Ibrah Ramdhaniyah

0
652

Oleh: Prof. Dr. KH. Maman Abdurahman, MA
(Ketua MUI Pusat)

Ibadah yang berkaitan dengan bulan yang amat panas itu, “ramdha”, sebagai suatu ”ujian” sejauh mana keimanan dan kesabaran manusia dapat bertahan dari godaan haus, lapar dan segala yang berkaitan dengan keutamaan Ramadhan. Tujuan shaum untuk memperoleh ketakwaan yang memerlukan ibadah lain secara prima, dan manusia diperintahkan ibadah,
sebagaimana juga diterangkapan dalam al-Baqarah/: 21, yang artinya:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah/2: 21)

Pada konteks ini yang menarik adalah bulan Ramadhan yang sering juga disebut bulan Suci karena memang untuk menyucikan dari dosa dan diakhir disebut Idul Fitri, “hari Raya Fitri, Kembali pada Kesucian”. Karena itu, orang sering menyebut bulan Ramadhan, sebagai ”Bulan Suci”. Bulan Ramadhan memiliki pelajaran atau ibrah dan adakalanya disebut hikmah yang amat relevan dengan kehidupan kaum Muslimin.

Berangkat dari surat al-Baqarah/ 2: 183, yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
(QS. al-Baqarah/ 2: 183)

Bagi kaum Muslimin, khususnya shaum memiliki ibrah, sehingga shaum bukan hanya sekedar menyelesaikan masalah-masalah Keimanan, Spiritual, Ibrah Ruhiyah, tetapi memiliki Ibrah Ubudiyah Jismiyah–Shihiyah, Ilmiyah dan Ibrah Ijtimaiyah. Pada tulisan ini yang akan dikemukakan terlebih dahulu adalah Ibrah Ruhiyah. Dimaksud dengan Ibrah atau hikmah Ruhiyah di sini adalah shaum memiliki nilai spiritualitas dan ritual yang amat tinggi. Ibrah spiritual karena akan berkaitan dengan keimanan itu sendiri yang pada ujungnya menjadi orang shaum sampai pada tingkat ketinggian martabatnya, yaitu muttaqin. Kosakata taqwa dan orangnya muttaqin dalam Al-Qur’an disebut sebanyak, sekitar 241 kali, seperti pada ayat-ayat berikut dalam surat Al-Baqarah/2: 2, 21 dan 177.

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah/2: 21)

“….dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. al-Baqarah/2: 177)

Orang muttaqin adalah orang yang dijanjikan oleh Allah, bahwa Allah akan selalu bersama orang taqwa (al-Baqarah/2: 194), dan Surga pun disiapkan, bagi orang yang takwa (Ali Imran: 133). Pada ayat tentang shaum pun kata takwa disebut dua kali, (al-Baqarah:/2: 183 dan 187). Memperbanyak doa pada waktu shaum, adalah suatu yang disyariatkan, sebagaimana disebutkan pada surat al-Baqarah/2: 186.

Orang sudah shaum sehat secara ruhaniyah. Akan terjaga dalam bahasa dan perilaku karena terbingkai dengan “taqwa itu”. Dalam konteks ini pula shaum adalah memelihara dan melatih kesabaran (dalam Al-Qur’an kosakata sabar disebut 100x), maka dengan menahan sesuatu makanan atau minuman yang orang harus bersabar sampai waktu yang ditentukan dan shaum dinyatakan, shaum itu Nishfusshabri, dari Abu Nu’aim , ini yang pertama.

Kedua, Salah faktor utama dalam kehidupan, baik beragama maupun tidak adalah juga kesehatan, baik fisik maupun psikis, sebagai ibrah atau jismiyah. Betul bahwa shaum sebagai suatu ritual ibadah fisik, tidak makan dan minum siang hari, dll.

Di sisi lain secara fisik shaum tidak kalah pentingnya karena menyehatkan, sesuai dengan hadis “Shumu tashihhu”,HR. At-Tirmidzi. Shaum tidak dipungkiri sebagai upaya membangun kesehatan dan keseimbangan fisik sesorang terutama untuk mengurangi metabolisme yang secara terus menerus, bahkan dapat dijadikan upaya untuk mengurangi obesitas dan kegemukan. Diberitakan tahun 2007 bahwa tahun 2010, “Separuh penduduk dunia akan menderita kegemukan”, dan ternyata paling tidak di negara-negara maju, seperti Amerika penyakit kegemukan ini melanda mereka dan sebagai pembunuh utamanya. Tingkat kematian akibat kegemukan terjadi di Amerika. Diberitakan (PR)

“Di Amerika terdapat 47 juta penderita Sindrom Metabolik , ….Sindrom metabolis ini akan menjadi masalah kesehatan utama, melebihi kebiasaan merokok sebagai faktor resiko utama penyakit jantung”. Namun, di Indonesia malahan bukan kegemukan malah kekecilan (basa Sunda Begang), kurang makan dan vitamin. Shaum adalah “Salah satu benteng menghindari “kegemukan” yang dalam Islam banyak macam Shaum tersebut (Shaum 6 hari di bulan Syawal, Shaum tanggal 9 Dzul Hijjjah atau hari Arafah, Shaum bulan Muharam, Tasua dan Asyura tanggal 9-10), Shaum Senin dan Kamis, dan saum di malam-malam terang tanggal 13-15 setiap bulan Dzul Hijjah, dan saum Daud, selang sehari”. Dalam Shaum juga merupakan training penghentian bagi perokok karena mereka total menghentikan rokok yang di Indonesia sebanyak 63 juta orang dengan menghabisi rokok 50 M batang/tahun dan uang sekitar 240 triliyun/tahun. Pada siang hari perokok dapat berhenti. Menurut harian” (MI) suatu penelitian baru di Manchester University menyatakan, “Rokok mempercepat ketulian”, baik perokok aktif (15 %) maupun pasif (28%) dan Indonesia khususnya merupakan negara ketiga perokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Dalam penelitian akhir-akhir ini, ternyata bahwa filter rokok mengandung hemoglobin yang diambil dari darah babi, khususnya filter impor dari Eropa, dan Indonesia “belum dapat membuat filter”. Go Ahead, Merokok membunuhmu.

Ketiga, Ibrah Ilmiyah amat jelas di bulan Ramadhan, berkaitan dengan al-ulum ad-diniyah, ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu produk manusia atau al-ulum al-isaniyah. Pada bulan Ramadhan itulah awal turun al-Quran, yaitu surat al-Alaq ayat 1-5 amat berkaitan dengan qira’ah, belajar dan ta’lim, pendidikan dan pengajaran. al-Quran diturunkan pada bulan Ramadhan. Di Indonesia malah ada acara Nuzulul Quran, tapi ternyata al-Quran dihina dan ditinggalkan. Kita tahu awal pembangunan SDM adalah berangkat dari al-Quran, dengan perintah membaca-membaca”. Dengan banyak membaca al-Quran, maka akan banyak memperoleh ilmu-ilmu yang dibutuhkan manusia, bahkan pada ayat 185 surat al-Baqarah tersebut memberikan inspirasi, pada ilmu astronomi dan upaya implementasi ru’yatul hilal secara ilmiyah. Melihat bulan, baik awal maupun akhir Ramadhan.

Keempat, Ibrah ijtimaiyah, sosial kemasyarakan, yaitu dengan shaum juga harus membanyak sedakah karena banyak orang yang mengharapkan bantuan, bahkan hanya sekedar untuk makan dan minum. Bantuan yang biasa disebut infaq, sedakah, jariah, wakaf, bahkan zakat, termasuk fithrah, sehingga tidak ada seorang pun kaum muslimin yang miskin dan akhir shaum yang tarap hidupnya kekurangan harus kemana-mana mencari makan. Maka tidak khawatir menghadapi shaum atau berlebaran karena dalam shaum ada ibadah sosial yang utama yang dilakukan oleh orang yang mampu. Dalam kasus orang yang tidak shaum karena memiliki penyakit tertentu yang tidak memungkinkan qadha, shaum diganti dengan fidyah yang bersifat kebendaan. Rasul Sallallahu Alaihi Wasallam adalah orang yang amat dermawan dan di bulan Ramadhan kedermawannanya amat tinggi, “Ka rihil mursalati’, seperti angin yang bertiup sepoi-sepoi.

Oleh karena itu, bulan Ramadhan harus juga dijadikan momen ibadah sosial untuk membangun kesalihan sosial secara bersamaan dengan zakat, infaq, shadaqah, bahkan wakaf. Dahulukanlah zakat yang sekarang juga lagi rame dilakukan adalah zakat profesi yang dalam ungkapan lain disebut infaq wajib. Dengan ibadah sosial ini yang amat minim di kalangan Muslimin Indonesia karena lebih mengutamakan gaya hidup, life-style yang sangat diwanti-wanti al-Qur’an, yaitu berlebihan (al-Araf/7: 31), kemubaziran-sia-sia (al-Isra/17: 26-27), dan kemewahan (al-Isra/27: 16). Ibadah sosial adalah ATM umat Islam untuk akhirat (al-Baqarah/2: 110).

Ibadah sosial ini selalu digabungkan dengan ibadah ritualnya, “seperti salat, saum, dan haji”. Karena itu, “Mari Bayar Zakat, Infaq, shadaqah, wakaf”. Janganlah pelit bersodaqoh karena termasuk membohongkan agama (al-Maun/107: 1-7). Mari rame-rame ke BAITUL MAL dan hindari atau jauhi BAITUL MALL”. Inilah saum yang memiliki berbagai dimensi dalam kehidupan Muslim, berupa “Ibrah ruhiyah, Shihyyah, Ilmiyah, dan ijtimaiyah”. Maka jadikanlah takwa sebagai pakaian, sebagaimana disebut Alquran (al-Araf/7: 49). Belum lagi
shaum bila dilihat dari berbagai aspek. Shaum perlu makan dan minum. Ini artinya, menyediakan makanan dan minuman termasuk sodaqoh yang paling utama. Maka memelihara air yang saat ini makin kurang di dunia, tinggal 2% lagi yang layak minum. Di Jabar air untuk minum sudah banyak yang terkontaminasi dengan kotoran karena lingkungan sudah rusak.

Wallhu Allam bi Shawab.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.