10 Hari Terakhir Ramadhan

0
2524

Oleh : Nizamul Adli Wibisono, ST

Segala puji Hanya milik Allah Ta’ala, satu-satunya Rabb yang berhak untuk diibadahi. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarganya, para shahabatnya, dan orang-orang yang selalu mengikuti mereka hingga hari akhir nanti.

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, tidak terasa sebentar lagi (insya Allah) kita akan memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, artinya hari-hari penuh berkah ini akan segera meninggalkan kita, dan kita pun tidak bisa menjamin apakah kita akan bertemu kembali dengan bulan mulia ini di tahun depan. Oleh karenanya jangan sampai kesempatan emas yang akan Allah Ta’ala berikan ini kita sia-siakan begitu saja. Hendaklah kita benar benar memanfaatkan hari-hari terakhir ini dengan sebaik-baiknya, mengisinya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala serta meninggalkan segala maksiat. Karena di sepuluh hari terakhir inilah terdapat keistimewaan yang tidak ada pada malam-malam Ramadhan sebelumnya. Hal ini telah dicontohkan dengan baik oleh suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana terdapat dalam hadits, “Pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya.” (HR. Muslim).

Keistimewaan 10 hari terakhir Ramadhan 

Pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan terdapat banyak keistimewaan yang tidak terdapat pada hari-hari lainnya. Di antara keistimewaan luar biasa yang Allah Ta’ala berikan kepada umat akhir zaman ini adalah adanya 1 malam yang lebih baik dari 1000 bulan, yang kita kenal dengan malam lailatul qadar. Malam saat (permulaan) al-Qur’an diturunkan, serta malam saat malaikat turun membawa rahmat dari-Nya. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam qadar (kemuliaan). Dan tahukah kamu apa malam qadar itu?. Yaitu suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turunlah para malaikat dan ruh (malaikat Jibril) dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr 1-5). Imam an-Nakha’i rahimahullah menjelaskan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (latha’iful ma’arif, ibnu rajab). Artinya ketika kita mengamalkan suatu amalan shalih pada 1 (malam) lailatul qadar, maka amalan kita tersebut lebih baik nilai dan pahalanya di sisi Allah Ta’ala daripada amalan yang dikerjakan selama 1000 bulan (atau setara 83 tahun lebih 4 bulan) pada hari-hari biasa.

Waktu turunnya lailatul qadar

Lailatul Qadar terjadi pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lebih rinci lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa malam lailatul qadar lebih memungkinkan terjadi pada 10 hari terakhir Ramadhan di malam-malam yang ganjil, yang kita tidak mengetahui di hari keberapa malam tersebut datang. Sebagaimana sabda beliau, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari). Adapun waktu pastinya maka dirahasiakan oleh Allah Ta’ala, diantara hikmahnya agar kita bersemangat untuk beribadah pada semua hari di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Ciri malam lailatul qadar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak terlalu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Baihaqi, shahih). Namun demikian kita tidak perlu bersusah payah mencari tanda-tandanya hingga menyebabkan kita lupa beribadah, akan tetapi cukup bagi kita memperbanyak ibadah pada 10 hari terakhir Ramadhan secara keseluruhan, insya Allah kita akan mendapatkannya.

Amalan di 10 hari terakhir Ramadhan

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, diantara hal yang dituntunkan oleh agama kita dalam menggapai kemuliaan lailatul qadar adalah memperbanyak amal shalih pada 10 hari terakhir Ramadhan. Beberapa amal shalih yang bisa kita lakukan adalah sebagai berikut:

[1] Melaksanakan shalat malam

Diantara amalan paling utama yang bisa kita lakukan adalah dengan mengerjakan shalat wajib 5 waktu, kemudian juga dengan melaksanakan shalat tarawih berjama’ah dan terus shalat bersama imam hingga selesai shalat. Lebih utama lagi jika kita menambahnya pada malam hari, sebagaimana hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari). Dan juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Jika seseorang melakukan shalat (tarawih dan witir) bersama imam sampai selesai, niscaya dicatat baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Dawud, shahih).

[2] Banyak berdo’a

Disunnahkan pula bagi kita untuk banyak berdo’a, Nabi kita yang mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh istri beliau, A’isyah Radhiallahu ‘anha, ”Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?” maka Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi, Shahih).

[3] I’tikaf di masjid

Disunahkan melakukan i’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan bagi orang yang memiliki kemampuan dan tidak memiliki halangan. I’tikaf adalah suatu usaha untuk selalu menetap di masjid dan menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah Ta’ala, seperti menegakkan shalat, memperbanyak membaca Al Qur’an, memperbanyak dzikir, do’a, dan istighfar. Kemudian juga meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat, seperti mengobrol, cerita, senda gurau dan semisalnya. Tidak keluar dari masjid selama i’tikaf, kecuali bila ada keperluan yang mengharuskan untuk keluar (seperti buang hajat atau sejenisnya).

Hal yang demikian juga telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana hadits dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau” (HR. Bukhari dan Muslim).

[4] Beribadah secara umum.

Pada 10 hari terakhir disunnahkan pula untuk memperbanyak ibadah secara umum, baik itu shalat, dzikir, berdo’a, membaca al-Qur’an dan lain sebagainya. Serta disunnahkan untuk mengajak keluarga kita untuk beribadah menghidupkan malam-malam istimewa. A’isyah radhiallahu ‘anha berkata, “Apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berkumpul), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Disunnahkan untuk memperbanyak ibadah di akhir bulan Ramadhan dan disunnahkan juga untuk menghidupkan malam-malamnya dengan amal ibadah.” (Syarah Shahih Muslim).

[5] Membayar zakat

Amalan shalih yang jangan sampai kita lupakan adalah membayar zakat fithri, sebagaimana dalam hadits yang shahih, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri, sebagai pembersih bagi orang yang puasa dari segala perbuatan sia-sia dan ucapan kotor serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat id maka zakatnya diterima, dan siapa yang menunaikannya setelah shalat id maka hanya menjadi sedekah biasa” (HR. Abu Dawud, Hasan). Zakat fithri juga sebagai sarana untuk saling berbagi kebahagiaan diantara kaum muslimin pada saat hari raya id, sehingga ukhuwah islamiyah bisa semakin terjaga. Sebagian besar ulama terdahulu sampai sekarang menasihakan agar pembayaran zakat fitri berupa barang, yaitu berupa makanan pokok.

Kekeliruan di 10 hari terakhir Ramadhan

Kaum muslimin yang diberkahi oleh Allah Ta’ala, masih banyak masyarakat di sekitar kita yang masih menyia-nyiakan 10 hari terakhir Ramadhan, seakan-akan waktu dan kesempatan yang Allah Ta’ala berikan ini hanyalah untuk dibiarkan begitu saja. Diantara kita masih banyak yang semakin malas dalam beribadah. Seharusnya semakin mendekati akhir semakin giat beribadah, namun malah semakin malas untuk beribadah. Akhirnya shalat tarawih pun ditinggalkan, dan shaf-shaf shalat pun semakin maju tanda semakin sedikit yang hadir, amalan lain pun banyak yang disepelekan.

Kemudian masih banyak pula diantara kita yang waktunya habis untuk mempersiapkan pernak-pernik dan aneka hidangan guna menyambut ‘idul fithri hingga lupa beribadah. Siang dan malam sibuk berbelanja kebutuhan menjelang hari raya, sibuk membeli baju baru dan membuat makanan yang akhirnya meninggalkan amalan-amalan yang bernilai pahala besar. Maka sebagai seorang muslim yang menginginkan kebaikan yang banyak, jangan sampai kita terlena dengan godaan-godaan yang melalaikan kita dari semangat beribadah kepada Allah Ta’ala, terlebih lagi pada penghujung bulan nan penuh berkah ini.

Penutup

10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah hari-hari yang sangat mulia, penuh berkah dan rahmat, penuh dengan ampunan yang sangat luas dari Allah Rabbul ‘alamiin. Terlebih lagi ada satu malam dimana malam tersebut lebih baik dari 1000 bulan. Oleh sebab itu hendaknya kita manfaatkan sebaik mungkin dengan banyak beramal shalih dan meninggalkan dosa dan kemaksiatan.

Demikianlah penjelasan tentang keistimewaan 10 hari terakhir bulan Ramadhan, semoga Allah Ta’ala memberikan kita kemudahan untuk melaksanakan amalan-amalan mulia yang dituntunkan oleh syari’at, sehingga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang disebutkan dalam sebuah hadits, “Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah” (HR. Bukhari). Semoga kita menjadi golongan orang yang beruntung di dunia dan di akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin. Wallahu a’lam.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.