Pondok Pesantren Azzainiyyah Nagrog, “Menelusuri Jejak Sang Maulana Mursyid”

0
8830
KH. Aang Abdullah Zein Pimpinan Pondok Pesantren Azzainiyyah Nagrog Sukabumi

Sukabumi, 18/4 (beritalangitan.com) – Melirik Pondok Pesantren Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah terbesar di Sukabumi yang tak asing lagi adalah Pondok Pesantren Azzainiyyah yang beralamat di Jl. Wanasari Nagrog Rt 03/05 Desa Perbawati Kecamatan Sukabumi Kabupaten Sukabumi. Pesantren yang berada di lereng Gunung Gede ini tentu saja memiliki hawa pegunungan yang sejuk dengan masyarakat yang notabene berprofesi sebagai petani. Pesantren ini didirikan oleh KH. Zezen Zainal Abidin Zayadi Bazul Asyhab (Alm) pada 04 Febuari 1978 yang kemudian Pesantren Azzainiyyah kini dilanjutkan oleh puteranya yaitu KH. Aang Abdullah Zein.

Bangunan - bangunan yang berada di area Pondok Pesantren Azzainiyyah Nagrog Sukabumi
Bangunan – bangunan yang berada di area Pondok Pesantren Azzainiyyah Nagrog Sukabumi

Pada tahun – tahun pertama awal berdirinya, para santri Kyai Zezen (Alm) adalah anak – anak kecil yang sering di juluki pasukan semut, tetapi seiring waktu berkat ketekunannya mengajar, lambat laun santri bertambah banyak. Sekarang Azzainiyyah sudah memiliki santri dan santriwati salafi lebih dari 150 orang yang mondok, belum lagi siswa sekolah  formal yang mencapai 800 orang dengan deretan bangunan yang cukup besar dan banyak diatas lahan dengan luas tak kurang dari tujuh hektar. Tidak hanya itu, di Pondok Pesantren Azzainiyyah ini rutin mengadakan pengajian bulanan yang biasanya di ikuti oleh lebih dari lima ribu mustami yang merupakan Jamaah Toriqoh tetap dari berbagai daerah.

Bangunan - bangunan yang berada di area Pondok Pesantren Azzainiyyah Nagrog Sukabumi
Bangunan – bangunan yang berada di area Pondok Pesantren Azzainiyyah Nagrog Sukabumi

Yang melatar belakangi disiplin keilmuan di pesantren ini tidak lepas dari sosok sentral yaitu KH. Zezen ZA (Alm) yang pernah menimba ilmu dibeberapa pesantren seperti Gentur, Gontor, Tipar Cibolang, Cibureum, Miftahul Huda Cikole, Suryalaya dan bahkan diangkat sebagai maulana (ulama besar, red.) oleh kesultanan India. Dari berbagai latar disiplin ilmu inilah pesantren Azzainiyah berdiri sampai sekarang. Kyai Zezen adalah sosok Kyai salafi tetapi juga sosok yang berjiwa moderat dan terbuka, semua disiplin ilmu itu dipadukan menjadi sebuah kolaborasi yang saling melengkapi dan menyempurnakan.

Landasan Tauhid dan pola menghafal atau talaran diadopsinya dari Miftahul Huda, pola pengajian di pesantren Gentur Cianjur yang khas pun diterapkannya, kedisiplinan dan pola pesantren modern diadopsinya dari pesantren  Gontor, serta ke khasan lain yang diterapkannya secara seimbang dan harmonis, tak luput ajaran Tariqoh Suryalaya pun menjadi warna kental di Azzaniyah ini, namun jika di Suryalaya Tarikat menjadi yang terpenting, “bagi Kyai Zezen Tarikat adalah satu komponen penting” demikian seperti dikutip KH. Aang Abdulah Zein kepada beritalangitan.com.

Almarhum Uwa Ajengan Zezen wafat pada 19 November di Rumah Sakit Kartika Sukabumi di usia  60 tahun. Adapun sebagai penerus dan pengurus Pesantren Azzainiyyah saat ini adalah KH. Aang Abdulah Zein. Dalam kepemimpinannya Kyai muda ini bertekad untuk melanjutkan perjuangan mendiang sang ayah yang belum sempat terlaksana baik disisi perencanaan pengembangan pesantren maupun pada sisi idiologis sehingga Pesantren Azzainiyyah kelak dapat mewujudkan “Baldatun thoyyibbatun warabbun ghafur” ungkap kyai Aang.

Tak cukup literatur atau transkip sejarah untuk menggambarkan kebesaran figur Kyai Zezen almarhum ini, baik disisi perjuangannya dalam dakwah dan mengelola pesantren dan kemajuan pendidikan Islam, ataupun pengaruhnya di masyarakat maupun di pemerintahan yang sangat banyak mewarnai perjalanan dakwah di Kabupaten Sukabumi pada khususnya bahkan bagi Asia dan sekitarnya. Tak hanya itu, kajian – kajian hikam almarhum ini banyak menjadi rujukan dan referensi para ulama dalam mengembangkan dakwah hingga kini.

Uwa Ajengan Zezen berwasiat kepada keluarganya dibarengi dengan rasa kasih sayang dan keikhlasan karena Allah. Pertama agar kuat iman dan taqwa kepada Allah, mengikuti perintah Allah dan Rasulullah, jauhi laranganNya dan jangan keluar dari Ahlul Sunnah Waljama’ah. Kedua laksanakan ibadah wajib dan sunnahnya. Ketiga mengikuti kepada pemerintah selama tidak bertentangan dengan agama. Keempat harus menjalin persaudaraan dan bukan pertengkaran, “Uwa tidak ridho kalo terjadi pertengkaran atau perebutan kekuasaan dan harta”, jauhkan semua penyebab pertengkaran, cepat memaafkan ketika orang lain salah, segera meminta maaf jika kita yang salah. Kelima harus saling menyayangi, jangan membiarkan jika ada yang sedang kesusahan, jangan merasa iri jika melihat saudaranya maju. Keenam lanjutkan perjuangan Uwa dalam membela agama, bangsa dan negara, mengajar santri, mendoakan sesama, mau membalas budi kepada orang lain, da’wah jihad dan sebagainya sesuai dengan kemampuan masing – masing. Itulah enam wasiat yang diberikan langsung oleh Uwa Zezen tahun 2005 dan ditulis langsung serta ditandatangani olehnya, pungkas Kyai Aang.  (Tim lipsus beritalangitan.com)

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR