Air Mata Menjelang Hari Raya

0
1255

Beritalangitan.com – Hari-hari Ramadhan telah memasuki detik-detik perpisahan. Hari-harinya tinggal tersisa dalam hitungan jam saja. Ibarat pementasan sebuah drama, kita hampir sampai pada ujung akhir sebuah cerita. Dan biasanya, ujung sebuah kisah berakhir dengan melibatkan emosi lebih dalam baik penonton maupun aktor yang memerankannya.

Tidak seperti bulan-bulan berlalu, akhir Ramadhan selalu ditandai dengan dua kutub emosi yang saling berhadapan; sedih dan gembira. Kesedihannya terkadang teramat dalam sehingga begitu membekas hingga sebelas bulan ke depan. Sedangkan kegembiraannya hanya ada yang berlangsung sesaat, setelah itu hilang perlahan.

Kegembiraan yang hilang perlahan itu, adalah kegembiraan kasar yang ditandai dengan  kesibukan menghadapi lebaran. Kesibukan atas baju baru, kue kering, ketupat, daging atau rencana mengisi liburan hari raya. Atas keperluan itu isi kantong dikuras, tabungan ditarik atau barang berharga sementara waktu digadaikan. Semuanya dilakukan agar hari raya dihadapi dengan kegembiraan yang serba baru, serba lezat dan serba menyenangkan. Bagaimana dengan pengalaman ruhani dan ketaatan di saat Ramadhan? Apakah kesungguhan meraih ampunan, pahala dan malam kemuliaan sama kerasnya seperti usaha menghadirkan kebahagiaan itu? Barangkali pertanyaan seperti ini teramat mahal untuk dijawab, bahkan boleh jadi tidak dikehendaki sama sekali.

Bukanlah rahasia, di antara mereka ada orang-orang yang sama sekali tidak peduli dengan puasa tetapi hanya peduli dengan baju baru dan segala pernak-pernik hari raya. Mereka yang bermuka kecut saat Ramadhan tiba melebihi kecutnya terpidana mati saat akan dieksekusi dan sumringah melebihi sumringahnya anak kecil mendapat mainan baru saat Ramadhan berakhir sejak bedug bertalu-talu. Kesedihan mereka nampak bukan karena Ramadhan yang berlalu, tetapi karena tidak punya cukup modal untuk membeli segala keinginan serba baru.

Kini, mari kita berkaca pada generasi terbaik dari ummat Muhammad SAW.. Generasi kebanggaan ummat yang ketaatannya tidak pernah lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Generasi para sahabat dan tabi’in masa awal. Generasi yang rela menggenggam bara api, asalkan agamanya selamat. Generasi yang tidak sungkan menanggalkan baju dan hartanya untuk fakir miskin dan ongkos tegaknya dakwah. Generasi yang lebih merindukan kematian syahid, asalkan Islam tetap berwibawa di mata para pendusta. Mereka yang sumringah berseri ketika Ramadhan menjelang dan meleleh air mata duka saat Ramadhan tinggal setepi di akhir bulan.

Di manakah generasi itu sekarang?

Kita semua percaya, begitu ada banyak hamba Tuhan yang mewarisi semangat para shalihin generasi pertama itu. Meskipun tidak 100 persen klop seperti mur dengan bautnya. Generasi yang mengisi setiap detik Ramadhan dengan taqarrub. Siangnya mereka berpuasa dan beraktifitas ibadah, malamnya berdiri dalam rangkaian munajat gerak takbir, ruku dan sujud. Lisannya digetarkan dengan tilawah, dikupas inti maknanya, lalu gerak tubuhnya sepakat dengan nilai-nilai hasil bacaan yang tercermin dalam aktivitas sosialnya. Maka, menjadilah ia lebih khsyu, lebih arif, lebih tawadhu, lebih santun, lebih bijak, lebih disiplin, lebih sabar, lebih dermawan dan seterusnya. Tentu, yang paling akhir adalah lebih taqwa dari sebelumnya.

Bayangkan, siapa yang rela berpisah di saat ”bermesraan” dengan kekasihnya? Siapa yang tidak bersedih bila diputus segala kenikmatan dari hidupnya? Sementara tidak ada jaminan yang memastikan ia dapat menjumpai kemesraan dan kenikmatan itu di masa yang akan datang.

Ramadhan adalah salah satu puncak kemesraan dalam munajat dengan Allah Yang Maha ”Cantik”. Satu bulan fasilitas nikmat Allah bagi yang ingin mereguk kenikmatan beribadah siang dan malamnya. Maka wajarlah apabila ada manusia-manusia se”kelas” sahabat dan tabi’in menjadi orang yang paling gembira saat Ramadhan tiba dan menjadi yang paling berduka saat ia pergi meninggalkannya. Mereka gembira dan larut dalam lautan zikir dan taqarrub seakan ingin agar sepanjang tahun adalah Ramadhan. Lalu begitu takut dan gelisah jika umurnya tidak mencukupi untuk sampai berjumpa pada Ramadhan berikutnya. Maka, air matapun berbicara.

***

Ada air mata yang mengalir dari kelopak mata mereka berdua. Bibir-bibir bergetar menahan isak agar tertahan di tenggorokan saja. Semakin kupandang mereka, semakin banyak air yang keluar. Berulangkali tepian baju digunakannya untuk menahan jatuhnya ke tanah. Tapi kesedihan yang tengah dirasakan, seolah tidak memberi kesempatan air mata itu berhenti berurai. Muka keduanya sembab.

Dengan terbata-bata seorang dari kedua perempuan itu bercerita. Cerita yang terpotong-potong karena bersahut-sahutan dengan isak yang mulai hilang perlahan. Sampai  akhirnya menjadi jelas apa yang tengah mereka tangisi.

”Masa sih, dari Jakarta Timur ke Depok saja tidak punya cukup uang untuk berlebaran dengan keluarga di sini. Apa mungkin?”.

Sepenggal kalimat ini memancing kembali buraian air mata kesedihan. Semakin larut dan dalam. Rupanya, bukan sekedar persoalan tidak bisa berkumpul pada saat lebaran yang menjadi pangkal tangisan ditumpahkan. Tetapi ketiadaan cukup uang untuk sekedar mengganti sepotong pakaian baru untuk kedua anak orang yang ditangisi itu.

”Biarlah orang tua tidak memakai baju baru. Tapi jangan sampai anak-anak kehilangan kegembiraan lebaran hanya karena tidak punya baju baru. Apalagi di usia baru kelas tiga SD sudah kuat berpuasa penuh sampai Maghrib. Ya Allah, apakah sudah sesempit itu cobaan rizki anak dan cucu saya?”.

”Jemput saja mereka biar sama-sama merasakan kegembiraan bersama keluarga di sini. Soal ongkos jangan terlalu dirisaukan”, aku berusaha membesarkan hati mereka.

Hampir-hampir aku larut terlalu jauh dengan kesedihan kedua perempuan itu. Kesedihan karena kemungkinan tidak bisa berkumpul saat lebaran dan mengingat bocah kecil cucu dan keponakan mereka yang belum punya baju baru untuk berlebaran. Sejenak aku ingat anak-anakku di rumah. Ingat betapa gembiranya mereka saat dibelikan baju untuk lebaran. Batinku mengiyakan, kegembiraan mereka adalah kebahagiaan orang tua. Bahagia bukan semata-mata mampu membuka senyum dan tawa mereka dengan baju baru. Tetapi kebahagiaan ruhani atas keberhasilan mereka belajar berpuasa sebulan penuh di usia yang masih terbilang sangat kecil. Sehingga harapan terbentang luas bahwa mereka akan disiplin terbiasa berpuasa saat dewasa kelak.

Semua anak-anak sama dalam sedih dan gembira, siapapun. Kesedihan dan kegembiraan yang alami dan mampu membuat orang tua merasa nelangsa karena kesedihannya dan merasa ridha melihat kegembiraan mereka. Tetapi nasiblah yang memisahkan mereka dalam sedih dan gembira.

Orang-orang kampung memang memiliki respon yang khas saat Ramadhan dan saat lebaran tiba. Rata-rata mereka taat menjalankan puasa, baik orang tua maupun anak-anak di bawah umur baligh. Sehingga, nuansa Ramadhan sangat kental terasa sejak awal hingga akhirnya. Sangat jarang orang kampung yang tidak berpuasa bebas berkeliaran mengumbar makan atau minum. Mereka lebih memilih ”ngumpet’ untuk memenuhi kebutuhan perutnya karena malu tidak berpuasa. Tidak seperti di kota-kota besar seperti Jakarta, di mana Ramadhan dihargai di hari-hari pertama, kedua atau paling bertahan selama satu minggu. Selebihnya sama seperti bulan-bulan biasa. Orang begitu bebasnya makan, minum atau merokok di siang hari di tempat terbuka tanpa merasa risih. Bisa jadi karena komposisi masyarakat yang heterogen dengan adat, budaya dan keyakinan yang tidak seragam. Tetapi, tidak sedikit pula orang kota yang ketaatannya pada puasa melebihi ketatan berpuasanya orang kampung. Bahkan boleh jadi nilai puasanya lebih hebat sebab godaannya jauh lebih berat dan kompleks dari pada berpuasa di kampung. Allahu a’lam.

Begitulah, saat lebaran pun orang kampung memang khas. Dari mulai makanan tradisi yang di anggap ”wajib” hadir di meja jamuan sampai berganti pakaian baru yang rata-rata hanya setahun sekali mereka lakukan. Jadi dapatlah dirasakan pilunya, apabila tradisi setahun sekali itu luput dari jangkauan kantong mereka untuk membahagiakan anak-anak sebagai apresiasi nilai puasa mereka. Bagi mereka, ungkapan”Laisal ieed man libaasuhu jadiid, walaakinnal ieed liman thoo’atuhuu yaziid”. Bahwa bukanlah ied(kembali) kepada kemenangan itu ditandai dengan baju baru, tetapi ditandai dengan ketaatan yang bertambah, hanya berlaku bagi orang dewasa. Sementara bagi anak-anak, ada dan tidaknya baju baru adalah soal sedih dan gembira, yang nyatanya dapat memancing air mata orang dewasa.

Pulang ke rumah sewa membawa syukur yang bercampur prihatin. Gembira yang ternyata tidak seluruhnya lepas sebab tidak sampai hati melihat kegembiraan orang lain terenggut di depan mata.

”Bunda, masih adakah kesanggupan untuk kita berbagi?”.

Kata pembuka ini seolah seperti anak kunci untuk mengutarakan kalimatku selanjutnya. Mengalirlah deras pengalaman air mata yang barusan kujumpai. Syukur yang kesekian kali, perasaan kami berbanding lurus, segaris dan bertemu dalam satu titik paradigma berbagi. Maka dengan perasaan yang hanya dimengerti oleh kami masing-masing, wanita ibu anak-anakku itu memisahkan satu stel baju koko, dua potong T-shirt dan enam potong pakaian dalam yang beberapa hari lalu dibelinya.

”Semoga ada hamba Allah yang berkenan menggenapkan kesanggupan kita ini. Atau orang tuanya dilimpahkan rezeki”.

”Aamiin”.

Aku kembali melanjutkan bacaan yang belum rampung dengan perasaanku sendiri, sedangkan ia kembali ke dapur mempersiapkan lauk berbuka nanti sore dengan perasaannya sendiri pula. Sementara kami tidak sanggup meraba isi hati kami masing-masing.

Titik bening dan hangat tak kubiarkan jatuh dari kedua kelopak mataku sebab segera kusambar dengan ujung lengan kemeja yang kukenakan. Betapa aku terinspirasi dengan kisah yang dibawakan seorang penceramah beberapa malam lalu lepas tarawih. Kisah baginda Nabi dengan seorang putri yatim di hari Raya.

Kisah ini terjadi di Madinah di pagi Idul Fitri. Rasulullah melihat di sebuah sudut ada seorang gadis kecil sedang duduk bersedih yang mengenakan pakaian tambal-tambal dan sepatu yang telah usang.

Kanjeng Nabi menghampiri gadis kecil itu.  Gadis kecil malu, lalu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu. Dibelainya kepala gadis itu  dengan kasih sambil berujar :

“Anakku, mengapa menangis? Ini hari raya bukan?” Gadis kecil itu terkejut dan hanya diam. Dengan tetap tertunduk tanpa melihat siapa yang bertanya, itu bercerita :

“Di hari raya yang suci ini, semua anak berharap dapat merayakannya bersama orang-orang tercinta dengan penuh kebahagiaan. Bermain sesama mereka dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Saat hari raya terakhir bersamanya, Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Betapa bahagianya aku saat itu. Hingga suatu hari, ayahku pergi berperang bersama Rasulullah SAW. dan mendapatkan syahidnya. Sekarang ayahku telah tiada bersamaku. Aku telah menjadi gadis yatim. Siapa lagi yang menangis untuknya selain aku?”

Kanjeng Nabi terharu seraya membelai kepala gadis kecil itu sambil berkata: “ Hapuslah air matamu anakku. Angkatlah wajahmu dan dengarkan apa yang akan kukatakan. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fatimah menjadi kakak perempuan dan Aisyah menjadi ibumu? Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?”

Seketika gadis kecil itu berhenti menangis begitu mendengar empati sosok agung di depannya. Dipandangnya dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Hatinya melonjak, benar, ia adalah Rasulullah SAW.. Ia tidak menyangka orang yang menemui dan mendengar keluh kesah kesedihan dan gundah hatinya adalah manusia paripurna. Ia begitu amat tertarik atas tawaran Rasulullah SAW.. Tapi, ia tidak bisa berkata sepatah katapun. Ia hanya dapat menatap wajah mulia Rasulullah SAW. dan mengangguk perlahan tanda persetujuannya. Gadis yatim kecil itu lalu bergandengan tangan dengan Rasulullah SAW. menuju ke rumah. Hatinya sumringah. Sulit dilukiskan betapa cair dan berbunga hatinya menggenggam tangan Rasulullah SAW. yang lembut bagai sutra itu.

Sesampainya di rumah, gadis kecil yatim itu dimandikan, disisir rambutnya, dipakaikannya gaun yang indah, diberikannya makanan dan diperlakukan layaknya putri sendiri. Lalu ia diantar keluar setelah dibekali uang sekedarnya agar dapat bermain bersama anak-anak lainnya. Anak-anak lain merasa iri pada gadis kecil dengan gaun yang indah dan wajah yang berseri-seri itu. Mereka merasa keheranan, lalu bertanya :

“Hai gadis kecil, apa gerangan yang telah terjadi atasmu? Mengapa kamu terlihat sangat gembira?”

Sambil menunjukkan gaun baru dan uang sakunya gadis kecil itu menjawab :

“Akhirnya aku memiliki seorang ayah! Di dunia ini, tidak ada yang bisa menandinginya! Siapa yang tidak bahagia memiliki seorang ayah seperti Rasulullah? Aku juga kini memiliki seorang ibu, namanya Aisyah, yang hatinya begitu mulia. Juga seorang kakak perempuan, namanya Fatimah. Ia menyisir rambutku dan mengenakanku gaun yang indah ini. Aku merasa sangat bahagia, dan ingin rasanya aku memeluk seluruh dunia beserta isinya.”

Subhanallah.

Ya Rabb, di penghujung Ramadhan ini hamba mohon ampun sekiranya belum serius hamba bertaqarrub kepada-Mu. Izinkan hamba bertemu Kanjeng Nabi junjungan hamba, walaupun sekelebat lewat mimpi dalam tidurku.

Depok, di penghujung Ramadhan 1430 H.

Abdul.

(cv)

Sumber : eramuslim.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.