehebatannya (450-505). Imam Al-Haromain, Beliau adalah imam besar, gurunya para ulama syafi’iyah, Dhiyauddin (Sumber cahaya agama), Abul Ma’aliy, Abdul Malik, bin Imam Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Juwainiy (419H-478H). al-Gazaliy Seringkali melihat sang guru, imam Al-Haromain seperti tertidur dan tak sadar di tengah-tengah beliau mengajar.

Imam Al-Ghazaliy penasaran melihat kejadian yang sering terulang dari guru kebanggaannya. Akhirnya, pada suatu ketika beliau memberanikan diri untuk menghampiri ulama yang punya gelar Imam al-Haromain (imam dua kota suci). Dengan penuh hormat dan ta’zhim beliau bertanya: Wahai baginda, apa gerangan yang terjadi pada tuan di saat mengajar kami, Engkau sering terlihat seperti tertidur dan tidak sadar, namun tak lama kemudian engkau terbangun lagi. Apa sebab dan apa obatnya tuan?

Mendengar pertanyaan dari seorang murid yang cerdas yang cinta kepada gurunya itu, sang imam termenung sejenak, lalu beliau berujar: “Wahai Ghazaliy, adapun obatnya sudah aku cari kemanapun, namun ternyata belum bisa sembuh. Sedangkan penyebabnya, suatu ketika disaat aku masih bayi di dalam buaian sang ibu. Ibuku pernah terkena sakit yang mengakibatkan beliau tidak bisa menyusuiku. Karena sayangnya seorang ibu, tentu tidak rela mendengar jeritan anak kesayangannya menangis karena mau menyusu. Akhirnya, tanpa sepengetahuan ayahku, beliau mencarikan tetangga yang sedang menyusui untuk bisa menggantikan beliau dalam menyusuiku.

Disaat aku sedang asik menyusu pada seorang ibu, tetangga dekat rumahku, datanglah ayahku (ayahnya adalah ulama besar yang apik; imam Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf). Dengan hormat beliau mengambilku dari pangkuan seorang ibu yang sedang menyusiku. Dan setelah ibu itu pulang, ayahku lalu menjepit ibu jari kakiku, sehingga aku menangis kesakitan dan memuntahkan seluruh ASI yang baru saja masuk dari ibu tadi.

Ibuku marah setengah terheran, beliau terperanjat bertanya: wahai suamiku, kenapa engkau melakukan semua ini? Ayahku menjawab: Tahukah engkau bahwa wanita tadi adalah istri dari seorang pedagang yang dikenal sering berbohong dalam dagangnya. Maka aku takut ASI ada pada istrinya mengalir dari harta yang haram.

Para pembaca yang budiman, inilah sikap wara’, apik dan hati-hati dari seorang ayah terhadap makanan keluarganya. Maka hasilnya, sang anak yang diberi makan dengan yang murni dan pasti halal menjadi seorang maestro yang tak tertandingi dalam kesalihan dan keilmuannya. Siapa yang tak kenal hebatnya imam al-Haromain di dalam literatur keislaman.

Hal yang sama pernah dilakukan oleh Abu bakar, ra., beliau pernah berusaha memuntahkan makanan dengan memasukan tangannya kedalam tenggorokan, sehingga beliau memuntahkan seluruh isi perutnya, setelah pembantunya bercerita bahwa ternyata, makanan yang beliau bawa dihasilakan dari usaha yang tidak halal; dengan cara mengelabui orang dengan perdukunan (Lihat sahih Bukhari).

As-Shiddiq mengatakan: Aku meninggalkan tujuh puluh pintu yang halal; karena takut terpeleset kepada yang haram. (Lihat ar-Risalah al-Qusyairiyah)

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, bercerita bahwa: suatu ketika aku pulang kerumah dan aku menemukan sebiji kurma tergeletak, tapi aku tidak berani memakannya, karena takut itu adalah kurma sedekah (karena beliau diharamkan memakan harta sedekah). (H.R. Bukhari).

Para pembaca yang dimuliakan Allah…
“ASI seorang ibu itu belum tentu mengalir dari rizki yang haram, tapi memungkinkan ia dari sana.

“Puluhan pintu halal yang ditinggalkan Abu Bakar, belum pasti mengantakan kepada yang haram, tetapi memungkin untuk itu, sehingga beliau tinggalkan.

“Sebiji kurma yang tergeletak di rumah Rasulullah tidak dipastikan kurma sedekah yang haram dimakan Nabi, Sallallahu Alaihi Wasallam, tapi memungkinkan ia dari sana.

Semuanya mereka tinggalkan karena kehati-hatian, keapikan, ke-wara’-an yang semestinya kita tiru dalam kehidupan kita.
“Apik artinya bukan sekedar meninggalkan yang haram, tetapi meninggalkan yang halal, karena takut terjerumus pada yang haram.

“Apik artinya bukan sekedar meninggalkan yang pasti bahayanya, tetapi meninggalkan yang memungkinkan ada bahayanya.

“Apik artinya bukan meninggalkan yang pasti haram, tetapi meninggalkan yang hati nurani kita meragukan kehalalannya.

“Apik artinya bukan hanya meninggalkan sesuatu yang dilarang, tetapi meninggalkan yang tidak dilarang karena tidak penting dan tidak berarti.

Larangan-larangan Allah laksana hutan lindung yang mempunyai tanah-tanah perbatasan, memang tanah perbatasan tidak termasuk tempat yang dilarang. Tetapi ketahuilah, siapa yang sudah berani mengembala di tanah perbatasan, maka suatu saat ia akan terperosok kehutan larangan itu. Wallahu A’lam.

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR