Kenakalan Kita Wujud Penghambaan Temporer

0
737
Dodo Aliyul Murtadlo

[Sekjen Imaamal Muttaqin Generations /IMG, sekretaris Ma’hadul ‘Aly Miftahul Huda]

Beritalangitan.com – Sudahkah anda Sholat Shubuh hari ini?, pertanyaan krusial ini sering dianggap sederhana oleh kita sebagai seorang Hamba.

Sholat sebagai indikator sikap kehambaan manusia kepada Alloh sering dianggap ritual biasa saja, lima kali dalam sehari ruh dan jasad kita wajib ‘sowan’ kepada Sang Pencipta.

Padahal lebih dari itu, sholat Adalah tolak ukur Kedekatan Hamba dengan Pencipta, bahkan kearifan manusia dalam melakukan interaksi sosial bisa dinilai dari sholat yang dia lakukan. Baik tidaknya kita mengelola hidup dan kehidupan antar personal Manusia dalam ekonomi, politik, sosial dan budaya, bisa dianalogikan dengan sholatnya.

Lacurnya adalah ketika kita khusu manghamba dalam sholat tapi Bobrok diluar sholat, air mata berderai bercucuran disaat khusyu’ memanjatkan do’a kepada-Nya, setelah itu kita mencaci, menghina, dan berbuat semena mena kepada sesama hingga derai tangis menggema karena ulah kita.

Tragis sekali cara kita memposisikan Alloh kalau hanya dalam sholat saja, sementara diluar sholat Alloh bukan apa apa dan bukan siapa siapa bahkan kita anggap Dia tidak Ada. Padahal kemanapun kita menghadap, dimanapun kita menetap, kapanpun kita bersikap, disanalah ‘wajhullooh’. Taklif dan Wadlo’ -Nya mengikat menjdi dogma bagi seluruh hamba.

Kenakalan kita kepada Alloh bisa berawal dari salah faham, gagal faham atau faham salah terhadap wadl’un ilaahiyyun [undang undang Alloh], memahami islam hanya tekstual saja [itupun hanya sebagian saja], tidak menyelami islam dalam wilayah kontekstual dalam ranah yang lebih umum dan berkaitan dengan Kita.

Di kantor Alloh tidak dianggap ada, disawah kita tidak merasa Hamba-Nya, dipasar Dia diabaikan entah dimana.

Puncak dari segalanya adalah dalam Takbir, Tasbih, Tahmid dan Tahlil dan dalam Dzikir kita Alloh tiada, kita Atheis dalam segala simbol Ketuhanan. Penghambaan yang semu, keimanan yang temporer dan Penghambaan yang membabi buta.

Haruskah kita ‘bertamasya’ keneraka sebelum bercengkrama disurga?

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR