Mukim “Tonggak Dakwah Pesantren”

0
261

Menimba ilmu di Pondok Pesantren membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sedikitnya menghabiskan waktu lima sampai delapan tahun, bahkan ada yang mencapai dua belas tahun.

Belum lagi masa khidmat atau pengabdian di pesantren rata-rata dua hingga tiga tahun. Masa pengabdian ini sebetulnya masih sebuah proses belajar, bedanya di fase ini santri tidak lagi belajar dengan menyerap atau menerima keilmuan melainkan belajar mempraktekan keilmuan yang sudah dimilikinya dengan cara mengajar adik-adik angkatannya. Pengabdian sebenarnya justru dimulai ketika ia dinyatakan selesai menimba ilmu dipesantren dan terjun ditengah masyarakat mengamalkan ilmunya tersebut.

Oleh sebab itu beberapa pesantren besar menerapkan tradisi “Mukim” atau menempatkan santrinya di tempat-tempat yang memang sekiranya membutuhkan keberadaan seorang ustadz atau Kiyai. Mukim secara bahasa berarti menetap atau menjadi penduduk sebuah daerah secara permanen, sedangkan dalam terminologi pesantren mukim dimaknai seorang santri yang akan melakukan pengabdian yang sesungguhnya.

Santri yang dimukimkan oleh pesantrennya bertugas menjadi Murobbi yang akan mengurus dan mengelola serta mendidik masyarakatnya agar menjadi lebih islami dari sebelumnya. Jika memiliki kecukupan secara finansial biasanya santri yang mukim langsung membangun pesantren, dan jika belum mampu membangun biasanya dilakukan secara bertahap mulai dari majelis ta’lim kemudian pengajian anak-anak hingga perlahan-lahan memiliki santri dan membangun fisiknya secara bertahap.

Namun sebagian ada pula yang memilih lembaga pendidikan formal seperti Madrsah Diniyah, Tsanawiyah, atau malah menggabungkan sistem pendidikan salafi dengan pendidikan formal. Hal tersebut muncul biasanya karena dengan membuat lembaga pendidikan formal lebih mudah mendapatkan santri dan biaya operasionalpun dibantu pemerintah. Tetapi tak sedikit pula yang tetap konsisten dengan konsep pesantren salafi tanpa menggantungkan diri pada bantuan pemerintah.

Miftahulhuda Manonjaya Tasikmalaya contohnya, merupakan sebuah pesantren Raksasa yang akar cabangnya sudah menggurita di seluruh pelosok Jawa Barat bahkan tersebar di banyak kepulauan di Nusantara. Mukim bagi Pesantren peninggalan alm KH. Choer Affandy ini merupakan keharusan yang dilaksanakan oleh setiap angkatan. Mukim bagi Miftahulhuda merupakan kunci keberhasilannya menjadi sebuah pesantren besar dengan cara mengikat seluruh alumninya sebagai sebuah kesatuan besar yang tetap tidak terpisahkan dari induknya.

InShot_20161026_213640-e1477492820225

(Dodo Aliyul Murtadlo)

Dodo Aliyul Murtadlo selaku sekertaris General Imamal Mutaqien Generation (IMG) Miftahulhuda mengatakan, Mukim bukan sebuah perpisahan antara Santri dengan pesantren, malah sebaliknya Mukim merupakan sebuah permulaan dimana Santri membawa bendera pesantren disuatu tempat, dan ia bertugas mewakili pesantrennya dalam ber Amar ma’ruf nahyi munkar.

“Yang menjadi sasaran utama dari mengelola masyarakat ini adalah membangun akhlaq, karena kelemahan yang paling besar dari masyarakat ini adalah akhlaq”, oleh sebab itu para santri yang bermukim tentu harus terlebih dahulu memiliki keutamaan dalam akhlaqnya, sehingga kelak ia akan dapat membawa masyarakatnya ke arah yang lebih baik.

Santri Miftahulhuda yang akan terjun ke masyarakat harus melewati satu fase yang bernama Khadimatul ma’had atau masa ber khidmat. Dalam fase ini santri lebih banyak belajar tentang bagaimana menghadapi masyarakat, mereka diberikan kepercayaan menjadi koordinator di kafilah-kafilah santri dan diberi target-target dalam membina dan mengembangkan akhlaq adik-adiknya. Dari mulai cara berjalan, berbicara, berinteraksi atau bergaul dengan lingkungan itu harus mencerminkan akhlaq yang baik. Setelah dua tahun kembali santri menghadapi sebuah ujian atau munaqoshah untuk dapat diwisuda hingga akhirnya dinyatakan siap terjun di masyarakat.

01-kh-choeraffandi

Uwa Ajengan (KH. Choer Affandy)

Meski dari setiap angkatan itu santri yang berhasil menjadi Kiyai itu hanya mencapai sekitar 12% saja dari jumlah angkatan, tetapi Uwa Ajengan (sebutan untuk KH. Choer Affandy alm. Red) mengatakan bahwa santri Miftahulhuda itu tidak akan ada yang gagal, karena selain santri yang berhasil menjadi Ulama’ul amylin sekitar 12% tadi, sedangkan sisanya 88% didorong untuk menjadi Imamal Mutaqien atau Mutaqien.

Santri yang tidak berpotensi menjadi Ulama’ul amylin kita dorong untuk menjadi Imamal Mutaqien, atau menjadi para pemuka dibidang lain seperti menjadi pengusaha, ada yang memimpin organisasi kemasyarakatan, bahkan ada yang kami dorong untuk menjadi Pejabat Daerah untuk menduduki posisi penting di pemerintahan.

Kemudian jika santri tersebut tidak berhasil menjadi Imamal Mutaqien, makakami tetap dorong agar mereka menjadi Mutaqien saja, artinya meski mereka tidak menduduki posisi penting serta tidak berkemampuan mengajak masyarakatnya, setidaknya mereka menjadi pribadi-pirbadi yang tangguh, tidak mudah terseret arus zaman. Paling tidak mereka menjadi pemimpin yang bertaqwa dalam keluarganya.

Saat ini alumni Miftahulhuda sudah hampir merata tersebar di Jawa Barat, apabila dihitung rata-rata hampir dua ratus orang disetiap Kota-Kabupaten yang sudah memiliki lembaga, belum lagi ditambah alumi kategori Imamal Mutaqien dan Mutaqien. Hanya di Indramayu dan dan Cirebon yang jumlahnya masih sedikit. Maka apabila dihitung secara individu mungkin jumlahnya sudah puluhan ribu, karena setiap angkatan rata-rata di angka 1200 dan tahun ini Miftahulhuda memasuki usia emas yaitu limapuluh tahun.

Jadi Mukim sekali lagi bukanlah sebuah perpisahan antara pesantren dengan santrinya. Mukim merupakan tonggak-tonggak dakwah pesantren yang ditancapkan ditengah masyarakat. Mukim merupakan ekspansi Amar ma’ruf Nahyi Munkar yang dilakukan secara terus menerus oleh setiap generasi Santri untuk berbakti pada Nusa dan Bangsanya.

*/Suara Ulama

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR