Mujahadah “Sebagai Kunci Kebahagiaan”

0
227

Oleh H. Rachmat Muhammad Soji, Lc., MA.

“Wahai Para Pejuang! Medan pertama perjuangan kalian adalah diri kalian masing-masing, jika kalian sudah bisa menaklukannya, maka musuh yang lain lebih mudah kalian taklukan. Tetapi jika kalian gagal menaklukannya, maka apalagi musuh yang lain, pasti lebih sulit”(Salafussholih)

Para pembaca yang berjuang, –rahimakumullah-, sesungguhnya cita-cita dan harapan kita yang tinggi, baik di dunia maupun di akhirat, tidak mungkin kita gapai tanpa sebuah perjuangan dan kerja keras, tanpa mengerahkan segenap keilmuan dan seluruh kekuatan. Karena kalau tidak demikian, niscaya tidak akan ada orang yang gagal dimuka bumi ini, dan sebaliknya apabila tidak kerja keras, maka kita cukup berkhayal, lalu selesai sudah tercapai apa yang diinginkan.

Tidak! Sekali lagi tidak! Semuanya perlu usaha yang keras dan kerja cerdas. Inilah yang dalam bahasa agama disebut Mujahadah.

Peliknya lagi, dalam meraih segala cita-cita dan keinginan, tantangan dan hambatan yang paling besar dan menjadi penentu kesuksesan atau kegagalan adalah diri kita sendiri. Apabila kita sukses melewati tantangan yang datang dari dalam diri kita, maka tantangan dari luar –sebesar apapun-, insyaAllah bisa diselesaikan. Tetapi jika tantangan dari diri kita belum bisa dilewati, maka tanpa hambatan dari luarpun, sudah bisa dipastikan kita gagal. Inilah makna dari ungkapan para salafussholih diatas.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan pentingnya kerja keras (mujahadah) dalam menggapai cita-cita kita. Allah akan terus memberikan ujian, sampai diketahui siapa yang kerja keras (lihat surat Muhmmad: 31). Jangan pernah membayangkan akan masuk surga begitu saja, sampai kalian mengerahkan segenap kemampuan (lihat surat Ali Imran: 142). Jangan pernah mengira kita dibiarkan tidak diuji dengan cobaan, sampai Allah mengetahui kesungguhan kita (lihat surat at-taubah: 16).

Para pembaca yang budiman, mari kita lihat, betapa banyak orang yang secara fisik mempunyai ‘kekurangan’ dibandingkan kita, tetapi tidak sedikit yang justru jauh lebih sukses dibandingkan kita. Sebagai contoh, di al-Azhar sana, banyak sekali guru besar bergelar professor yang justru tidak bisa melihat dengan kedua mata kepalanya, bahkan ada seorang professor –hafizhahullah- yang cacat kakinya, cacat tangannya, buta matanya.

Lebih mencolok lagi, mungkin diantara kita ada yang sering mendengar seorang pejuang legendaris di bumi Palestina yang sangat ditakuti oleh Israel; Syekh Ahmad Yasin, yang sudah duduk dikursi roda. Tapi berkat perjuangan beliaulah, kota Gaza sampai hari ini menjadi satu-satunya kota yang tidak bisa ditundukan oleh Zionis terlaknat.

Semua itu, karena mereka sudah mampu menaklukan diri (nafsu) mereka, sehingga mereka mampu menaklukan semua tantangan diluar diri mereka dengan mudah.

Oleh sebab itu, dalam rangka perjalanan dan usaha kita mencapai kebahagiaan dunia akhirat ini, taklukan dan lawanlah nafsu kita sendiri, sebelum kita menaklukan yang lainnya. Disaat kita mampu mengendalikan dan menaklukan diri kita, berarti kita telah mencapai kesuksesan sesungguhnya. Sebalinya, apabila kita gagal mengendalikannya, berarti kita gagal tiada bandingannya.

Inilah yang Allah tegaskan dalam surat asy-Syams: 9-10,

“Sungguh beruntung orang-orang yang menyucikannya (jiwanya itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”. (QS. asy-Syams : 9–10)

Dalam usaha menaklukan hawa nafsu ini, para ulama sudah membuat rumusan yang sederhana, tetapi berat dan perlu keseriusan dalam mengamalkannya, Imam Abul-Qosim, Abdul Karim bin Hauzan al-Qusyairi menuliskan dalam kitab ar-Risalahnya,

Ketahuilah, sesungguhnya prinsip dan kendali mujahadah adalah menahan nafsu dari segala yang diinginkannya dan memaksa nafsu terhadap hal-hal yang tidak disukainya secara umum”.

Penjabarannya dijelaskan hampir oleh mayoritas ulama ahli Tazkiyatunnafs, bahwa ada empat prinsip dasar dalam menaklukan nafsu (diri) kita ini:

  • Mengendalikan nafsu makan (mengatur kualitas dan kuantitas makan);
  • Mengendalikan nafsu tidur (mengatur kualitas dan kuantitas tidur);
  • Mengendalikan nafsu bicara (mengatur kualitas dan kuantitas pembicaraan);
  • Mengendalikan nafsu pergaulan (mengatur dan memilih teman serta lingkungan bergaul).

Demikian uraian singkat mengenai Mujahadah. Sekali lagi dalam menggapai cita-cita dan harapan kita yang tinggi di dunia maupun di akhirat, semuanya perlu usaha yang keras. Tidak cukup berkhayal saja, lalu selesai sudah tercapai apa yang diinginkan. Semoga Allah senantiasa selalu membimbing kita dalam menggapai RidhoNya, Amin.

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR