Dampak Serangan Roket Israel, Rumah Sakit Gaza Krisis Listrik

0
182
epa04343140 Nine-year-old Hanen Al-Bakri receives medical treatment at Al-Shifa hospital in Gaza City, 06 August 2014. Haneen and her sister Yassmin, 11, were injured when their mother and their sister Aseel, 8, were killed in an Israeli airstrike in Al-Shatea refugee camp on 04 August. Israel pulled its last soldiers out of the Gaza Strip on 05 August after four weeks of fighting, as a temporary truce went into effect aimed at giving the sides three days to negotiate a longer-term deal. The Israeli army said its ground troops had withdrawn to the Israeli side of the border, where they would remain on alert and respond to any attacks. EPA/MOHAMMED SABER ATTENTION EDITORS: PICTURE CONTAINS GRAPHIC CONTENT

Anak Gaza berusia sembilan tahun, Hanen Al Bakri, menerima perawatan di Rumah Sakit Al Shifa, Gaza, Palestina (Ilustrasi)

GAZA, 24/3 (beritalangitan.com) — Kementerian Kesehatan Palestina mengumumkan, keadaan darurat pada fasilitas kesehatan utama di Gaza, sehingga perlu untuk menghentikan memberikan pelayanan medis kritis. Sehubungan dengan hal tersebut, seperti dilansir Days of Palestine, Direktur Jenderal Departemen Kerja Sama Internasional, Ashraf abu-Mahady menyerukan, agar segera dilaksanakan pertemuan dengan Otoritas Energi dan Pembangkit Listrik Gaza, guna membahas kemungkinan menghindari terjadinya krisis listrik.

Samir Mteer, direktur Jenderal pembangkit listrik, mengatakan, bahwa sektor kesehatan adalah yang paling merasakan dampak dari tidak stabilnya ketersediaan listrik. Ia mendesak, organisasi kemanusiaan internasional agar segera membantu menyediakan kebutuhan bahan bakar. “Setidaknya, pada bidang-bidang yang sangat membutuhkan layanan mereka,” katanya, kemarin.

World Health Organisation (WHO), belum lama ini merilis laporan yang menggambarkan defisit bahan bakar. Laporan ini menyoroti dampak negatif jika berbagai pelayan khusus di rumah sakit Gaza berhenti beroperasi.

Dengan tegas dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa unit persalinan, gagal ginjal, ICU, laboratorium dan bank darah serta jantung, tidak boleh berhenti mendapatkan pasokan listrik, meski hanya semenit.

Dalam laporannya pula, WHO mengakui bahwa, “Sebanyak 14 rumah sakit di Gaza membutuhkan 430 ribu liter bahan bakar/bulan atau setara dengan  450 ribu dolar AS.”

Sementara itu, kekurangan bahan bakar yang berkelanjutan akan mengancam kehidupan pasien, memperburuk kondisi kesehatan dan menghasilkan dampak buruk yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR