Al Wala’, Salah Satu Kunci Kejayaan Islam

0
517

Mahmoud Abbas bersalaman dengan PM Israel Benyamin Netanyahu

Oleh: Abdullah al-Mustofa

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi waly-nya, maka sesungguhnya golongan (yang condong kepada) Allah itulah yang pasti menang. (QS. Al-Maaidah [5]: 56)

Di dalam ayat yang mulia tersebut di atas terdapat busyro atau bisyaroh (kabar gembira) luar biasa bagi orang-orang beriman. Kabar gembiranya adalah bahwa Allah Ta’ala akan memberikan kejayaan kepada orang-orang beriman.

Selain terdapat kabar gembira, dalam ayat itu juga terdapat informasi kunci untuk meraihnya. Apa kuncinya? Kuncinya adalah masuk ke dalam hizbullah, yakni golongan yang condong kepada Allah.

Hal ini senada dengan ayat berikut ini:

أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Mereka itulah golongan (yang condong kepada) Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan (yang condong kepada) Allah itu adalah golongan yang beruntung.” (QS. Al-Mujaadilah [58]: 22)

AL-QURAN mengutip dua istilah Hizbullah (حزب الله) atau Hizbusy-syaithan (حزب الشيطان). Dalam Al-Qomus Al-Muhith Al-Hizbu secara bahasa adalah kelompok atau kumpulan manusia.

Hizbullah (bukan nama milisi Syiah di Lebanon yang dikenal ditetapkan sebagai teroris oleh Liga Arab).

Menurut ayat ke 56 dari Surat Al-Maaidah mereka yang tergolong sebagai hizbullah adalah mereka yang memberikan wala’ (loyalitas, setia, kecintaan) kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Dengan kata lain menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai waly (penguasa, penolong. pelindung, dan yang disetiai).Hal ini semakna dengan apa yang disebut di dalam ayat ke 22 dari Surah Al-Mujaadilah bahwa mereka yang tergolong sebagai hizbullah adalah mereka yang tidak berkasihsayang dengan orang-orang kafir yang menentang Allah dan Rasul-Nya (lihat QS. 58: 22).

Dalam ayat ayat ke 55 dari Surah Al-Maaidah Allah Ta’ala menegaskan bahwa waly bagi orang-orang beriman hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat, membayar zakat dan tunduk kepada Allah.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Sesungguhnya waly kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk.” (QS. Al-Maaidah [5]: 55)

Dengan hanya ber-wala’ kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman mengandung pengertian bahwa orang-orang beriman wajib ber-baro’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir, atau dengan kata lain wajib tidak ber-wala’ kepada mereka. Hal ini karena menjadikan mereka sebagai waly merupakan larangan bagi orang-orang beriman (lihat QS. 5: 51).

Hanya kaum munafiqlah yang ber-wala’ kepada mereka (lihat 4: 138-139, 5: 52, 58: 14). Kaum munafiq bukan tergolong hizbullah, tapi lawan darinya yakni hizbusy-syaitan  (golongan yang condong kepada setan), dengan demikian mereka adalah golongan yang merugi di dunia dan akhirat (lihat QS. 58: 19).

Konteks kekinian Indonesia

Bangsa ini bisa mereguk nikmat kemerdekaan dari penjajahan secara fisik berkat perjuangan dan pengorbanan dari para pendahulu kita terutama dari kalangan ulama’ dan kaum santri. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan negara ini merupakan buah dari jihad mereka dan sekaligus merupakan warisan dari mereka.

Oleh sebab itu – dalam rangka mengisi kemerdekaan ini, dan untuk bisa merdeka dari neo-imperialisme yang bersifat non fisik – logis dan selayaknya umat Islam dari bangsa ini bersegera hanya ber-wala’ kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman dan dalam segala bidang kehidupan: ekonomi, politik, pendidikan, budaya, dan lain sebagainya. Hal ini mengandung pengertian wajib untuk ber-baro’ dari individu-individu dan institusi-institusi (lembaga, organisasi dan negara) yang memerangi dan menjajah umat Islam dalam segala bidang kehidupan.

Ber-wala’ kepada mereka adalah penjajahan. Ber-wala’ kepada mereka adalah satu faktor utama kemunduran umat dan bangsa ini (juga umat Islam di mana saja). Berhasil ber-baro’ dari mereka dan hanya ber-wala’ kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman adalah kemerdekaan sejati. Hanya ber-wala’ kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman adalah satu faktor utama menuju kejayaan bagi umat Islam di negara ini dan di mana saja. Wallahu a’lam.*

Penulis anggota MIUMI Jawa Timur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.