Memahami Agama Melalui Para ‘Ulama

0
438
Ustadz Kemal Faisal Ferik.

Oleh: Ust. Kemal Faisal Ferik (Pengasuh Majlis Komunitas Cinta Ilahi)

Beritalangitan.com – Memahami agama melalui pemahaman para ulama menjadi tradisi dan ciri dari mayoritas umat Islam ahlus sunnah wal jamaah di dunia termasuk di Indonesia. Oleh sebab itu, sudah hal yang biasa jika para santri di pesantren-pesantren mengkaji kitab-kitab karya ulama baik dalam masalah fiqih ibadah, tafsir, aqidah dan lain sebagainya. Sebut saja kitab fathul Muin, Safinah, Nihayatuz zain, Inatuh Tholibin, Fiqhus sunnah dalam bidang fiqih,،Kemudian tafsir ibnu katsir, al manar, Al Maroghi,  jalalain, Muroh labid, Durul mantsur dalam bidang tafsir, Aqidatul awam, Nuruzh Zholam, Tijan Durori , Fathul Majid, Utsul Tsalatsah, dalam bidang Aqidah. Dan tentunya masih banyak lagi.

Kemudian orang awam barangkali  bertanya kenapa beragama itu harus ikut ulama tidak langsung berpegang kepada Qur’an dan Hadits ? Bukankah pendapat ulama itu bukan dalil ? Kenapa harus susah – susah buka kitab ulama ? Tentunya mengikuti pandangan para ulama baik dari pandangan ulama dari kalangan para sahabat, tabiin, tabiut tabiin atau para ulama yang belajar pada mereka adalah metode kita agar apa yang kita pahami tentang agama ini sesuai dengan tuntunan dari Nabi.

Kita yang tidak pernah bertemu dengan nabi atau para sahabat tentu tidak akan tahu tentang bagaimana Nabi menjalankan syariat agama ini. Para ulama lah yang menjadi jembatan antara kita dengan Nabi Muhammad SAW. Maka oleh karena itu  mengikuti ulama itu adalah mengikuti para nabi.

Rasululah SAW bersabda : “Ulama itu adalah pewaris para nabi” (Shohih Ibnu Hibban, Juz 1 hal 289 hadits no 88, Karya ibnu Hibban dan beliau menshohihkannya, terbitan Muasasah Ar Risalah, Beirut ). Hadits ini dihasankan oleh Syu’aib al arnauth. Dalam riwayat lain disebutkan ulama itu adalah penggantinya para Nabi. (Jamius shogir karya Jalaludin suyuthi  juz 3 hal 191)

Kenapa kita harus mengikuti ulama tidak langsung Qur’an hadits saja ? banyak alasan yang harus kita ketahui. Pertama, Bahwa tidak setiap ayat Qur’an dan hadits yang bisa dipahami secara tekstual . Tekstual artinya memahami hanya dari redaksi (dhohir)  yang tertulis dalam Qur’an maupun hadits. Mari kita lihat Contoh- contoh berikut  :

Contoh pertama

Allah SWT berfirman dalam QS Al maidah ayat 6 :

{أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ} [المائدة: 6]

Arti terjemah Depag : atau kembali dari tempat buang air (kakus)

Kata “ Ghoith “ diartikan kakus padahal dalam bahasa arab kakus itu adalah hamam. Adapun arti ghoith sebenarnya adalah  tempat dengan tanah yang menurun. Ulama menafsirkan ghoith sebagai kakus sebagai buang hajat sebab kata ghoith disini adalah kata kiasan. (Lihat kitab syarah al waroqot oleh jalaludin Al mahali hal 8 sd 9)

Jika kita langsung memahami Qur’an tanpa pemahaman ulama karena dianggap penafsiran ulama mengubah makna Qur’an maka apa jadinya ?

Contoh kedua

Rasululah SAW ketika berdoa kepada Allah SWT dengan doa  sebagai berikut, ”Engkau Adz Dzohir tidak ada sesuatu pun di atasMu dan Engkau Al Batin yang tida ada sesuatupun di bawahMu..“ (HR Muslim dan Tirmidzi)

Dzohir artinya jelas nampak dan kebalikannya adalah al batin yang berarti tidak nampak. Jika dipahami secara tekstual (dhohiriyah) hal ini bertentangan di satu sisi Allah itu nampak di sisi lain Allah itu tidak nampak. Lalu yang benar yang mana ? Maka jika berpegang pada hadits saja tidak cukup tanpa pemahaman dan penjelasan dari ulama.

Contoh ketiga

Rasululah Saw bersabda  :

”..Jika salah seorang dari kalian mengerjakan sholat maka jangan biarkan seorang pun lewat di depannya jika ada yang lewat maka cegahlah jika tetap tidak menurut maka bunuhlah karena dia adalah syaithon.. “. (HR Muslim, Bukhori dan lainnya dengan redaksi muslim)

Jika kita sholat kemudian ada anak orang lain lalu lalang di depan dan anak tersebut tidak menurut manakala kita cegah,  kemudian apakah kita mau membunuhnya  dengan alasan menegakkan sunnah ? Bukankah secara tekstual Rasul menyuruh kita membunuh ? Jika memahami hadits ini tanpa pemahaman ulama maka jadilah kita  pelaku radikalisme yang mengatasnamakan agama.

Menurut ulama, seperti Imam syafii, maksud  kata “bunuhlah ” di sini bukan berarti membunuh akan tetapi mencegah lebih keras. Apakah ulama mengubah  ajaran nabi ? Tentu tidak. Justru,  ulama menetapkan apa yang dimaksud dengan perkataan nabi sesuai dengan yang diajarkan oleh nabi itu sendiri.

Contoh keempat

Sahabat Ibnu Abbas ra :

“..Rasululah SAW melarang memakan bintang yang bertaring dari hewan pemangsa( buas ) dan burung yang bercakar..” (Shohih Muslim Juz 3 hal 1534 hadits no 1934, terbitan Dar Ihya at Turots Al arobi, Beirut)

Tanpa penafsiran ulama maka kita akan menjadikan dalil ini sebagai dalil yang mengharamkan ayam dan bebek seperti yang dipahami sebagian orang di jaman.

Kedua, Meskipun  hadits shohih itu belum tentu bisa diamalkan. Contoh, Rasululah SAW bersabda : shalat batal dikarenakan wanita, keledai dan anjing hitam “ (HR. Muslim)

Hadits ini meskipun shohih tapi mansukh yang artinya sudah tidak berlaku dan tidak mesti diamalkan. Nah, untuk mengetahui suatu nash itu kandungan hukumnya masih berlaku atau  tidak tentunya dari penjelasan para ulama.

Ketiga, Meskipun ada Hadits tetapi terkadang redaksinya ada kata-kata yang asing bagi orang arab sekalipun sehingga perlu penjelasan ulama untuk mengetahui maknanya.

Keempat, Isi hadits itu terkadang saling bertentangan. Tentu ini akan sangat membingungkan bagi orang awam  dimana dengan kaidah-kaidah yang disusun oleh para ulama lah kita dapat memahami serta dapat mengambil hukum dari hadits – hadits tersebut dengan benar.

Sufyan bin uyainiyah, ahli hadits yang merupakan gurunya imam syafii mengatakan “Hadits itu dapat menyesatkan kecuali bagi para ahli fiqih.” (Ibnu Hajar al-Haitami w. 974 H, al-Fatawa al-Haditsiah, h. 202).

Adanya dalil berupa hadits bukan berarti langsung bisa diambil hukumnya sebab harus melihat kaidah-kaidah fiqih. Ahli hadits, Ibnu Wahhab mengatakan, “setiap ahli hadits dan tidak memiliki Imam dalam fiqih maka dia akan sesat dan jikalau Allah tidak menolong aku dengan Imam Malik dan Al laits maka pasti akupun tersesat.”

Mengikuti ulama bukan berarti menutup sama sekali pintu ijtihad. Justru dengan mengikuti kaidah-kaidah yang dijelaskan oleh para ulama kita disana akan mampu meniti tangga menuju mujtahid. Dari sinilah akan terbuka bagaimana luas dan luwesnya ajaran Islam yang tak akan pernah lekang oleh jaman dan tak akan pernah mati oleh waktu. Ajaran Islam ibarat samudera ilmu yang kesempurnaannya  tak akan pernah habis jika terus dikaji dan digali.

Marilah kita kembali mengkaji karya ulama-ulama salaf agar kita terhindar dari berbagai paham-paham yang menyimpang dan cenderung radikal agar kita menjadi muslim yang rohmatan lil alamin.

Editor : Jm

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR