Gelombang Antusiasme ‘Kebangkitan Umat’

0
518

Pemandangan usai shalat Subuh dalam gerakan “Subuh Berjamaah Nasional 1212” yang digagas GNPF-MUI hari ini

beritalangitan.com – SIAPA yang bisa menahan gelombang yang Allah Ta’ala sendiri yang mendatangkan? Sungguh telah nyata bahwa kekuatan apapun tak mampu menghentikan, apalagi mencegahnya. Aksi Damai Bela Islam atau Aksi 212 telah memberikan fakta yang begitu mengagumkan. Bagaimana beragam upaya untuk menghambat, merintangi, justru semakin menyalakan bara antusiasme Ke-Tuhan-an kaum Muslimin.

Terbukti, gelombang itu tidak berakhir dengan usainya Aksi Damai Bela Islam atau Aksi 212. Gelombang itu menjelma dalam beragam bentuk kesadaran baru, kegiatan spiritual yang mengharu biru dan kecintaan yang kian mendalam terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dengan beragam wujud seruan, himbauan dan upaya nyata berupa tindakan-tindakan permulaan yang didasari keyakinan mendalam bahwa inilah momentum kebangkitan umat Islam dunia, yang dimulai dari Indonesia.

Berita tentang gelombang itu terus mengisi barisan teratas headline beragam pemberitaan media, baik media Islam maupun media mainstream.

Sebuah laman berita online populer di negeri ini mewartakan bahwa “Masjid Pusdai, (yang beralamat di) Jalan Diponegoro, Bandung, Senin (12/12/2016) sekitar pukul 02.00 WIB, para jamaah sudah mulai berdatangan. Sebagian besar jamaah mengenakan pakaian putih-putih.

Masjid dua lantai ini pun penuh bahkan hingga ke pelataran teras masjid. Hingga pukul 03.00 WIB jamaah masih terus berdatangan untuk mengikuti shalat subuh berjamaah.”

Info tersebut baru sebatas wujud antusiasme Ke-Tuhan-an di satu masjid. Belum masjid lainnya di seluruh wilayah Nusantara. Sebuah masjid perumahan yang mungkin berkapasitas ratusan jama’ah di kisaran Cibinong Bogor pun mendadak berbeda dari sebelumnya.

Seluruh shaf jama’ah terisi penuh, semua serempak dengan pakaian putih-putih, dan mereka datang untuk menikmati jamuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam rumah-Nya, dengan khusyuk dzikir dan menyimak taushiyah dengan hati yang telah siap menerima energi baru diiringi spirit membara merasakan betapa indahnya mengamalkan ajaran Islam.

Subhanallah, semua berjalan dengan persiapan yang relatif kurang memadai dari sisi waktu dan perencanaan. Namun, gelombang ini bukan bekerja di atas mekanisme manajemen industri. Ini adalah gelombang Ilahiyah, dimana semua hadir dengan sangat cepat, massif dan sangat mengagumkan siapapun yang mau berpikir.

Seorang ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Muhajirin di Perumahan Kementerian Pertahanan dan Keamanan Cibinong Bogor, Bapak Sunarto dalam sambutannya usai Shalat Subuh mengatakan bahwa acara yang digelar sebagaimana masjid besar di negeri ini juga mengadakan adalah keputusan Allah.

“Mohon maaf bila acara Subuh Berjama’ah 1212 ini diselenggarakan dengan sangat mendadak. Bahkan dari pengurus masjid sebenarnya tidak akan menggelar acara ini. Mengingat di akhir pekan, jama’ah banyak yang beraktivitas bersama keluarga. Apalagi, ini adalah moment libur panjang. Begitu kami berpikir. Tetapi, berbeda dengan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dengan sangat cepat agenda ini diputuskan dan Alhamdulillah, masjid terisi penuh oleh jama’ah Shalat Subuh,” paparnya.

Saya yang berada di masjid tersebut merasa terkejut. Super sekali, tanpa rencana namun begitu mempesona.

Tak terbayangkan sebelumnya olehku, bahkan mungkin oleh seluruh kaum Muslimin dimana mereka menikmati keindahan spirit Subuh Berjama’ah 1212 ini.

Bagaimana tiba-tiba masjid begitu meriah dalam perhelatan keimanan dimana aura kebahagiaan memancar dari setiap wajah yang hadir penuh kesungguhan. Bak kelompok masyarakat yang menemukan sumber mata air yang bisa mengobati kehausan, mereka beri makan dan minum ruhani mereka dengan penuh keridhoan.

Tetapi, inilah mungkin sebagian dari fakta atau wujud dari apa yang Rumi nyatakan, “Saat kaulakukan sesuatu dari jiwamu, kaurasakan sungai mengalir dalam dirimu, sebuncah kegembiraan.”

Persis seperti yang Allah nyatakan di dalam Al-Qur’an:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ طُوبَىٰ لَهُمۡ وَحُسۡنُ مَـَٔابٍ۬ (٢٩)

“Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (QS. Al-Ra’d [13]: 29).

Terlebih, sang da’i yang memberikan taushiyah di Masjid Al-Muhajirin, Ustadz Asep Supriatna begitu menjiwai apa yang dipaparkannya, sehingga dengan gaya penjelasan bak gelombang tranversal tentang bagaimana kecintaan Nabi Muhammad terhadap umatnya, seluruh jama’ah hanyut dalam suasana batin dimana rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya kian membuncah.

“Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah sedikit pun menggunakan waktu untuk memikirkan dirinya. Bahkan kelak, di padang mahsyar, saat tidak ada naungan selain naugan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, saat seluruh manusia, bahkan para Nabi sebelum Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam mengkhawatirkan kondisi dirinya, di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dengan kecintaan mendalam kepada kita, menengadahkan tangan setelah sekian lama sujud di hadapan-Nya sembari berucap; ‘Ya Rabb, Ummati, Ummati, Ummati, ya Rabb’ (Ya Allah, ummaku, ummatku, ummatku ya Allah,” jelas Ustadz Asep Supriatna dengan suara bergetar yang disusul derasnya bulir air mata yang tak mampu dibendungnya.

Sementara itu di media sosial, hastag Subuh Berjamaah 1212 menjadi trending topic. Dan, dalam hati, saya hanya bisa takjub betapa gelombang antusiasme Ke-Tuhan-an umat Islam adalah benar dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan akan menjadi cahaya yang cepat atau lambat akan menerangi bumi pertiwi ini.

Sebab, gelombang ini tidak akan berhenti. Bak kurva dalam sebuah grafik, boleh jadi ini adalah titik nol kedua, dimana Islam tumbuh berkembang di masa Nabi yang akan terus membumbung tinggi hingga 700 tahun mendatang. Terlebih secara gamblang dinyatakan dalam Risalah Nubuwwah, bahwa kelak akan lahir tatanan kehidupan yang berdiri di atas landasan kepemimpinan Nabi Muhammad.

Semoga ini sebagai cikal-bakal, dan tanda-tanda kebangkitan umat yang dirindukan bersama. Wallahu a’lam. (www.hidayatullah.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.