Edisi [1] Peran Ulama menuju Gerbang Ummatan Wahidah

0
183
Majalah Suara Ulama

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apapun zamannya ulama tetap akan menjadi seorang hero’s bagi umatnya dan ulama akan tetap menjadi anutan bagi rakyat disuatu negeri. Dengan demikian peran ulama dalam memperkuat peradaban Islam sangat strategis kedudukannya. Kehadiran majalah suara ‘ulama sebagai washilah untuk memberikan tempat bagi mereka menyuarakan ilmu dan kebenaran, sehingga kehadiran para ‘ulama ditengah-tengah ummatnya tidak ditunggangi untuk kepentingan sesaat. Redaksi berharap ulama dapat membawa zaman ini ke gerbang ‘ummatan wahidah sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Ulama adalah agen perubahan atau agent of change sekaligus pemelihara peradaban Islam, dengannya peradaban Islam dapat terbangun dengan kokohnya dan tanpa mereka peradaban akan punah. Peradaban yang acuh kepada para ulama adalah peradaban yang lemah, rapuh, kropos, dan hanya menunggu kehancuran karena ulama dapat berfungsi sebagai pemelihara peradaban Islam.

Siapapun yang menyulut api permusuhan terhadap para ulama, maka secara langsung mereka mengatakan perang terhadap Allah, karena dari merekalah kebenaran dapat terungkap, pesan Allah di muka bumi ini dapat dipahami dan direalisasikan, dari titah para ulama sehingga kemungkaran direduksi baik secara indipidu maupun secara kolektif. Ulama adalah wakil Allah di bumi ini.

Kemudian dari sentuhan tangan ikhlas para ulama lah dakwah islamiyah tetap berjalan dan terus berkembang yang pada akhirnya melahirkan muslim yang taat dan sejati dari satu tempat ke tempat lain serta dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tranmissi agama ini berasal dari para ulama, mereka adalah mata rantai agama dari zaman generasi emas khaerul qurun hingga generasi pemburu emas saat ini.

Dikisahkan suatu ketika, Khalifah Abdulah Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid yang lebih dikenal dengan Al-Makmun –salah satu penguasa pada era Bani Abbasiah priode 813-833 M—mendatangi seorang ulama pada masanya, menjadi kebiasaan baginya jika ingin meminta nasihat dan petunjuk pasti rujukannya adalah para ulama.

Dalam pertemuan tersebut dialog antara khalifah dan sang ulama terekam dan diabadikan oleh sejarah, berikut petikan dialognya: Khalifah, “Saya datang kesini untuk mendapat nasihat dari Anda, nasihatilah saya!” Maka ulama itupun meminta kepada sang khalifah untuk mengambil air putih, “Tolong ambilkan saya segelas air putih!”. Setelah segelas berisi air putih dalam genggaman Al-Makmun, maka sang ulama pun bertanya, “Bagaimana bayangan Tuan kalau seandainya Tuan melakukan perjalanan di tengah padang pasir selama tiga hari tiga malam dan tidak pernah mendapatkan air minum, tiba-tiba ada seseorang yang datang membawa segelas air putih seperti dalam genggaman Tuan itu, menurut Tuan berapakah taksiran harga segelas air putih itu?” dengan tanpa berpikir  Al-Makmun menjawab, “Aku akan membeli air putih ini dengan harga separuh dari seluruh harta kerajaanku,” “kalau begitu silahkan tuan minum air putih itu!” perintah sang ulama.

Sejenak kemudian sang ulama bertanya lagi, “Kalau seandainya air yang telah Tuan minum itu semuanya membeku dan menjadi batu dalam perut, tidak mau keluar dan menjadi penyakit mematikan, maka menurut Tuan berapa taksiran harga yang akan tuan bayar untuk mengeluarkan air yang telah membatu itu?” Khalifah menjawab dengan seriusnya, “Aku akan membayar dengan separuh harta kerajaanku yang tersisa!” “Kalau begitu harga seluruh kerajaan Tuan di mata Allah hanyalah segelah air putih,” nasihat sang Ulama.

Semoga bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Klik Untuk Berlangganan

Salam dari Redaksi,

Suara ‘Ulama

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR