Pesantren Assalafiyah Babakan Tipar Sukabumi “Menebar Berkah Dengan Kitab Ilmu”

2
1599

beritalangitan.com – Pesantren ini didirikan oleh KH. Abdullah Mahfudz, ia lahir pada tahun 1914 Masehi atau 1335 Hijriah di kampung Babakan Tipar Desa Cimahi Kecamatan Cantayan Kabupaten Sukabumi, beliau lahir dari pasangan H. Didi (alm) dengan Hj. Ruqiyah bin KH. Abdurrohim (alm), pasangan ini di karuniai 9 anak, 4 laki-laki dan 5 perempuan, sedangkan KH. Abdullah Mahfudz sendiri anak yang ke 3 dari 9 bersaudara tersebut.

DSC_0172

KH. Abdullah Mahfudz (alm)

Perjuangan KH. Abdullah Mahfudz dalam menimba ilmu di mulai tahun 1920, ketika itu beliau berusia 6 tahun yaitu dengan mengikuti pengajian di Muallimin H. Fahruroji Tipar dengan tuntasnya hafalan Al- Qur’an 30 juz. Kemudian beliau melanjutkan ke ponpes tipar pimpinan KH. Masthuro selama 6 tahun, nama KH. Abdullah Mahfudz pun merupakan pemberian dari gurunya yang tercinta KH. Masthuro.

Pada tahun 1927 beliau masuk sekolah SLA di kota Sukabumi yang tepat nya Jalan Kebon Cau, di bawah asuhan KH. Ahmad Juaeni setelah selesai disitu beliau mulai menimba ilmu keluar daerah sukabumi untuk pertama kalinya ke Ponpes Gentur Cianjur yang di pimpin oleh KH. Ahmad Syatibi (Mama Kaler) dan ke KH. Muhammad (Mama Kidul) selama 3 tahun. Lalu memperdalam ilmu shorof ke pesantren Sumur Garut pimpinan KH. Mahalli selama 2 tahun, lalu mengembara kembali ke Ponpes Cijerah Bandung dengan seorang teman nya KH. Izuddin Aljaswari Cisaat yang terkenal ahli dalam bidang ilmu mantiq, munadzoroh dan ahli nahwu selama 8 Bulan di bawah pimpinan KH. Suja’i.

Kemudian beliau melanjutkan bertualang di beberapa Pondok Pesantren di jawa Barat diantaranya di Keresek garut di KH. Busrol Karim, dipesantren cibunar garut, di Ponpes Gunung Kawung Tasik Malaya pimpinan KH. Abdul Fatah (Ulama yang bergelar si kamus ahli lughot), di Pesantren Gudang pimpinan KH. Suja’i, di Ponpes Sigong Cirebon asuhan KH. Abdul Manan (ahli hikmah), berguru kepada KH. Adra’i (seorang ulama ahli fiqih) di Ponpes Lewi dingding Cirebon, ketika beliau hendak pulang beliau sempatkan untuk berguru dulu ilmu faroidh ke Mama Banjar Fatroman.

Pada tahun 1939 KH. Abdullah Mahfudz mulai membuka Ponpes di kampung babakan tipar cisaat sukabumi atau yang dikenal dengan Ponpes Babakan, tetapi walaupun sudah menyandang gelar Kyai beliau selalu mencari ilmu dan sempat tabarruk ke ulama-ulama sepuh yang mansur di sukabumi seperti ke KH. Ahmad Sanusi pimpinan ponpes Cantayan yang sekarang Gunung Puyuh. Dan tabarruk ke KH. Hasan Basri babakan kaum Cicurug, serta tak lupa selalu hadir di majlis ilmu yang di asuh oleh ulama besar berasal dari Hadromaut Yaman yaitu Habib Syekh bin Salim Al-Atas.

KH. Abdullah Mahfudz menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 55 tahun, sebelum wafat beliau berwasiat agar para santrinya selalu mengikuti Ulama Salaf yang selalu teguh kepada Kitabullah dan Sunah Rasul, “Ulah kabawa sakaba-kaba, engke hirup di zaman kaharep, bakal loba bid’ah, pek cekel qaol ulama salaf ahlussunah wal jamaah”. (jangan mudah terbawa arus, nanti akan banyak muncul Bid’ah, harus selalu turut ulama salaf ahlussunah
waljamaah.Red)

DSC_0171

KH. Ahmad Makki

Tahun 1977 Pesantren Babakan Tipar oleh KH. Ahmad Makki (putera ke empat) dirubah namanya menjadi Pesantren Assalafiyah yang berdasarkan kepada pendapat para ulama yang dimuat dalam kitab Jauharut Tauhid. Dan selanjutnya Pesantren tersebut dipimpin oleh KH. Ahmad Makki dengan dibantu saudaranya yang lain, dibawah kepemimpinannya inilah Pesantren Assalafiyah melahirkan karya-karya berupa terjemahan kitab kuning dalam bahasa Indonesia serta Sunda dan di Produksi oleh Percetakan Kitab milik Pesantren Assalafiyah sendiri.

DSC_0179 H. Lilip Abdul Kholiq

Menurut H. Lilip Abdul Kholiq (menantu KH. Ahmad Makky) percetakan kitab ini berdiri tahun 1988 dan hingga sekarang telah memproduksi jutaan kitab, yang telah tersebar ke berbagai daerah di Jawa Barat, DKI dan Banten, namun kitab-kitab terjemah kitab kuning dalam bahasa Indonesia tidak hanya terjual di pulau Jawa saja, seringkali terdapat pesanan dari luar Jawa seperti Banjarmasin, Papua, Lampung, Riau bahkan ke Malaysia dan Brunai.

DSC_0147Percetakan ini terinspirasi dari kelakar KH. Choer Afandy semasa KH.Ahmad Makky menjadi santri Miftahulhuda Manonjaya Tasikmalaya, saat itu Uwa Choer berkata “maneh mah teu gableg ceramah, manehmah gablegna nulis” (kamu itu tidak akan berhasil di ceramah, akan berhasinya di nulis.Red) meski ini hanya sebuah kata-kata kelakar namun karena kata-kata seorang guru lebih kepada sebuah do’a dengan penuh keyakinan serta kesungguhan KH. Ahmad Makky mulai memproduksi kitab-kitab baik karangan nya ataupun penjelasan dan panduan cara memahami kitab kuning dan lain sebagainya, hasilnya kini semakin banyak pesanan dari berbagai daerah, ini menunjukan bahwa karya-karyanya ini dapat diterima dimasyarakat bahkan menjadi sebuah kebutuhan bagi dunia pesantren, karena adanya kitab-kitab ini memang sangat memudahkan bagi para ustadz untuk menjelaskan kepada santri-santrinya tentang bagaimana memahami kitab kuning, meski sebelumnya kritik dan kecaman tak sedikit datang menghadang, namun berkat kesungguhan dan keikhlasan dalam berkarya semua itu dapat terlewati.

DSC_0121Saat ini percetakan Assalafiyyah memproduksi tak kurang dari 6000 eksemplar kitab pada tiap bulan nya, bahkan saat ini para karyawan mengaku kewalahan menerima pesanan, ini menunjukan bahwa tak banyak pengusaha maupun praktisi pesantren yang melirik bidang ini, percetakan kitab-kitab seperti ini seolah-olah sesuatu yang hampir punah ditelan zaman, padahal nyatanya tingkat kebutuhan akan kitab dan terjemahannya ini cukup tinggi, dan tak banyak saingan atau lawan bisnis assalafiyah yang cukup berarti dalam hal ini menunjukan bahwa bidang ini tak begitu banyak diminati, namun dibalik hitungan bisnis yang ternyata berbuah berkah ini menyebarkan ilmu dengan kemudahan-kemudahan memahaminya merupakan amal shaleh yang tidak akan terputus selama para penggunanya masih membaca kitab-kitab tersebut, dan inilah sebenarnya hal yang cukup lama hilang dari khazanah dunia kepesantrenan, dimana para Kyai saat ini sudah kehilangan literasinya, dakwah menjadi hanya populer dengan lisan saja, warisan kitab-kitab yang akan abadi sepanjang zaman justru sudah mulai ditinggalkan, dunia tulis menulis mulai sepi dan ditinggalkan para Kyai ini, bisa terhitung dengan jari berapa Kyai yang masih produktif menulis kitab-kitab ilmu yang akan diwariskan kepada para penerusnya, dan assalafiyah adalah salah satu yang masih istiqomah mempertahankan hal ini, padahal peralatan cetak dan kekuatan kapasitas cetaknya sangat terbatas karena masih menggunakan mesin-mesin lama yang perlu perawatan ekstra pula.

DSC_0216DSC_0235Dengan kemandiriannya ini pulalah Assalafiyah menjadi pesantren yang nyaris tak pernah mendapat bantuan dari pemerintah, dilahan seluas 17 hektar pesantren ini mampu mencukupi segala kebutuhannya secara menadiri tanpa bantuan dari luar, sesuatau yang patut ditiru oleh pesantren lain karena kemandirian dibidang ekonomi akan menunjukan jati diri dan kualitas keislaman yang baik, karena tidak harus menerima kebaikan pihak luar yang biasanya beriming- iming sesuatu, atau dengan sayarat tertentu, jika saja semua pondok pesantren memiliki kemandirian dibidang yang sesuai dengan kepesantrenan maka bisa dipastikan wajah dunia Islam akan semakin membaik dari masa ke masa. *

Penulis: Udas

Suara Ulama

2 KOMENTAR

  1. Maaf iji ser…,kalau matan kitab tadzkirotil kurtubi sudah di cetak?
    Kalau sarah ny saya suda saya liat,tapi kalau matan ny saya blm pernah liat

  2. Maaf saya mau tanya apa matan kitab tadzkirotul kurtubu sudah d cetak?kalau sarah nya sy sudah liat,tapi kalau mtan nya sy blm liat

TINGGALKAN KOMENTAR