Dengan Ridho Semuanya Menjadi Indah

0
306

Oleh H. Rachmat Soji, Lc. MA.

beritalangitan.com – Alkisah, Sayyiduna, Sa’ad bin Abi Waqosh, Satu diantara sepuluh sahabat yang dikabarkan jaminan masuk sorga (al-‘Asyaroh al-Mubassyaruuna bil jannah), seorang sahabat yang pernah meminta izin kepada Baginda Rasulullah, SAW.,  untuk mewasiatkan seluruh hartanya dijalan Allah (sabilillah).  Diakhir hidupnya beliau diuji dengan ujian buta, ujian yang menurut mayoritas orang sangat membebani kehidupan. Dalam keadaan tidak melihat, beliau  berkunjung ke kota Mekah. Karena kesalihannya, beliau dikenal sebagai orang yang selalu dikabulkan doanya oleh Allah, SWT. Orang-orang Mekah yang mengetahui kedatangan beliau, langsung berbondong-bondong untuk mengadukan berbagai permasalahannya. Ada yang meminta doa agar sembuh dari penyakit. Ada yang meminta doa diberi solusi dari kesulitan yang melilitnya. Sehingga beliau sibuk sekali mendoakan ini dan mendoakan itu. Kemudian mereka diberikan kesembuhan dan solusi dari permasalahannya masing-masing.

Melihat kejadian ini, seseorang yang bernama Abdullah bin Abi As-Saib datang dengan penuh keheranan, seraya berkata, wahai tuan, Engkau terus-menerus mendoakan orang lain, sedangkan Engkau sendiri buta. Tidakah Engkau berdoa untuk dirimu sendiri sehingga Engkau bisa melihat dan normal kembali?

Mendengar pertanyaan ini, Sayyiduna, Sa’ad bin Abi Waqosh tersenyum manis tanpa beban. Nak! Ujar beliau lembut. “Takdir Allah yang ada pada diriku, lebih baik daripada penglihatanku”.

Subhanallah, inilah mungkin salah satu yang membuat beliau masuk dalam deretan sepuluh orang teristimewa, sudah dikabarkan dengan jaminan masuk sorga.

Seseorang yang keimanan dan keyakinannya sudah masuk merasuk kehati sanubari. Keimanan yang melahirkan sikap selalu husnuzzhan kepada Allah, kemantapan selalu terhunjam didalam jiwanya, bahwa dalam semua yang Allah takdirkan ada kebaikan yang tersimpan.

Keyakinan yang digambarkan Baginda  dalam sabda-Nya,

“Sesungguhnya Allah, SWT., melindungi hambanya yang mukmin dari dunia, padahal ia sangat mencintainya, seperti kalian melindungi orang sakit dari kalian dari makanan dan minuman, karena kalian takut ia bahaya”. (H.R. Imam Ahmad & Imam Hakim)

Saudara-saudari seiman, mari kita relakan semua yang terjadi pada diri kita, karena itu bagian dari keridhoan kita atas ketuhanan Allah. Kita rela atas nasib dan bagian kita, postur tubuh kita, warna kulit kita, corak wajah kita, jenis rambut kita, kedudukan dan posisi kita, pekerjaan kita, pasanga hidup kita, anak dan orang tua kita, tetangga dan saudara-saudara kita, kekurangan fisik kita. Kita relakan masa lalu kita yang mungkin mengecewakan kita, kita relakan masa sekarang kita yang mungkin tidak memuaskan kita, kita relakan masa yang akan datang kita. sudah, biarkan masa lalu menjadi bagian dari kehidupan kita, maafkan diri kita, dan minta maaflah kepada Allah. Nikmati hari ini dengan berbagai kekurangannya.

Kita merelakan semua ini, bukan karena apa-apa, tetapi bagian dari keridhoan kita atas ke-Rububiyah-an Allah, atas ketentuan-Nya, atas pembagian-Nya, atas keinginanan-Nya.

“Lezatnya nikmat iman akan dirasakan oleh orang yang rela atas ketuhanan Allah (termasuk takdir-Nya), rela atas agama Islam (sebagai pengatur cara hidupnya) dan rela dengan kerasulan sayyidina Muhammad (sebagai teladan)”. (H.R. Imam Tirmizy)

Cukup alasan untuk kita ridho  dan rela atas segala kenyataan hidup:

  • Karena ia bukan kebetulan, tapi yakin bagian dari takdir Allah.

Demi Allah, tidak ada kejadian yang diluar izin Allah. Semuanya sudah termaktub jelas.

“22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (QS. Al Hadid:22-23)

  • Tidak mungkin kita hindari karena sudah atau kita alami, yang mungkin adalah berusaha sekuat tenaga merubahnya untuk masa yang akan datang.

Jika nasi sudah jadi bubur, maka tidak mungkin mengembalikannya lagi menjadi nasi. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana memanfaatkan bubur itu agar menjadi pahala.

  • Pasti ada kebaikan, jika kita mampu mengambil pelajaran.

Jika orang buta berfikir tentang bahaya dan dosa mata, juga hisabannya nanti diakhirat, niscaya dia akan ridho dengan kondisinya.

Jika orang yang sedikit hartanya tahu beratnya hisaban dan ketidakpastiannya untuk menggunakan harta dalam ibadah, pasti dia rela dengan kondisi sekarang.

“216.  Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)

Yakinlah bahwa Allah Mahatahu apa yang baik bagi kita dibanding kita sendiri.

Bukankah seringkali kita menginginkan sesuatu yang bahaya bagi diri, yang jika tanpa bimbingan illahi kita akan melakukannya? Minuman keras, perzinahan dan perjudian adalah contoh kecil paling nyata.

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR