“Mutiara Khatulistiwa, Negeri Diatas Awan Kabupaten Garut”

0
1313
Melihat keindahan alam diatas puncak gunung Cikuray. (Fhoto : Tim Rihlah Beritalangitan)

(Catatan expedisi rihlah Beritalangitan.com di Kabupaten Garut)

Beritalangitan.com  – “Gunung Cikuray”,  gunung ini adalah termasuk deretan keempat gunung tertinggi di Jawa Barat setelah gunung Gede, Pangrango dan Ciremai. Secara geografis gunung Cikuray terletak di sebelah selatan provinsi jawa barat tepatnya di kabupaten Garut, berada di perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung. Gunung ini memiliki ketinggian 2.821 meter di atas permukaan laut (mdpl)

Di Cikajang ada dua jalur alternatif yang sering digunakan para pendaki untuk mencapai puncak gunung, jalur tersebut adalah jalur Olan dan jalur Carik. Jarak tempuh jalur Kampung carik relatif jauh jika dibandingkan jalur  lainnya. Perjalanan dari Mesjid Agung Cikajang sampai kampung Carik bisa menggunakan angkutan pedesaan carteran, ojek atau jika kebetulan biasanya ada truk sayur lewat bisa ikut numpang. Jika membawa kendaraan sendiri, pendaki bisa menitipkannya di rumah warga kampung Carik sekalian mendaftar di pos penjagaan resmi yang baru dua tahun pos penjagaan tersebut dibuka.

Disana para pendaki dikenakan biaya registrasi pendakian sebesar 15.000/orang.
Dengan menggunakan kendaraan, lamanya waktu tempuh dari Mesjid Agung Cikajang sampai mesjid kampung Carik diperkirakan tidak lebih dari 30 menit. Jalannya lumayan bagus, hanya beberapa titik ruas jalan yang rusak termasuk di kampung Cibitung jalannya masih rusak tetapi dari cibitung mulai menempuh jalan coran yang menanjak hingga sampai di kampung Carik. Hanya sekitar seratus meter di bagian ujungnya saja yang belum diaspal.

Tarif angkutan pedesaan berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah, tergantung sedikit banyaknya jumlah penumpang. Tetapi jika berjalan kaki bisa memakan waktu hingga dua jam, jalannya cukup datar hanya jaraknya lumayan jauh. Memasuki kampung Carik anda masih akan melewati jalan  aspal yang sudah rusak dan mulai menempuh tanjakan, disana akan menjumpai sebuah mesjid yang biasa digunakan oleh para pendaki untuk sholat dan istirahat dan terkadang para pendaki menitipkan kendaraannya di mesjid tersebut.

Sedangkan waktu tempuh dari mesjid kampung Olan sampai lereng hutan gunung Cikuray tidak lebih dari dua  jam. Di kiri kanan jalan menuju batas hutan gunung Cikuray terdapat kebun-kebun warga yang ditanami kol, kentang, wortel dan sayuran lainnya. Suhu yang dingin dan tanah yang gembur memang  bagus untuk bercocok tanam. Tidak heran jika kebetulan melihat ojek membawa rumput atau hasil panen naik turun bukit layaknya crosser tetapi dengan setumpuk beban.

Sepeti itulah kegiatan penduduk sehari-hari, mencari nafkah untuk keluarga tercinta. Dari lereng gunung Cikuray mereka mengumpulkan kepingan-kepingan rupiah untuk bekal anak sekolah. Jika sudah sampai di batas hutan, pendaki  jangan lupa mengisi wadah-wadah air yang harus dibekal karena di puncak gunung Cikuray pendaki tidak akan menemukan sumber air, disitulah tempat terakhir pendaki bisa mengambil air. Sambil beristirahat melepas lelah.

di tempat itu pendaki juga sebaiknya mengisi perut karena untuk mencapai puncak tertinggi di kabupaten Garut dibutuhkan energi yang ekstra cukup. Setelah hilang rasa lelah, lapar dan dahaga pendaki sebaiknya segera melanjutkan perjalanan agar suhu tubuh tidak turun, karena jika suhu tubuh turun akibatnya badan akan lesu dan mengantuk sehingga perjalanan akan terhambat.

Perjalanan menuju puncak gunung Cikuray melewati jalur Cikajang-Carik terkadang sedikit membingungkan karena jalan tetutup rumput dan ranting. Pendaki harus lebih hati-hati dan jeli karena disana banyak terdapat jalur buntu bekas pembalak hutan dan jalur babi yang bisa menyesatkan ditambah dengan banyaknya jurang-jurang terjal yang dilewati disekitar jalur “Tapak Gerot”,  sedikit saja lengah bukan tidak mungkin pendaki bisa terpeleset dan terjatuh ke jurang tersebut.

Perhatikan tanda dari tali rapia atau kain yang diikat ke dahan dan ranting pohon sepanjang jalur. Jika berkenan pendaki boleh menambahkan atau mengganti tanda yang sudah rusak asal tidak mengakibatkan kerusakan alam. Pendakian Gunung Cikuray menggunakan jalur Cikajang – Carik dari batas hutan menuju puncak akan memakan waktu kurang lebih 3 jam. Akan menemukan beberapa  “bonus” selama perjalanan berupa jurang-jurang terjal dan berbahaya. Pendaki harus ekstra hati-hati saat mencapai dan melewati kawasan jurang sebelah kanan jalur, karena tergelincir sedikit saja maka kecil kemungkinan untuk bisa selamat.

Setelah melewati “babak bonus” itu pendaki akan menemukan tanjakan yang semakin tajam,  tetapi jangan mengeluh karena perjuangan para pendaki tidak akan sia-sia, jika bersungguh-sungguh pasti akan berhasil meraih puncak tersebut. Penantian selama berjam-jam, lelah dan letih yang dirasakan selama pendakian seketika akan hilang saat menginjakkan kaki di tanah tertinggi Kabupaten Garut ini, puncak gunung Cikuray “negeri di atas awan” yang menyimpan sejuta pesona keindahan dari sana bisa terlihat beberapa gunung lainnya seperti gunung Papandayan, Guntur, Tangkuban Perahu, Ceremai dan Galunggung.

Fhoto-fhoto di Puncak gunung Cikuray.

IMG-20160726-WA0003
Bagaikan “Negeri diatas Awan”
IMG-20160726-WA0004
Suasana Pagi di atas puncak gunung Cikuray, Garut.
IMG-20160726-WA0001
Tim Rihlah Beritalangitan.com bersama rombongan lainnya.

Mendaki gunung merupakan perjalanan batin, melatih diri dan menempa jiwa agar lebih tabah. Kegigihan mencapai puncak gunung Cikuray akan menjadi sebuah pengalaman hebat dalam diri pendaki, terbawa pulang pribadi yang rendah hati dan pantang menyerah dengan semangat yang terus berkobar.

Sebut saja “Andre” asal Tangerang seorang pendaki yang ditemui tim Rihlah beritalangitan.com, ia mengutarakan bahwa “Negeri di atas awan dan bayangan segitiga piramida ini bisa memberikan kepuasan tersendiri dan menghilangkan rasa letih dan lelah ketika mendakinya”

“Pendaki gunung bukan pemalas yang mudah menyerah terhadap keadaan, pendaki adalah pejuang kehidupan yang harapannya tidak pernah padam dan pada dasarnya Bukan gunung yang kita taklukkan, melainkan diri kita sendiri.”

Gunung Cikuray yang menjulang tinggi berhasil dilalui, namun tidak terbersit di hati pendaki untuk menjadi sombong dan tinggi hati, tetapi sebaliknya malah menemukan dirinya begitu kecil dibandingkan kebesaran alam dan segala kedahsyatannya, sehingga dengan mendaki akan menambah rasa Bersyukur pada Illahi.

(Tim Rihlah beritalangitan.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.