Edisi [3] Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 51 Dalam Perspektif Kepemimpinan Nubuwwah

0
186
Suara Ulama

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Umat Islam Bangsa Indonesia sedang tertuju pada satu fokus masalah saat ini. Yakni pada persoalan penistaan Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51 yang dilakukan oleh gubernur DKI Jakarta, hal ini benar-benar menjadi sorotan tajam. Bukan hanya skala nasional, melainkan sudah merambah pada sorotan dunia internasional.

Adanya aksi bela Islam pada hari Jumat, 4 November 2016 (411) hal ini membuktikan bahwa umat Islam Bangsa Indonesia masih mempunyai ghirah yang tinggi. Semangat mereka dalam membela Al-Quran sebagai pedoman hidup. Walaupun dari kalangan sekularis masih terdengar suara-suara miring menggembos semangat umat dalam membela Al-Qur’an, namun semua itu hanya dianggap angin lalu dan tetap fokus pada satu tujuan. Yaitu membela Al-Qur’an dan mengukuhkan kaidah kepemimpinan umat Islam sesuai dengan Surat Al-Maidah ayat 51.

Dua hal yang dapat kita banggakan di sini adalah sikap keberanian dan kedermawanan umat Islam. Kita lihat sendiri bagaimana harmonisnya aksi 411, memperlihatkan betapa damainya Islam, saling membantu dan memberi serta keberanian dalam menyuarakan keadilan dan kebenaran.

Makna yang terkandung dalam Surat Al-Maidah ayat 51 sangat mempersoalkan kaidah kepemimpinan Umat Islam, Kepimimpinan di dalam Islam adalah sesuatu yang sangat mendasar. Karena urgennya permasalahan kepemimpinan ini para ulama membahas permasalahan ini dalam buku terpisah. Seperti contohnya adalah Imam Al-Mawardi Asy Syafi’i menulis sebuah buku yang berjudul Al Ahkam As Sulthoniyah. Beliau mendefinisikan kepemimpinan sebagai posisi yang menggantikan peran kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengan agama tersebut.

Seorang pemimpin adalah pengganti Nabi dalam memimpin kaum muslimin, bedanya hanya satu, Nabi menerima hukum-hukum yang diberlakukan kepada umatnya melalui wahyu dari sisi Allah, sedangkan seorang pemimpin dalam Islam adalah menggalinya dari nash-nash Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ kaum muslimin, atau berijtihad jika memang tidak didapatkan dalam nash syar’i maupun ijma’.

Begitu pula kedudukan seorang pemimpin memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam mewujudkan eksistansi kaum muslimin dalam menjalankan syari’at-Nya, karena itu kaum muslimin wajib untuk memiliki seorang imam atau pemimpin dalam menempuh kehidupannya sebab hal ini menjadi prasarat untuk kehidupan di dunia dan di akhirat kelak.

Dalam edisi bulan ini redaksi majalah Suara ‘Ulama akan mengupas tentang Tafsir Surat Al-maidah ayat 51 dalam Perspektif Kepepimpinan Nubuwwah, hal ini disampaikan agar umat Islam tidak keliru dalam meletakkan makna kepemimpinan yang dimaksud dalam Surat Al-Maidah ayat 51 tersebut.

Selain mengupas Surat Al-Maidah ayat 51 pada terbitan bulan ini redaksi mengupas pula tentang biografi KH. Abdullah bin Nuh, ia bisa disebut sang ‘Ulama Spektakuler karena sepak terjang ulama yang satu ini tidak hanya berjuang di tanah Nusantara saja tetapi ia sudah merambah akses perjuangnya menelusuri Dunia Internasional, begitu pun karya-karya tulisnya sudah menjadi rujukan ilmu bagi dunia Islam.

Seperti biasa Redaksi Majalah Suara ‘Ulama menerbitkan pula Liputan Pesantren, Liputan Khusus, dan Rubrik lainnya termasuk berusaha menelusuri kisah-kisah para mua’laf dalam menemukan Hidayah-Nya.

Semoga sajian Redaksi bulan ini bermanfaat buat para pembaca, aamiin

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Klik Untuk Berlangganan

Salam dari Redaksi Suara ‘Ulama

Suara Ulama

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR