Pondok Pesantren Al-Ma’tuq “Melahirkan generasi unggul dalam Aqidah, Ibadah dan Akhlak”

0
1360

Masjid Pondok Pesantren Al-Ma’tuq

beritalangitan.com – Pondok Pesantren Al-Ma’tuq adalah Pesantren yang melahirkan generasi yang menguasai berbagai disiplin ilmu terutama bidang Aqidah dan Syari’ah sesuai pemahaman salafus Shalih. Al-Ma’tuq merupakan Pesantren Salafi yang melaksanakan proses pendidikan Islam secara optimal, untuk melahirkan generasi unggul dalam Aqidah, Ibadah dan Akhlak secara integral, memiliki wawasan internasional dan mampu menghadapi tantangan global.

Sejarah Pondok Pesantren Al-Ma’tuq
Pondok Pesantren sebagai adalah satu dari sekian banyak lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat pada masyarakat muslim Indonesia, dalam perjalanannya pondok pesantren selalu mampu menjaga dan mempertahankan keberlangsungan dirinya. Tidak sekedar itu, Pesantren memiliki model pendidikan yang multi aspek. Santri tidak hanya dididik menjadi seseorang yang mengerti ilmu agama, tetapi juga mendapat tempaan kepemimpinan yang alami, kemandirian, kesederhanaan, ketekunan, kebersamaan, kesetaraan serta sikap positif lainnya yang ditanamkan secara tidak disadari. Modal inilah yang diharapkan dapat melahirkan masyarakat yang berkualitas dan mandiri.

DSC_0445

Bangunan Pondok Pesantren Al-Ma’tuq

Salah satu Pondok Pesantren yang telah lama berkiprah dalam mencerdaskan bangsa adalah Pondok Pesantren Al-Ma’tuq Kabupaten Sukabumi. Pesantren yang terletak kurang lebih 7 kilometer dari pusat Kota Sukabumi.

Pesantren Al-Ma’tuq memiliki letak geografis yang strategis di kaki gunung Gede dan berada di lintasan rekreasi bukit dan danau situgunung, berhadapan dengan suasana kehidupan dinamis di segitiga Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Dengan suasana desa yang asri dan udara yang sejuk, dan latar belakang pesawahan yang terhampar sejauh mata memandang, merupakan suasana yang sangat kondusif dan sangat mendukung untuk para santri berkonsentrasi dalam menuntut ilmu.

Pondok modern ini didirikan pada tahun 1996 dan diresmikan pada tanggal 2 Dzul-Qa’dah 1417 H / 11 Maret 1997 M, oleh Bupati Sukabumi dan Duta Besar Kuwait untuk Indonesia pada saat itu.

Diawal pendiriannya, Pesantren Al-Ma’tuq dikhususkan untuk menampung anak-anak yatim dari berbagai daerah di Indonesia dalam bentuk panti atau lembaga sosial di bawah binaan Yayasan Lajnah Khairiyah Musytarakah Jakarta. Namun dalam perkembangan selanjutnya Pesantren Al-Ma’tuq menyelenggarakan pendidikan sendiri, dan masih dikhususkan untuk anak-anak yatim. Baru pada tahun ajaran 2007-2008 dimulai penerimaan santri-santri non yatim karena melihat antusiasme masyarakat untuk menitipkan anaknya di lembaga pendidikan berkualitas.

Saat pendirian, luas area Pesantren adalah 3.600 m2 yang merupakan tanah wakaf dari Bapak Ir. H. Salim Bakri. Adapun pembangunannya didanai oleh Syekh Abdul Hamid bin Abdullah Al-Ma’tuq atas nama keluarga besar Abdullah Al-Ma’tuq melalui Yayasan Lajnah Khairiyyah Musytarakah.

Secara bertahap Pesantren pun berusaha membebaskan dan atau membeli sejumlah tanah disekitar Pesantren, serta terus mengembangkan pembangunan- pembangunan untuk menunjang sarana pendidikan dan pengasuhan yang kondusif.

Hingga saat ini luas areal Pesantren sekitar 60.000 m2, dan hingga saat ini Pondok Pesantren Al-Ma’tuq masih tetap menyelenggarakan pendidikan dan kepesantrenan bagi anak-anak yatim, baik bagi anak-anak yatim yang ada disekitar pesantren mapun dari berbagai daerah yang ada di Indonesia.

Di bawah Pimpinan oleh Dr. Ade Hermansyah Lc, M.Pd.I, Pondok Pesantren modern ini kini berkembang dengan pesat minat masyarakat untuk mendidik anak-anak nya disini cukup tinggi meski pembiayaannya sebagai Sistem Pendidikan cukup mahal, hal ini terbukti dari pendaftaran santri baru yang terus bertambah setiap tahunnya, kini seleksi ekstra ketat diberlakukan untuk dapat menyaring calon santri berpotensi yang akan siap menerima tempaan berat dari kurikulum yang diberlakukan disini.

Santri Al-Ma’tuq memang dipersiapkan agar menjadi kader-kader muslim tangguh yang siap diterjunkan diberbagai lingkungan dimasyarakat, selain memang dipersiapkan untuk mampu mengikuti pendidikan diluar negeri seperti timur tengah dan sebagainya.

