Al Ghazali: Ilmu Yang Dewasa

0
354

Oleh: Bambang Wahyu Nugroho SIp.,MA*

Imam Al-Ghazali (lengkapnya Abu Hamid Al Ghazali) menerangkan bahwa puasa adalah indikator dari iman. Hadits Nabi saw dari Ibn Mas’ud, menyebutkan, “Ash shaumu nisfush shabri, wash shabru nisful iman.”

Dengan demikian, puasa juga merupakan sarana untuk mengasah dan membentuk keimanan yang semakin kuat dan semakin dewasa.

Iman pada diri manusia bukanlah atribut spiritual yang langsung sempurna. Mungkin pada dasarnya rasa iman bersifat taken for granted yakni merupakan fithrah atau bawaan lahir setiap manusia. Namun demikian, manusia itu harus menumbuhkan dan mengembangkan iman tersebut menuju kesempurnaannya. Analog dengan pertumbuhan manusia, iman juga tumbuh dan berkembang. Dari iman yang infantile atau naïve menuju iman yang mature. Dari iman yang kekanak-kanakan menuju iman yang matang atau dewasa.

Di dalam Quran surat Al-Ankabut ayat 2, Allah SWT berfirman, yang terjemahannya:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi?

Memasuki bulan Ramadhan tahun 1441 hijriyah ini, kita semua, bahkan seluruh ummat manusia di dunia ini, tengah mengalami ujian berupa pandemi virus corona. Dalam kacamata iman, ini adalah sebuah ujian bagi orang-orang yang mengatakan “kami telah beriman.”

Ujian terhadap iman adalah sarana untuk menilai, seberapa kelas keimanan kita itu. Apakah kekanak-kanakan atau telah dewasa.

Iman yang kekanak-kanakan, pertama, tidak dapat membedakan antara sarana dan wujud. Ketika berdoa memohon kekayaan kepada Allah, misalnya, wujudnya harus kekayaan. Ketika meminta kesehatan, wujudnya harus kesehatan. Kanak-kanak belum menyadari bahwa kekayaan atau kesehatan, hanyalah sarana hidup bagi manusia.

Wujud kekayaan bisa beragam, seperti barang dagangan, kesempatan kerja, atau peluang usaha. Demikian pula wujud kesehatan bisa berupa sikap pengetahuan yang tepat tentang penyakit, kehati-hatian, dan sadar risiko.

Yang kedua, kalau meminta sesuatu dari Allah, sikap kekanak-kanakan ditunjukkan dengan merengek, menangis, atau memaksa dengan berteriak-teriak atau bahkan marah-marah. Seperti bayi yang menangis untuk menimbulkan rasa iba. Seperti anak kecil merengek kepada orang tuanya untuk meminta sesuatu, kadang sambil berteriak-teriak sehingga orang tuanya malu dan dengan terpaksa memenuhi permintaannya.

Ketiga, kalau menginginkan sesuatu, maunya langsung ada. Bahasa Jawanya, “sak dek sak nyet” artinya harus ada seketika itu juga. Ketika seorang anak meminta dibelikan jajanan atau mainan, anak tersebut tidak sabar menunggu karena dia mau kudapan atau mainan itu harus langsung ada di tangannya.

Keempat, kalau keinginannya tidak dipenuhi maka dia akan marah, menyalahkan pihak lain, bahkan mengamuk. Bayangkan jika keinginan seorang anak tidak segera dipenuhi. Anak tersebut bisa ngambek, menangis, atau malah mengamuk.

Orang yang sudah berumur pun terkadang masih bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Jika seorang penjahat menginginkan sesuatu dari korbannya, dia akan mengelabui, menipu atau memaksa korban.  Maunya tuntutannya harus langsung dipenuhi seketika itu juga. Kalau keinginannya tidak dipenuhi, maka penjahat itu pun mengamuk, melukai, bahkan tega membunuh korbannya.

Contoh lainnya, koruptor adalah orang yang ingin memperkaya diri dengan menipu rakyatnya. Dia ingin mencari uang banyak dan harus langsung memperolehnya, tidak melalui kerja keras dan jujur dalam waktu yang relatif lama. Dan kalau tidak berhasil melakukan korupsi, dia akan menggerutu, marah, dan menyalahkan komplotannya.

Orang yang sudah matang tidaklah demikian sikap hidupnya. Pertama, dia dapat membedakan antara tujuan dan sarana. Kesejahteraan adalah tujuan. Sarana untuk mencapainya dapat berujud kesempatan kerja, barang dagangan, atau peluang usaha. Dengan menjalani pekerjaan, berdagang atau berbisnis, seseorang akan mendapatkan kesejahteran yang diinginkannya, insya Allah.

Demikian pula kesehatan adalah tujuan. Dalam krisis kesehatan sedunia akibat pandemi ini, sarana untuk mencapainya adalah pengetahuan yang tepat mengenai penyakit tersebut, sikap hidup yang disiplin terhadap kebersihan dan kesehatan, serta kesadaran penuh terhadap resiko penularannya.

Kedua, jika menginginkan Allah memberi kita kesejahteraan dan kesehatan, janganlah bersikap mengemis, tetapi tunjukkan sikap sedemikian agar Allah bangga kepada kita. Iman yang dewasa mengesankan Allah dengan prestasi, kompetensi, atau karya-karya terbaik. Inilah beda antara mental pengemis dan mental mujahid.

Ketiga, kalau menginginkan kesejahteraan dan kesehatan, iman yang dewasa menyadari bahwa perwujudan keinginan itu melalui proses. Kadang prosesnya tidak mudah, memakan waktu, membutuhkan energi, dan memerlukan kesabaran yang luar biasa. Seorang pengusaha yang sudah jatuh-bangun dalam berbisnis lebih dewasa daripada yang baru belajar usaha menggunakan uang pemberian orang tuanya.

Dalam situasi seperti sekarang ini, untuk tetap sehat, kita semua harus berproses dengan bertahan di rumah saja, menjauhkan diri dari berkumpul-kumpul, dan lebih rajin membersihkan diri dan lingkungan terdekat kita.

Keempat, jika keinginan belum terpenuhi, iman yang dewasa akan segera membawa seseorang ber-muhasabah yakni mengevaluasi-diri, adakah hal-hal yang kurang tepat dalam berproses. Tidak buru-buru menyalahkan diri sendiri maupun orang lain, tetapi mencari hikmah di balik kegagalan.

Bahkan pikirannya tetap positif dengan menganggap bahwa apa pun hasilnya, itulah yang terbaik yang Allah berikan, tanpa terkesan putus asa. Pendek kata, iman yang dewasa menganggap kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.

Sebagai umat beriman, hendaknya kita mendewasakan iman kita.

Pertama, jika berdoa dan mengharapkan sesuatu dari Allah swt, cukuplah dengan doa yang khusyu’ dan lirih.

Kedua, buatlah Allah swt terkesan dengan kinerja yang bagus, prestasi gemilang, kemampuan yang mumpuni, atau amalan-amalan terbaik kita.

Ketiga, semua capaian memerlukan proses, perantara, dan peran serta banyak pihak. Kita harus bekerja sama dan berproses bersama-sama orang lain.

Keempat, jika harapan belum terkabulkan, maka tidak berputus harap, justru harus mengevaluasi diri dan memperbaiki doa dan ikhtiar.

Wallahu a’lam bi shawab

*Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.