Antara Mahasiswa, Santri dan Pesantren Safinatul Huda Tasikmalaya

1
347

Masjid Pondok Pesantren Safinatul Huda

Oleh : Tatang Hidayat*)

Ada kesan yang begitu menarik ketika hari pertama saya berkunjung ke tempat yang akan saya singgahi dalam melaksanakan tugas dari kampus, mata saya di manjakan dengan keindahan alam yang begitu luar biasa, seolah-olah bibir ini diajak untuk terus memuji akan kebesaran Sang Pencipta. Pemandangan indahnya hamparan sawah yang dihiasi dengan sungai-sungai kecil, airnya mengalir masih jernih hingga ikan-ikan kecilpun terlihat dari atas permukaan, indahnya hamparan pegunungan yang terbentang sejauh mata memandang, suasana sejuk dan asri desa tersebut karena masih banyak pepohonan disepanjang jalannya, suara burung berkicauan seolah-olah menyambut tamu yang akan datang ke desanya.

Perhatian saya ketika survey desa tersebut tertuju kepada berjajarnya bangunan masjid yang begitu indah apalagi ada salah satu bangunan masjid yang menjadi perhatian saya, ketika pertama melihat bangunan tersebut, pikiran saya langsung teringat dengan mata kuliah sejarah peradaban Islam yang mengingatkan ciri khas bangunan Masjid yang ada pada zaman kerajaan Islam Syafawi di Persia dan Mughal di India yang kini seolah-olah ciri khas bangunan masjid di dua kerajaan tersebut ada di desa ini.

Awalnya saya merasa heran, kenapa di sekeliling Masjid tersebut banyak perempuan muslimah yang sedang beraktivitas, muslimah tersebut memiliki perbedaan dengan muslimah yang biasa saya temui di kampus, biasanya saya melihat muslimah di kampus dengan ciri khas kerudung dan jilbab yang lebar, tetapi muslimah yang saya temui ini  memiliki ciri khas pakaian desa sederhana yang dihiasi dengan kebaya, dan kerudungnya pun tidak selebar seperti para muslimah di kampus yang sering saya temui. Ternyata setelah saya teliti, mereka adalah santri putri yang sedang melaksanakan aktivitas kesantriannya, dan  bangunan Masjid yang indah tersebut merupakan masjid yang berada di lingkungan Pondok Pesantren Safinatul Huda.

Di sela kesibukan dalam menjalankan tugas sebagai hubungan masyarakat yang harus selalu bertemu dengan orang yang ada di desa tersebut, sesekali saya menyempatkan istirahat dan silaturahim dengan beberapa masjid dan pesantren yang ada di desa tersebut, salah satunya saya bisa silaturahim dengan Pesantren Safinatul Huda. Sehingga saya bisa berkenalan dengan beberapa dewan kyai dan santri, bahkan saya langsung di ajak untuk singgah di rumah salah satu kyainya.

Seiring berjalannya waktu, saya akhirnya sering singgah di pondok tersebut, bahkan menyatakan niat saya untuk ber’itikaf di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Karena, saya begitu terkesan ketika pertama singgah di Pesantren Safinatul Huda dengan indahnya bangunan masjid yang di kelilingi oleh kolam yang dihiasi ikan di dalamnya, menandakan kesan pesantren yang selama ini ada di pikiran saya sebagai tempat jorok dan kotor, tetapi Safinatul Huda telah merubah 180 derajat pandangan saya mengenai pesantren yang jorok dan kotor tersebut.

Disamping melaksanakan I’tikaf, saya juga bermaksud untuk melengkapi data penelitian saya mengenai pondok pesantren selama ini, kemudian saya ingin menambah hafalah al-Quran saya di akhir ramadhan ini, karena tuntutan syarat sidang skripsi yang ada di prodi mengharuskan setoran 3 juz hafalan baru bisa melaksanakan sidang. Atas izin Allah SWT, akhirnya karena keramahan pengasuhnnya yakni KH. Fuad Hasyim akhirnya saya di izinkan untuk beri’itikaf.

Suasana hening jauh dari keramaian, di temani dengan suara gemercik dan beningnya air kolam yang mengelilingi masjid, dihiasi dengan indahnya ikan-ikan yang menari di kolam tersebut, sejuknya angin di bawah langit kota santri, suara burung berkicauan dengan begitu indahnya, hamparan hijaunya pesawahan memanjakan mata ini, apalagi indahnya suara nadzoman para santri yang semakin di dengarkan semakin tembus kedalam hati, menemani hari-hari indah saya untuk menghabiskan sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Suasana penuh kesederhanaan di sebuah desa tersebut saya rasakan, jauh sekali dengan suasana penat perkotaan yang selama ini saya rasakan, apalagi dunia mahasiswa saat ini yang menjurus kepada gaya hidup hedonisme yang selalu menemani kehidupan saya. Maklum saja, saya merasa nyaman di tempat seperti ini. Karena, bagi saya mendengarkan nadzoman para santri merupakan suasana yang langka, biasanya saat mahasiswa saya lebih sering mendengarkan suara orasi para mahasiswa yang menyuarakan aspirasi karena kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak punya hati nurani sehingga menyengsarakan rakyat di negeri ini, daripada mendengarkan nadzoman para santri.

Di sela-sela i’tikaf tersebut, saya menyempatkan diskusi dengan beberapa santri mengenai banyak hal, baik itu mengenai dunia kepesantrenan, kitab kuning, dunia mahasiswa hingga ke dunia percintaan, bahkan dengan kyai pun tidak ketinggalan saya untuk berdiskusi, padahal santrinya saja jarang ada yang berani untuk diskusi dengan kyainya.

Banyak ilmu yang saya dapatkan di tempat ini, sebelum menjelang adzan biasanya saya mendengar suara dari pengeras suara para santri sedang mengucapkan pepujian, lagunya macam-macam, baik itu shalawat ataupun nadzoman, semuanya enak didengar, sayup-sayup suara itu, mengetuk sampai ke dalam hati. Maklum saja, saya jarang mendengarkan pepujian tersebut di perkotaan, masjid-masjid di kota biasanya langsung adzan, kemudian shalat shubuh lalu bubar.

Menurut Tafsir (2014:149) Orang kota memang rasional, tanpa disadari pula, gerakan pemikiran modern ini telah menguras sebagian metode pendidikan rasa beragama, rasa iman. Akhirnya agama hanya berjalan di badan dan di otak, tetapi kurang atau tidak berjalan di hati. Rasa beragama semakin kering, orang semakin sulit mengeluarkan air mata tatkala nama Allah disebut. Dan bila datang cobaan orang akan mudah frustasi. Agama kota agaknya lebih rasional, agama desa mungkin berpusat di hati.

Di pesantren ini, tarawihnya 20 rakaat ditambah witir 11 rakaat, kemudian setelah selesai shalat imam memimpin untuk sujud syukur, seolah-olah ingin berpesan kepada saya bahwa  kita harus bersyukur bisa melaksanakan nikmat shalat qiyamul lail di bulan Ramadhan, Jujur saja, saya baru menemukan shalat tarawih 20 rakaat di tambah witir 11 rakaat sehingga menjadi 33 rakaat, kemudian ditambah dengan pelaksanaan sujud syukur atas nikmat bisa menjalankan shalat qiyamul lain. Biasanya shalat qiyamul lail yang saya temui selama ini adalah 11 dan 23 rakaat.

Setelah shalat qiyamul lail, akhirnya saya berkesempatan bisa silaturahim ke rumah salah satu dewan kyai yakni Ajeungan Cecep Gaots Syihabuddin di rumah beliau, menjadi suatu kehormatan bagi saya bisa bersilaturahim di rumah beliau yang merupakan salah satu putra pendiri Pesantren Safinatul Huda yakni alm. KH. Ahmad Syihabuddin, obrolan hangat mewarnai heningnya malam pada waktu itu.

Sebagaimana informasi yang saya dapatkan dari beliau, Safinatul Huda di dirikan pada tahun 1987 oleh alm. KH. Ahmad Syihabudin, adapun peletakan batu pertamanya oleh alm. KH. Choer Affandi pendiri Pesantren Miftahul Huda Manonjaya. Alm KH. Ahmad Syihabuddin merupakan sosok kyai yang tegas diatas kebenaran, menurut agama ini halal jelas beliau katakan halal, yang haram beliau katakan haram. Beliau siap menanggung resiko ketika berbicara kebenaran. Karena ketegasan beliau ini, diceritakan kalau beliau ada di depan rumah, maka tidak akan ada wanita yang berani buka kerudung dihadapan beliau, bahkan yang boncengan bukan mahrampun tidak berani lewat beliau, itu karena beliau merupakan sosok kyai yang memiliki wibawa karena ketegasan beliau terhadap ajaran agama ini.

Tidak sampai disitu, karena saya masih penasaran, akhirnya saya bersilaturahim dengan pengasuhnya langsung yakni KH. Fuad Hasyim, atas izin Allah SWT akhirnya saya bisa berdiskusi dengan beliau ketika selesai shalat shubuh berjama’ah, begitu banyak ilmu yang saya dapatkan dalam obrolan tersebut, beliaupun menyampaikan pendapatnya mengenai pendiri Pesantren Safinatul Huda yakni alm. KH. Ahmad Syihabuddi, beliau membina umat dari mulai keluar pesantren, tujuannya mencetak ulamaul amilin, imaman muttaqin, dan muttaqin. Beliau memiliki Kepribadian yang lemah lembut, sabar, tawakal, qana’ah, zuhud, wara, ‘alim, berakhlakul karimah,  istiqomah dalam mendidik, dan sampai akhir hayatnya memperjuangkan Islam.

Di tengah-tengah obrolan tersebut, beliau seolah-olah ingin berpesan kepada saya sebagai pelajar yang sedang mencari ilmu bahwa yang namanya perjuangan dalam mencari ilmu harus betul-betul sabar, tawakal, kalau sudah diberikan dasar ingin hasil ilmu, maka harus betul-betul cerdas, semangat, besar kesabaran, ada bekal, ada petunjuk dari guru, dan harus lama zamannya. Beliaupun seolah-olah ingin menitipkan pesan jika suatu saat nanti saya menjadi seorang pendidik, maka saya haru menghadapi peserta didik dengan memiliki sikap lemah lembut, sabar, tawakal, hilim, qana’ah, zuhud, istiqomah, tidak boleh kasar, dalam mendidik yang dicontoh itu Rasulullah Saw, jadi sebenarnya para ajeungan itu dalam mendidik santrinya mencontoh kepada Rasulullah Saw.

Di sela-sela waktu kosongpun, saya menyempatkan berkeliling di pondok tersebut, ingin melihat langsung sebuah maha karya peninggalan alm. KH. Ahmad Syihabuddin dalam bentuk bangunan pesantren. Dan saya pun mengabadikan setiap momen yang saya temukan. MasyaAllah, pendiri pesantren ini bukanlah orang sembarang, beliau memiliki jiwa visioner yang memiliki pandangan jauh kedepan, itu terlihat dari bangunan santri putri yang dibangun tidak memakai genting, tetapi dengan menggunakan cor yang suatu saat nanti bisa di bangun kembali.

Sayapun menyempatkan diskusi dengan  beberapa santri, mendengar beberapa permasalahan yang dialami oleh para santri, baik itu dalam menuntut ilmu maupun dalam mengurus pesantren, ternyata masalah yang di alami para santri tidak jauh berbeda dengan masalah yang di alami dalam dunia mahasiswa, Saya mendapat pelajaran dari roisnya bahwa ada perbedaan antara cinta dan kasih sayang, ada perbedaan antara mencintai yang harus di miliki dengan mencintai yang tidak harus di miliki.

Dalam obrolan dengan para santri, mereka tunjukkan ketawadhuan dengan sesungguhnya, padahal umur mereka sebaya dengan saya, tetapi mereka begitu tawadhu dengan keilmuan yang mereka miliki, sempat akal saya belum bisa menerima dengan jawaban yang mereka lontarkan atas pertanyaan yang saya tanyakan kepada mereka mengenai masa depan mereka yang hanya lulusan pesantren. Ketika hari ini begitu banyaknya dari kalangan pemuda seusia mereka yang berlomba-lomba meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi, tetapi beda dengan mereka. Para santri tidak tertarik dengan perguruan tinggi, mereka bangga dengan pesantrennya, masyaAllah, saya begitu terharu menuliskan ini, mereka menjadikan kesederhanaan di pesantren sebagai suatu kebanggaan. Meskipun lulusan pesantren, mereka tidak minder untuk menghadapi masa depan, karena menurut mereka untuk urusan rezeki sudah ada Allah SWT yang mengatur.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya tugas saya di desa tersebut harus berakhir, padahal begitu banyak ilmu yang belum saya dapatkan di desa tersebut, tetapi apa daya, saya harus kembali ke dunia kampus untuk meneruskan aktivitas saya sebagai seorang mahasiswa dengan tumpukan tugas dan berbagai aktivitas, ataupun merasakan kembali suasana yang paling indah ketika menjadi seorang mahasiswa yakni saat memegang megaphone untuk menyuarakan aspirasi di depan balai kota, gedung sate hingga di depan istana Negara.  Sebenarnya masih banyak yang saya ingin tuliskan, tetapi saking indahnya pengalaman spiritual ini, tangan ini tidak mampu untuk menuliskannya kembali. Wallahu ‘alam bi ash-shawab

*) Mahasiswa Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia

Suara Ulama

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR