Bersyukur: Pintu Kenikmatan

0
293

Oleh : KH. Rachmat Muhammad Soji, Lc., MA (Pimpinan Pondok Pesantren Bina Insan Madani Sukabumi Jawa Barat)

“Orang yang tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, pasti tidak mensyukuri nikmat yang banyak. Dan orang yang tidak bersyukur kepada manusia, pasti tidak bersyukur kepada Allah,…” (H.R. Imam Muslim)

Dalam kitab ar-Risalahnya, imam al-Qusyairi menuturkan sebuah kisah yang sangat menyentuh hati.

Imam ‘Atho pernah berkisah, bahwa aku dan ‘Ubaid bin ‘Umair pernah bertamu kepada Ummul Mukminin, Bunda tercinta, A’isyah r.a. Aku bertanya kepada beliau, Bunda, ceritakan pada kami kisah paling berkesan selama bersama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam?
Bunda ‘Aisyah tibah-tiba menangis terisak-isak, lalu beliau berkata, memangnya ada perilaku Baginda yang tidak menakjubkan dan mengesankan? Tapi yang paling berkesan bagiku, suatu malam beliau tidur bersamaku dalam satu selimut, kulitnya langsung bersentuhan dengan kulitku, sambil mendekap beliau berbisik ditelingaku, “Wahai putri Abu Bakar! Izinkan Aku untuk beribadah pada Tuhanku?” lalu aku jawab, Ya Rasulullah, aku ingin dekat denganmu. Dan akhirnya aku izinkan.

Kemudian beliau berdiri dan pergi mengambil bejana tempat air wudhu, lalu beliau berwuhu dan menyempurnakan wudhunya. Kemudian beliau shalat dengan penuh khusyu’, lalu beliau menangis, terlihat air matanya mengalir sampai ke dada beliau. Lalu beliau ruku dan beliau menangis sambil ruku, beliau I’tidal dan beliau menangis, beliau sujud dan beliau menangis dan beliau berdiri lagi dan beliau menangis. Demikian beliau terus shalat sambil bercucuran air mata, sampai terdengar Bilal, r.a mengumandangkan adzan. Kemudian aku berdiri mengahampiri baginda sambil aku Tanya, “Ya Rasullullah, apa yang membuat kau terus menangis, padahal engkau telah dimaafkan seluruh dosa yang lalu dan dosa yang akan datang?” Beliau menjawab, “tidakah aku menjadi hamba yang bersyukur atas semua itu? Dan bagaimana aku tidak menangis, padahal telah diturunkan padaku ayat”

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran : 190)

Saudaraku yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, demikianlah keteladanan tentang bersyukur. Sebuah perasaan yang sangat sensitif menyikapi segala nikmat dan anugerah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebuah sikap yang sangat positif thingking, sikap yang selalu melihat taburan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tak terhitung.

Sebuah cara pandang yang membuat terlupa dengan segala kesulitan dunia.

Bagaimana tajamnya perasaan kesyukuran beliau, sehingga beliau bisa melupakan kesulitan-kesulitan hidup sehari-hari.

Bukankah beliau yang sering dapurnya tidak mengepul asap sampai tiga hari, karena tidak ada makanan?

Bukankah beliau seringkali dipagi hari bertanya kepada isterinya, adakah makanan sarapan pagi ini, kalau dijawab tidak ada beliau lalu bilang, kalau begitu aku akan berpuasa.

Bukankah beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu, karena lapar?

Bukankah beliau pernah ditemukan sahabat terdekatnya shalat sambil duduk, dan ketika ditanya kenapa engkau shalat sambil duduk? Beliau menjawab aku tidak kuat berdiri, karena lapar.

Bukankah beliau pernah berdarah-darah dalam sebuah pertempuran?

Bukankah beliau banyak mengalami tekanan dan kesulitan dari masyarakat lingkungannya?

Beliau pernah dilempari kotoran, dilempari batu kerikil, dituduh gila dan tidak normal.

Tapi, beliau menghadapkan wajahnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan penuh kesyukuran. Hatinya merunduk merasakan hadirnya jutaan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala . Fisiknya tersungkur tawadhu atas anugerah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketika futuh mekah beliau menundukan kepalanya sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Prakteknya, beliau shalat sampai kakinya bengkak-bengkak, beliau puasa, beliau bahagia dengan kondisi apapun, karena selalu melihat nikmat dan menghadirkan anugerah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Saudarku, agar kita bisa bahagia, maka perlu sikap bersyukur, sikap syukur adalah sikap yang paling bijak, sikap yang paling penuh hikmah, sikap yang akan membuat kita bahagia. Inilah yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala wasiatkan kepada sayyidina Lukman al-Hakim,

Dan sungguh, telah kami berikan Hikmah kepada Lukman, yaitu “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri: dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (QS. Luqman : 12)

Bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berarti bersyukur kepada diri sendiri, berarti menghargai diri sendiri, berarti terhindar dari tekanan pesimis, tidak Percaya Diri, merasa rendah dan hina, berarti merasa indah, merasa optimis, akhirnya sehat, giat, dan ujungnya pasti bertambah nikmat. Sebaliknya, tidak bersyukur, berarti tidak merasakan hadirnya nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berarti menghadirkan pesimis, perasaan hina, nista, akhirnya malas, tersiksa, tidak Percaya Diri, tertekan, dan ujungnya, sakit, stress, dan akibatnya celaka dunia dan akhirat. Na’uzubillah min zalik.

Saudaraku, untuk bersyukur, tidak perlu menunggu banyak, tidak perlu menunggu yang besar, karena tidak ada nikmat yang sedikit, tidak ada nikmat yang kecil. Bayangkan jika kita tidak menyukuri sehatnya badan kita, dan kita akan bersyukur jika uang kita sudah banyak. Lalu apalah artinya jika uang kita banyak, namun badan kita terkapar sakit, apalagi penyakit yang diderita membuat kita banyak makanan yang tidak boleh dimakan. Maka apalah artinya uang banyak saat itu, kecuali hanya untuk hilir mudik dari rumah sakit dan apotek, antara dokter dan ahli pengobatan.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, bersabda “Siapa yang tidak bersyukur atas nikmat yang sedikit, pasti tidak akan bersyukur atas nikmat yang banyak….” (H.R. Imam Ahmad)

Saudaraku, menyadari seluruh nikmat datang dan hadir hanya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak membuat kita tidak berterimakasih kepada manusia yang menjadi jalan datangnya nikmat tersebut. Justru ucapan terimakasih dan penghargaan yang kita berikan kepada orang yang menjadi jalan datangnya nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah bagian dari syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Orang yang tidak pernah bersyukur kepada manusia, pasti tidak akan bersyukur kepada Allah” (H.R. Imam Ahmad).

Maka rasakanlah hadirnya jutaan nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada diri kita, ucapkan dengan lisan ungkapan pujian kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, lalu gunakanlah nikmat itu dalam ibadah, niscaya kita menjadi hamba yang bersyukur dan bahagia, nikmat dan ditambah.

Imam al-Harowy, mengklasifikasikan tiga kelompok manusia dalam bersyukur;

Pertama, orang yang bersyukur karena ada yang yang dia sukai dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk dirinya, derajat syukur ini adalah syukurnya orang awam, bukan saja orang muslim, tetapi orang Yahudi dan Nasrani, bahkan Majusi pun bisa;

Kedua, orang yang bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas kesulitan yang datang, karena akan membawa pahala. Ini adalah orang-orang istimewa yang sudah bisa ridho dengan segala kejadian takdir;

Ketiga, orang-orang yang pandangan dan perhatiannya hanya melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Sang pemberi kenikmatan, baginya tidak ada bedanya antara nikmat dan musibah.

Semoga kita bisa berlatih menjadi hamba-hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bersyukur. Amin. *

Waallahu A’lam.

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR