Al Qur’an Dan Perubahan Iklim (2)

0
523
Ilustrasi Global Warming (environment-indonesia.com)

Oleh : S. Guntoro

Akibat penggunaan kertas tissue, karena alasan demi kepraktisan dan kenyamanan hidup tersebut, produksi tissue terus meningkat. Saat ini produksi tissue di Indonesia  rata-rata mencapai 28 juta gulung per hari dengan berat rata-rata 300 gram per gulung. Jika dihitung per tahun produksinya mencapai sekitar 9 milyar gulung. Untuk memproduksi sebanyak itu, perlu nelakukan penebangan hutan (dengan umur pohon minimal 5 tahun) dengan luas lebih dari 150.000 hektar. Pantaslah jika suhu udara semakin panas dan tidak segar. Karena nun jauh di atas sana keseimbangan langit kian rusak. Komposisi oksigen kian turun, sedangkan poduksi GRK semakin meningkat.

Oleh sebab itu, masalah ini perlu kita sosialisasikan kepada umat, khususnya para jama’ah masjid. Bila perlu kita sosialisasikan model “Masjid Ramah Lingkungan,” di mana salah satu programnya adalah “Puasa Tissue”, hal ini perlu diprioritaskan mengingat masjid adalah “agen kebaikan” dan “kebenaran”. Tidaklah layak masjid mengembangkan budaya yang bertentangan dengan nilai-nalai Al-Qur’an. Tapi mengingat penggunaan tissue sudah telanjur membudaya, di masji-majid, tentu tidak mungkin melakukan larangan penggunaan tissue secara drastis, apalagi di tengah pandemi Covid-19. Untuk itu mesti dilakukan secara bertahap. Mungkin dimulai dengan puasa tissue awalnya cukup sebulan sehari, terus ditingkatkan menjadi 2 hari atau 3 hari dalam sebulan, dan seterusnya hingga akhirnya setiap hari.

Masjid adalah “agen kebenaran” juga sebagai “agen kebaikan”. Penggunaan tissue di masjid-masjid bukanlah budaya yang membanggakan, tapi justru gejala yang memprihatinkan karena penggunaan tissue merupakan budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Ar-Rahman Ayat 7 dan 8. Demikian pula Bank-bank Syariah, sebaiknya jangan sampai membiayai kegiatan-kegiatan, proyek atau bisnis yang memperparah perubahan iklim, seperti industri tissue atau kerajinan kayu. Jika penggunaan kayu unuk bangunan rumah masih bisa dimaklumi karena merupakan kebutuhan primer dan sulit dihindari. Tapi jika ukiran kayu, sifatnya hanya untuk aksessoris yang estetik, sebaiknya dihindari. Intinya, Bank Syari’ah harus bersikap “pro-lingkungan”.

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)

Jika kita belum mampu memberi rahmat kepada alam, setidaknya janganlah kita ikut-ikutan merusak alam, atau mendukung pihak-pihak yang kita duga berpotensi merusak alam. Karena jika kita sudah menyatakan sebagai pengikut Muhammad, sedangkan Muhammad, salah satu missinya diutus Allah untuk memberi rahmat kepada alam (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107) kini alam semakin rusak. Tidaklah pantas kita berdiam diri, tidak mau ikut “cawe-cawe”. Wallahu a’lam bisa sawabi (habis)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.