Berikut beberapa kegiatan dan mata pelajaran yang di sajikan Al-Ma’tuq dalam menggembleng santrinya.

Pola Pembelajaran
Berbeda dengan lembaga pendidikan formal yang berbentuk sekolah pada umumnya, pola pembelajaran di Pesantren Al-Ma’tuq dirancang untuk mencapai target yang telah ditetapkan, maka kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara terus menerus dan bervariasi dari segi waktu dan tempat.

DSC_0475

Santri Pondok Pesantren Al-Ma’tuq

Untuk pencapaian target hapalan, kegiatan belajar difokuskan di masjid dengan metode halaqah yang dilaksanakan setiap hari setelah shalat shubuh dan magrib. Setiap halqah terdiri dari 10 – 15 orang dibimbing oleh seorang pembimbing.

Agar lebih memacu semangat santri dalam menghafal Al-Qur’an, Pesantren memberikan motivasi yang tinggi kepada para santri untuk menghafal Al-Qur’an lebih dari sekedar memenuhi target, dengan memberikan hadiah kepada santri-santri yang memiliki hapalan di atas target.

Untuk pembinaan pemahaman Aqidah, Ibadah dan Muamalah yang benar sesuai pemahaman salaf, kegiatan pembelajaran dilaksanakan di kelas dari jam 07.00 – 12.00. Seluruh santri dibagi per kelas sesuai dengan jenjang dan kelasnya. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ceramah dan diskusi. Di samping itu dilaksanakan pula kajian umum tentang ilmu-ilmu syar’i yang disampaikan oleh asatidz yang berkompeten setiap malam kamis di Mesjid Pesantren.

Untuk pembinaan pengamalan sunnah dalam kehidupan sehari-hari, pembelajaran dilakukan dalam bentuk pembiasaan dengan bimbingan semua asatidz yang tinggal di Pesantren. Shalat berjamaah di mesjid Pesantren adalah kegiatan pendidikan yang sangat esensial dalam membentuk generasi muslim harapan. Maka tidak salah bila shalat berjamaah dijadikan sebagai sentral kegiatan dan barometer keberhasilan pendidikan di Pesantren.

Di samping pembinaan ketaatan dan kepatuhan terhadap sunnah, shalat jamaah juga dijadikan sarana interaksi antara santri dengan santri dan santri dengan seluruh asatidz. Hal ini sangat penting dalam pembinaan mental dan kepribadian santri, untuk menjadikan kebersamaan dan keharmonisan sebagai sarana pembinaan iman menuju terbentuknya pribadi mu’min yang menjunjung tinggi persaudaraan.

Untuk pencapaian target penguasaan bahasa Arab, materi-materi ilmu syar’i sejak kelas 2 Mutawassith menggunakan buku paket berbahasa Arab. Di samping itu pembiasaan penggunaan bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari, menjadi satu hal yang sangat diperhatikan dan didorong sedemikian rupa. Demikian pula untuk penguasaan bahasa Inggris, walaupun porsinya tidak sebesar Bahasa Arab. Dalam keseharian diberlakukan pekan wajib berbahasa Arab dan pekan wajib berbahasa Inggris.

Untuk pencapaian target kemampuan berpidato dalam tiga bahasa dilaksanakan latihan berpidato tiga bahasa dalam dua bentuk kegiatan:

Latihan Pidato Harian, Setiap santri diberikan giliran untuk berpidato setiap hari setelah shalat shubuh dan ashar. Untuk santri-santri di jenjang mutawassith pidato disampaikan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Arab. Sedangkan untuk jenjang tsanawi pidato disampaikan dalam bahasa Arab atau bahasa Inggris.

Latihan Pidato Pekanan, Dalam satu pekan ada tiga kali latihan pidato bahasa Arab, Inggris dan Indonesia. Latihan pidato bahasa Arab dilaksanakan pada hari Senin pukul 13.30 – 14.40. Latihan pidato bahasa Inggris pada hari Kamis pukul 13.30 – 14.40. Latihan pidato bahasa Indonesia hari Sabtu malam, pukul 20.00 – 21.00. Dalam latihan pidato pekanan ini, santri dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok mempunyai tempat masing-masing untuk melakukan latihan.

Untuk pembinaan kemandirian, kedisiplinan kebersihan dan ketertiban, setiap santri diberikan tugas piket baik di kamar maupun di kelas, yang dilaksanakan setiap hari secara bergiliran. Di samping itu, setiap hari libur dilaksanakan pembersihan umum seluruh area pesantren oleh santri-santri dengan bimbingan asatidz yang ditugaskan.

Di samping itu semua, mengingat padatnya kegiatan yang harus dilaksanakan oleh santri, diperlukan waktu senggang untuk penyegaran dan pemeliharaan kesehatan tubuh. Untuk itu setiap sore dari jam 16.15 – 17.00 santri diberikan waktu untuk berolahraga, di samping kegiatan tambahan seperti kaligrafi, beladiri dan menjahit.

Juga pada pertengahan semester santri-santri diajak belajar di luar Pesantren melalui program perkemahan Islami, yang melibatkan seluruh santri dan asatidz, demi mempererat rasa kekeluargaan dan menghilangkan kepenatan serta kejenuhan yang mungkin dirasakan karena kegiatan keseharian yang cukup padat. (blc)

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR