“Berdakwah Dari Selayar Hingga Senayan”

0
338

KH. Drs. Muchtar Adam (Pimpinan Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam)

beritalangitan.com – Sejumlah cabang dari pesantren ini telah berdiri, disekitar Jawa Barat, dan di beberapa kota besar bahkan di daerah terpencil yang dianggap amat memerlukan dakwah, Aceh, Sulawesi dan Sumatera, serta di beberapa daerah lain cabang-cabangnya telah berdiri. Inilah jaringan Dakwah yang sudah dibangun oleh Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam yang berpusat di kawasan Dago Atas – Bandung yang langsung dipimpin oleh sang Maestro Dakwah yaitu K.H. Drs. Muchtar Adam, seorang laki-laki kelahiran Benteng Selayar Sulawesi Selatan 10 September 1939 yang telah mendedikasikan hampir separuh hidupnya untuk malang melintang berdakwah di berbagai kepulauan di Nusantara ini. Pesantren Babussalam yang dipimpinnya pun terus mengembangkan sayap dakwahnya hingga ke kepulauan-kepulauan kecil di Nusantara, ini adalah Pondok Pesantren Al-quran yang juga rata-rata menyediakan format Pendidikan Formal dari tingkat Taman Kanak – kanak hingga Sekolah Menengah Atas.

Tak hanya mengembangkan dakwah dengan membangun cabang-cabang Pondok Pesantren Babussalam di banyak kepulauan di Indonesia, Kiyai yang juga mantan anggota DPR RI tahun 1999-2004 ini aktif menulis berbagai buku keislaman dengan tujuan sama yaitu berdakwah dengan media tulisan, hingga saat ini puluhan buku telah rampung di tulis dan disebarkan ke khalayak luas, bahkan tak segan-segan demi kualitas karya-karya nya ini ia seringkali melakukan penelitian hingga ke manca Negara demi validitas tulisannya, misalnya saat ia menulis buku yang berjudul “Yerusalem dari Masa ke Masa”, maka tak tanggung-tanggung ia rela beberapa kali berdiam dinegeri itu untuk menelesuri kebenaran dari karya yang ia akan tulis, itulah semangat dakwah yang luar biasa dari sosok penda’I ini kendati usianya sudah tak bisa disebut muda lagi, sebuah suri tauladan bagi generasi dakwah berikutnya, dimana bumi dipijak maka disana dakwah berkumandang.

IMG_8192

Jamaah Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam Pada Saat Mulid Nabi Muhammad SAW

Kiyai yang usianya sudah melalui tiga bendera yaitu Belanda, Jepang dan Indonesia ini memang kerap kali keluar masuk penjara karena pemberontakan bersama keluarganya terhadap pemerintahan kolonial Belanda maupun Jepang bahkan ketika terbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) ia bersama pejuang lainnya ia menentang dan tetap gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seutuhnya tanpa ada campur tangan dan intervensi dari kaum penjajah. Oleh sebab itulah maka ia kerap keluar masuk penjara karena dianggap melawan kebijakan pemerintah pada saat itu, dan tetap menginginkan utuhnya Negara kesatuan yang merdeka dan berdaulat.

“Sekarang saya melihat negeri ini sedang diserang dari berbagai penjuru baik oleh Zionis yang memang sudah bercokol sejak lama dan kini kita lihat gerakan neo komunis yang sudah mulai menggerogoti bangsa ini dengan kuatnya terutama dikalangan generasi muda”, oleh sebab itu kita harus bangkit melawan dan kembali berjuang, karena itu Babussalam selalu menjaga Wahdah dan Ukhuwah, tetap menjalin kekuatan silaturahim dimanapun berada, karena hanya dengan itu Umat ini akan tetap kuat dan mampu mengantisipasi serangan dari luar, kita lihat negera-negara yang tadinya kuat seperti Irak, Mesir dan Syiria sudah mulai jatuh satu persatu ke tangan mereka saat ini, oleh sebab itu maka kalau para pemimpin dunia islam ini tidak waspada maka tunggu saja kehancurannya, dan kita melihat hal itu sudah mulai terjadi di Indonesia, saya sudah menuangkan hal itu dalam buku saya enam tahun yang lalu yang berjudul “Kehancuran Sebuah Bangsa”, disana saya mengupas tuntas bagaimana awalnya sebuah bangsa dihancurkan oleh kekuatan ideologi Zionis dan Komunis terutama generasi mudanya.

IMG_8257

Kumpulan Buku Karya KH. Drs. Muchtar Adam

Didalam buku saya itu ditulis bagaimana Zionis menyerang sebuah bangsa ada sepuluh hal, diantaranya adalah jatuhkan ulamanya satu persatu dengan faham yang semakin menjauhi nilai Islam yang sebenarnya, kemudian hancurkan rumah tangga, buat kawin cerai menjadi trend, dan yang mengerikan adalah hancurkan generasi muda nya dengan Narkoba, Pornografi, Porno Aksi bahkan Porno Suara serta bentuk kemaksiatan dan kemungkaran lainnya, dan ini sudah mulai terjadi pada generasi muda kita ini. Contohnya saat saya pulang ke Selayar kampung halaman saya ternyata 60% pemuda disana sudah terjerat Narkoba, ini yang membuat saya sedih dan menyadari bahwa betapa sudah kuatnya pengaruh kehancuran itu didepan mata kita ini, lebih celaka lagi jika setelah generasi mudanya dihancurkan dengan narkoba, lalu ulamanya terpecah belah pula maka sudah bisa dipastikan hancurnya negeri ini, kita tahu bahwa ketika Nabi berdoa agar umat ini tidak tertimpa musibah bencana alam itu dikabulkan, ketika Nabi berdoa agar Islam tidak dihancurkan langsung dari musuhnya itupun di Ijabbah, tetapi ketika Nabi berdoa jangan hancurkan umatku ini dari fitnah, itu tidak Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kabulkan. Termasuk di Babussalam ini tal pernah luput dari fitnah, fitnah yang berhembus dari dalam dari kalangan para ulama sendiri kenyataannya memang seperti itu sekarang.

12650866_10207321118338388_9141740301618127765_n

Kegiatan Kepanduan di Pondok Pesantren Al-Quran Babussalam

Jika Umat ini ingin bangkit maka kita harus kembali kepada Ma’rifatullah, mengenal akan hakikat ketuhanan maka akan mengenal hakikat eksistensi diri lalu harus pula Ma’rifatusshaiton , mengenal gerak langkah shaitan agar kita tak mudah terkena tipu dayanya, jangan sampai “KeTuhanan yang maha Esa” tetapi yang terjadi adalah “Keuangan yang Maha Kuasa”, jika sudah begitu maka kita jadi hidup dengan nilai materialisme dan bukan lagi dengan nilai “KeTuhanan”, maka akan hancurlah bangsa ini ditelan meterialisme tadi.

Coba bayangkan saat ini 70% penduduk Jawa Barat ini buta Al-Quran maka akan seperti apa bangsa ini jika tak lagi memiliki pondasi nilai agama yang kuat kemudian dihantam dengan gelombang penghancuran yang tiada henti dari berbagai sudut, oleh sebab itu kami di Babussalam adalah Pondok Pesantren Al-Quran, dimana kami ingin agar masyarakat ini kembali menjadikan Al-Quran sebagai landasan nilai dalam menjalankan setiap sendi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini, kami ingin agar masyarakat kembali kepada Ma’rifatullah tadi dengan cara memahami Al-Quran.

Oleh sebab itu santri yang belajar di Babussalam ini tak hanya dari kalangan berada saja, tetapi dari semua kalangan dan lapisan, dan banyak kaum dhu’afa dan yatim piatu dari berbagai pelosok negeri untuk dapat mengenyam pendidikan di Babussalam ini, kami memiliki panti asuhan yang khusus diperuntukan bagi masyarakat tak mampu, biarlah saya pontang-panting mencari biaya untuk mereka itu asalkan kelak mereka itu dapat melanjutkan dakwah ini, melanjutkan mendidik masyarakat ini agar mampu bertahan dan bangkit melawan gelombang penghancuran tadi.

Dakwah kita baru “Kahartos belum Karaos” (baru bisa dimengerti belum bisa dirasakan.Red), nyatanya para Da’i kita hari ini baru bisa berdakwah dengan omongan belum bisa berdakwah dengan pengaruh atau kekuasaan apalagi berdakwah dengan memberikan kesejahteraan, sedangkan mereka musuh-musuh Islam sedang menghancurkan Islam dengan pengaruh dan kekuasaan bahkan dengan iming-iming kemakmuran. Sementara Kiyai kita datang dan memberi ceramah dengan ilmu agama mungkin bisa dimengerti, tetapi jika para misionaris itu datang dengan membawa beras dan bantuan lainnya maka akan lebih terasa dan akan kalahlah ideologi jika ditukar dengan beras, maka dari itu umat ini harus kuat, kuat dari sisi pemahaman ilmu agama dan harus kuat pula dari sisi penghidupannya agar tak mudah dijebak atau ditipu dengan kebendaan atau sedikit iming-iming kesejahteraan.

Jika Negara barat saat ini adalah Dajjal dan katanya nanti akan timbul satu kebangkitan dari kekuasaan Islam maka itu tidak boleh menjadi sebuah lamunan kosong belaka, itu yang harus kita perjuangkan itu sebabnya kita harus bangkit hari ini melalui Silaturahim harus menjadi satu kekuatan dalam menghidupkan kembali wahdah dan ukhuwah ini, dan melalui majalah “Suara Ulama” ini saya harap adalah salah satu elemen penyambung Silaturahim itu, merekatkan Ulama dan Umat melalui media masa, ini adalah sebuah langkah strategis yang harus didukung, selain akan banyak transformasi keilmuan yang terjadi juga salah satu media yang akan menyampaikan kondisi musuh-musuh islam, serta menggambarkan kondisi umat itu sendiri secara objektif dan berimbang. Dan Babussalam akan selalu mendukung Dakwah dalam semua bentuk..* (DU)

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR