Kursi Panas Aulia Jakarta, Kekhawatiran Santri Indonesia

0
1235
Dodo Aliyul Murtadlo, Sekjen Imaamal Muttaqin Generations (IMG)

Oleh : Dodo Aliyul Murtadlo

– Sekjen Imaamal Muttaqin Generations (IMG)

– Lulusan Ma’had ‘Aly Miftahul Huda

Beritalangitan.com – Kelegowoan Pribumi dengan menghapus kata ‘asli’ dalam undang undang pemilihan Pemimpin di Indonesia harus disikapi dengan bijak oleh dua pihak. Pribumi asli, itulah sikap ketimuran kita sebagai pribumi asli Indonésia yang cenderung menerima ‘siapapun’ asal manfaat, adil dan beradab. Pribumi ‘bukan asli’, sikap tepo seliro mawas diri atas kesempatan dan peluang untuk berbakti di Indonesia dengan cara berbaur dan adaptif dengan kultur, budaya dan agama yang ada, yang terpenting berakhlaq ketimuran.

Islam sendiri memberi peluang bagi non-muslim untuk berkiprah dalam trias politica baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Tapi tidak dalam wilayah dan kebijakan strategis dan mengurusi hajat hidup Muslimin. Tafsir dan sejarah mencatat keterlibatan non-muslim dalam wilayatul Islam, sekali lagi dalam hal non taktis dan non strategis.

Ahok wamaa asybaha dzaalika, salah satu contoh Kelegowoan Pribumi atas pendatang, kemurahan hati (tasaamuh) muslimin atas non-muslim, kedewasaan konstitusi dalam memerankan pribumi dan pendatang dalam membangun negeri. Polemik yang muncul berawal dari ketidak-etisan Ahok dalam beradaptasi dengan budaya timur. Dia menggusur, membuat biota laut hancur [dengan reklamasi], membuat tatanan kebhinekaan hancur lebur, menistakan norma ke-Islaman [isu Al-maidah] dan yang paling krusial membuat kursi ’empuk’ Gubernur menjadi kursi ‘panas’.

Wajar kalau Muslim berteriak, mata sipit masyarakat Tionghoa terbelalak. Karena seperti itulah konsekwensi kalau Al-Qur’an dengan segenap konstitusi sucinya dilanggar dan dimarginalkan. Masyarakat menuntut keadilan dan Sang Pengadil [Polri/Kejaksaan] harus memutuskan pelanggaran etika ini dengan rasa keadilan sesuai dengan Hukum yang ada. Ulama, Habaaib, Santriyyuun, Harokiyyuun sudah menempatkan dirinya masing-masing dalam Muqtadlol Maqom-nya. Ada yang bersuara lembut dengan Hikmahnya, ada yang berteriak keras dengan Manhajnya. Hal strategis adalah hindari tabrakan antara sesama ‘Bis Budiman’.

Kedepan, umat Islam harus lebih memahami Al-Qur’an, agar tidak gagal faham dan berujung salah faham. Jaga Marwah Ulama karena Merekalah pewaris Ajaran Para Anbiya. Imaamal Muttaqin Generations (IMG) sebagai Katalisator dan dinamisator antara ‘Alim dan ‘Awam yang ditugaskan oleh Miftahul Huda, harus tetap melaksanakan titah dan Amanat Ulama dan Membela kepentingan Masyarakat Awam.

Editor : Cv/Jm

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR