Pengamat Hukum: Lantaran Seorang Ahok, Satu Negara Gaduh

0
667

JAKARTA, 25/1 (beritalangitan.com) – Pengamat hukum dan hak asasi manusia (HAM), Nasrulloh Nasution menilai, kehidupan berbangsa di Indonesia saat ini sedang mengalami krisis.

Hal ini diungkapkan Nasrulloh pada saat diskusi dengan beberapa lembaga advokasi di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Krisis kebangsaan, kata Nasrulloh, dapat dilihat dari banyaknya perselisihan yang terjadi di antara anak bangsa.

“Satu sama lain saling lapor (polisi), saling hujat dan mempertontonkan kekuatan masing-masing,” ungkap Nasrulloh yang aktif dalam diskusi bertajuk ‘Arah Penegakan Hukum setelah kasus Penodaan Agama oleh Ahok’.

Ia menilai, gaduh politik dan hukum yang terjadi saat ini, diawali oleh kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu (27/09/2016).

“Sejak kasus itu, masyarakat Indonesia terpecah, dan hukum dijadikan alat untuk memuaskan hasrat masing-masing kelompok,” ujar Koordinator Persidangan Tim Advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia ini, rilis GNPF MUI.

Polisi di satu pihak, lanjut Nasrulloh, dipaksa untuk memuaskan syahwat dari kelompok tertentu dengan menindaklanjuti laporan yang sudah dibuat oleh pihak terkait.

“Akibatnya kepolisian disibukkan dengan banyaknya laporan, dimana laporan tersebut kalau dihubungkan masih terkait dan ada hubungannya dengan perkara Ahok sebagai terdakwa penodaan agama,” jelas pengacara publik ini.

Jadi menurutnya, sudah pantas dan selayaknya Ahok dihukum berat.

“Hulu dari kegaduhan adalah lantaran satu orang, akibatnya satu negara gaduh. Hukum menjadi pedang tajam yang siap menghunus, khususnya yang dianggap sebagai lawan dari penguasa,” tandasnya.

Netizen Kampanyekan #GaduhKarenaAhok

Sementara itu, Selasa (24/01/2017) kemarin, sidang lanjutan ketujuh kasus Ahok digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan.

‘Mengawal’ sidang itu, masyarakat pengguna internet (internet) ramai-ramai menyuarakan kampanye bahwa Ahok sebagai sumber kegaduhan di Indonesia saat ini.

Pantauan hidayatullah.com, tanda pagar (tagar) #GaduhKarenaAhok pun saat itu menjadi salah satu tema paling tren dibahas para pengguna media sosial Twitter (trending topic Indonesia/TTI).

“Heran, negara jadi #GaduhKarenaAhok tapi biang kegaduhannya gak diilangin,” kicau netizen dengan akun RAGE AGAINTS ‏@Mesin_Kemarahan, Rabu (25/01/2017) dinihari.

“Indonesia damai bila penista agama kalau segera dipenjara,” kicau #InfoKotaJakarta ‏@InfoKotaJakarta.

Sementara J. C. Nugroho lewat akunnya ‏@jcnugie menulis:

“Rakyat lelah #GaduhKarenaAhok. Maka segera #PenjarakanPenistaAgama.”

Anri ‏@AnriCyberArmy menulis:

“Berbagai elemen masyarakat jadi bergesekan karena ulah si penista agama #GaduhKarenaAhok.”

Zidane ‏@Triball88:

“Sudah akui mulutnya bikin gaduh tapi belum sadar juga, masih kekeh bela diri atas penistaan al-Qur’an #GaduhKarenaAhok #GaduhKarenaAhok.

Kata Ahok

Pada pekan-pekan awal bergulirnya kasus Ahok, setelah didesak dan dikecam publik berbagai penjuru, Ahok sudah mengaku meminta maaf atas kegaduhan yang terjadi.

Namun, dalam beberapa kesempatan temu media, Ahok membantah jika ia bermaksud melakukan penistaan agama atas pernyataannya menyinggung al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu, 27 September 2016 lalu.

“Kamu bisa lihat tindak tanduk saya, ada enggak mau musuhin Islam. Makanya saya minta maaf untuk kegaduhan ini,” ujar Ahok di Balai Kota, DKI Jakarta, Senin (10/10/2016) lalu kutip Cnnindonesia.com.

“Kalau saya membuat negara ini gaduh dan jadi susah, saya bersedia ditangkap, dipenjara,” ujarnya kemudian di Jl Ki Mangun Sarkoro, Jakarta Pusat, Sabtu (05/11/2016), lansir Kompas.com.* (Hidayatullah.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.