Siapakah Zulkifli?

0
163

Sejatinya, tidak banyak kisah sejarah Nabi Zulkifli yang dituliskan dalam Alquran. Tercatat, hanya dua ayat yang terkait namanya, yakni pada surat Al Anbiyaa ayat 85 serta surat Shaad ayat 48.

Al Hafizh Ibn Katsir dalam bukunya yang terkenal, Kisah Para Nabi dan Rasul, menempatkan Zulkifli pada urutan ke-12. Dia berada di bawah Nabi Ayyub, yang dikatakan adalah ayah dari Zulkifli.

Meski demikian, masih ada silang pendapat di kalangan ulama terhadap status kenabian Zulkifli. Seperti diungkapkan Ibn Jarir dan Ibn Najih meriwayatkan dari Mujahid, ia bukanlah seorang nabi, melainkan seorang yang saleh dan hakim yang adil.

Begitu pula, pandangan Muhammad bin Jarir al Tabari. Ia menganggap Zulkifli adalah orang baik dan sabar yang selalu menolong kaumnya dan membela kebenaran, namun bukan seorang nabi.

Akan tetapi, sebagian ulama dan fukaha berpegang pada penjelasan Alquran akan Zulkifli. Ibn Katsir menyatakan, sanjungan Alquran kepada Zulkifli bersamaan dengan para nabi yang lain. ”Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang nabi,” kata Ibn Katsir.

Menurut versi lain, ia nabi bagi penduduk Suriah dan sekitarnya. Ia juga membangun Kota Kifl di Irak.

Lantas, siapakah Zulkifli?

Sebagian besar literatur sejarah mengukuhkan pendapat Ibn Katsir bahwa dia adalah putra dari Nabi Ayyub. Ibunya bernama Rahmah.

Nama asli Zulkifli adalah Basyar. Basyar-lah satu-satunya yang selamat dari reruntuhan rumah yang menewaskan semua anak Nabi Ayyub.

Dia mewarisi sifat mulia ayahnya, yakni sabar, adil, dan teguh dalam pendirian. ”Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris, dan Zulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka ke dalam rahmat Kami.” (QS An Anbiyaa: 85-86).

Ia selalu mampu memegang amanat dan janji. Sejak kecil hingga dewasa, Basyar belum pernah berbohong kepada siapa pun. Semua janji senantiasa ditepati. Kepribadiannya itu menumbuhkan simpati dari banyak orang.

Di samping itu, masyarakat juga mengenalnya sebagai seseorang yang selalu bertingkah laku baik dan benar. Sikap dan pendiriannya tidak mudah goyah.

Ia hidup di sebuah negara yang dipimpin seorang raja yang arif bijaksana. Situs wikipedia menyebutkan sebagai Raja Ilyassa (Nabi Ilyassa AS). Adapun Ibn Katsir menuliskan Raja Al Yasa.

Raja sudah berusia lanjut. Setiap hari, hatinya gelisah karena belum memiliki calon pengganti yang sesuai. Dia pun memutuskan mengadakan semacam sayembara.

Suatu hari, raja mengumpulkan rakyatnya. Dia bertanya, ”Siapakah yang sanggup menerima tiga permintaanku, yakni sanggup berpuasa di siang hari, shalat di malam hari, dan berlaku sabar (menahan amarah)?”

Tiada seorang pun yang menjawab. Akhirnya, seorang anak muda bernama Basyar mengacungkan tangan. Dengan penuh keyakinan, dia berkata, ”Aku.” Raja pun menunjuknya sebagai penggantinya. Sejak itulah, ia dipanggil Zulkifli yang artinya sanggup.

Setelah menjadi raja, Zulkifli tetap berlaku sederhana. Ia tak melalaikan janjinya. Di waktu malam, ia beribadah dan di waktu siang berpuasa. Selain itu, ia juga bertindak sebagai hakim yang adil bagi segenap rakyatnya.

Nabi Zulkifli bekerja hampir tidak mengenal waktu, pagi, siang, maupun malam. Seluruh kebutuhan dasar rakyat dipenuhi. Urusan-urusan mereka diselesaikan secara adil, tanpa menimbulkan gejolak.

Namun, kondisi tak selamanya tenteram dan damai. Dikisahkan, suatu ketika terjadi pemberontakan dari yang durhaka kepada Allah. Raja Zulkifli memerintahkan prajurit dan rakyatnya untuk pergi ke medan tempur.

Betapa terkejut rasa melihat tak ada rakyatnya yang berani maju berperang. Mereka takut mati. Mereka hanya mau berperang jika Zulkifli mendoakan kepada Allah agar Allah menjamin hidup mereka.

Raja Zulkifli menyanggupi permintaan itu. Dia pun berdoa kepada Allah, yang segera dijawab Allah SWT. ”Aku telah mengetahui permintaan mereka, dan aku mendengar doamu. Semua itu akan Ku-kabulkan.”

Di bawah lindungan Allah, pasukan dan rakyat Raja Zulkifli menyongsong pertempuran. Kemenangan berhasil diraih. Sesuai janji Allah SWT, tak seorang pun dari mereka yang gugur.

(artikel republika)

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR