Pondok yang terlahir dari gagasan brilian seorang Ulama juga Pahlawan Nasional

0
497

Pondok Mufidah Santi Asromo beralamat di Desa Pasirayu – Sindang -Majalengka -Jawa Barat, atau sekitar 14 km dari pusat kota Majalengka. Berdiri kokoh di sebuah desa yang dahulunya merupakan hutan dan perbukitan tandus. Namun hari ini telah berubah menjadi tempat yang sejuk, asri dengan pemandangan yang sangat indah. Luas di area inti kurang lebih 13 hektar dan ditambah dengan tempat di luar area inti seluas kurang lebih 7 hektar atau kurang lebih 20 hektar total luas areanya.

ABD HALIMA. Sejarah Singkat
Keberadaan Pondok Santi Asromo terlahir dari sebuah gagasan brilian dari seorang Tokoh Ulama yang juga seorang Pahlawan Nasional, KH. Abdul Halim, dari Majelengka. Gagasan tersebut di sampaikan melalui risalah yang disampaikan dalam “Kongres Pesyarikatan Oelama ke 9” yang diselenggarakan pada tahun 1931. Risalah yag diberi judul “Afatul ijtimaiyah wa ilajuha”, berisikan bahwa generasi dimasa depan harus dapat hidup mandiri, dengan menghilangkan sifat ketergantungan kepada orang lain, dengan cara setiap anak didik haruslah diberikan bekal keterampilan yang memadai sesuai dengan kecenderungan minat dan bakatnya.

Sebagai bentuk realisasi dari gagasan yang di sampaikan pada kongres ke 9 tersebut, maka disepakati KH. Abdul Halim dipercaya mendirikan dan mengelola program pendidikan secara khusus. Program pendidikan tersebut kemudian dikenal dengan nama “Santi Asromo”. Dengan lokasi yang dipilih adalah sebuah tempat yang sepi dan jauh dari keramaian.

Seperti dikatakan Drs. Dedi Masyhudi, anggota pegawas Yayasan Santi Asromo, bahwa nama Santi Asromo adalah sistem pendidikan yang menggabungkan antara pendidikan Formal, pendidikan Agama dan Keterampilan, yang mengacu kepada keputusan PB PO (Pengurus Besar Persyarikatan Oelama) pada Kongres PO ke 10, sistem pendidikan Santi Asromo selain mengajarkan pelajaran agama dan pengetahuan umum seperti Sejarah Dunia, Bahasa Belanda, diberi juga pelajaran praktik bercocok tanam, tukang kayu, kerajinan tangan dan lainnya untuk memenuhi pendidikan aqliyah, pendidikan ruhaniyah dan pendidikan amaliyah.

IMG_9549Dalam mewujudkankan gagasannya, KH. Abdul Halim, pada bulan januari 1932 atau bertepatan dengan bulan Romadhon 1350 H, KH. Abdul Halim mendapatkan hibah lahan dari seorang aghnia bernama M. Ardja Subrata putra dari M. Ardja Winata, terletak di sebuah bukit tandus Reumadengkeng / Sukamanah, Desa Pasirayu – Sindang -Majalengka -Jawa Barat. Bagunan pertama yang didirikan adalah sebuah surau kecil berdindingkan anyaman bambu dan beratapkan ilalang.

Di surau itu KH. Abdul Halim mulai merealisasikan ide gagasannya akan terselenggaranya sebuah sistem pendidikan yang diberi nama Santi Asromo.IMG_9545

Memasuki masa 1936 – 1958 Santi Asromo memulai sekolah formal dengan sistem boarding school yang dilengkapi dengan berbagai kegiatan pertanian, perkebunan dan perdagangan, dengan membuat percontohan budidaya tanaman sebagai proyek inti dan masyarakat sekitar menanam tanaman sebagai plasma, penyamakan kulit, pembuatan tenun, rajut, pembudidayaan tanaman obat, selain itu di laksanakan pula peternakan kambing PE, dan ayam.

Kemudian memasuki tahun 1958, didirikanlah Poliklinik di Santi Asromo, yang merupakan poliklinik pertama di Pondok Pesantren di Majalengka. Selanjutnya tahun 1962, mulai merintis berdirinya Sekolah Menengah Pertama, yang diberi nama SMP Swasta Prakarja Santi Asromo. Untuk memenuhi syarat peraturan dalam undang – undang yang berlaku masa itu, maka pada tahun 1968 didirikan Yayasan KH. Abdul Halim, sebagai lembaga yang menaungi institusi pendidikan, menggantikan Linggo Sarojo. Baru pada tahun 1992 Yayasan Santi Asromo mendirikan instutusi Pendidikan Menengah Atas, yang diberi nama SMA Prakarya Santi Asromo.

B. Santi Asromo sebagai konsep
Pendidikan Modern Drs. Dedi Masyhudi mengatakan, “Kata “Santi Asromo” diambil dari bahasa sanskerta, artinya “Tempat yang Damai”, mengadopsi dari kata “Darussalam”.Alasan mengapa menggunakan bahasa sanskerta, selain KH. Abdul Halim ahli dalam bahasa sanskerta juga sebagai strategi dalam upaya mengaburkan kecurigaan Penjajah Belanda, yang pada saat itu memandang aktifitas KH. Abdul Halim sebagai ancaman. Bahkan pihak Belanda sampai mendirikan Tangsi (Asrama, Barak tentara, Penjara) sebagai pos untuk mengawasi mobilitas KH. Abdul Halim dan Santi Asromo”.

Melihat dari tujuan berdirinya lembaga pendidikan Santi Asromo menurut Lili Solihin, S.Ag MS.i (Kepala Sekolah SMP Prakarya Santi Asromo), “bahwa Santi Asromo merupakan lembaga pendidikan yang bertujuan untuk melahirkan apa yang dinamakan dengan “Santri Lucu” yaitu santri yang memiliki keteguhan Aqidah, Kemuliaan Akhlaq, Keluasan Ilmu Pengetahuan, kepribadian islami, kemandirian berkarya, kemahiran leadership, kepekaan sosial, ketangguhan tekad dan pengabdian untuk membangun bangsa dan bergerak bersama masyarakat, dengan berlandaskan tauhid dan semangat rahmatan lil`alamiin, bertekad untuk dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi ummat”.

Menurutnya bahwa pendidikan di Pondok Mufidah Santi Asromo merupakan sistem pendidikan yang mengarah kepada keseimbangan, karena selain memperdalam keilmuan keagamaan, para Santri juga diberikan keilmuan umum dan keterampilan maka dari itu dinamakan SMP/SMA Prakarya, yang meliputi ketelampilan : Pertanian, perikanan, perkebunan, kerajinan dan lain – lain. Hal tersebut merupakan gambaran dari Visi Pondok Mufidah Santi Asromo yaitu : “Menjadikan Santi Asromo sebagai institusi berkeunggulan dalam mewujudkan santri lucu”,

Maka sistem pendidikan yang diselenggakan di Santi Asromo sejak dahulu sudah mengacu kepada sistem pendidikan modern, dimana seluruh aspek kehidupan diajarkan di sini.

Ikhsan Syahgunawan, S.Pd, M.Ag (Kepala Sekolah SMA Prakarya Santi Asromo) menambahkan, “bahwa para santri di sini selain wajib mengikuti seluruh prosesi pembelajaran juga harus dapat mengurus kebutuhannya sehari–hari, seperti bersih–bersih pondok, mencuci dan lain -lain.

Untuk dapat mencapai keberhasilan akan sasaran – sasaran pendidikan, pihak pondok seringkali mengundang para orang tua santri untuk diajak berdialog tentang seputar aktifitas pendidikan dan pembelajaran, sehingga diharapkan adanya peranserta orang tua dalam memberikan semangat belajar kepada anaknya”.

C. Aktifitas dan Fasilitas Asromo
Arif Muflih, S.Kom (Sekretaris Pondok Munfid Santi Asromo) menuturkan, “sampai tahun 2017 ini jumlah siswa SMP dan SMA berjumlah kurang lebih 500 orang dan untuk tahun ajaran selanjutnya akan ditingkatkan menjadi 650 orang. Pihak Yayasan sudah mentargetkan di tahun 2019 jumlah siswa SMP dan SMA berjumlah 1000 orang. Untuk mendukung hal tersebut saat ini sedang dilakukan penambahan kelas dan pondok.

Selain menyenggarakan kegiatan pendidikan SMP dan SMA di Yayasan Santi Asromo diselenggarakan pula kegiatan pendidikan dan pembinaan yang lain, seperti TK/RA Al Halim, Madrasah Ibtidaiyah dan Majlis ta’lim. Kemudian untuk menunjang kelancaran kualitas pendidikan di Yayasan santi Asromo maka dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendidikan seperti Sarana Ibadah (Masjid & Mushola), Ruang Kelas beserta Fasilitasnya, Sarana Penelitian (Laboratorium), Sarana Olah Raga, Gedung Serbaguna, Asarama Putra Putri, Perpustakaan, Sarana Aktivitas Outdoor, Kebun dan Hutan Sekolah. *

Lipsus Majalah Suara ‘Ulama

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR