Kedaulatan Pangan, Kemandirian Energi dan Kearifan Nabi Yusuf (1)

0
74

Oleh : Suprio Guntoro

Diakui atau tidak, sesungguhnya banga kita sedang menghadapi persoalan besar yang kronis, diantaranya adalah makin pudarnya kemandirian. Pada hal kemandirian merupakan salah satu unsur ketahanan bangsa. Dimana rapuhnya daya kemandirian kita adalahdibidang pangan dan energi. Dari tahun ke tahun import bahan pangan jumlah dan jenisnya terus meningkat. Tentu ini ironis, karena Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan lahan pertaniannnya yang subur. 

Negara kita juga dikenal memilki banyak sumber energi. Disamping sumber energi konvensional seperti minyak bumi, gas dan batubara, kita juga banyak memiliki sumber energi. Alternatif baru dan terbarukan seperti, energi surya, energi air, energi angin, gelombang bio enrgi dan lain-lain.

Kebutuhan pangan, terutama, beras, gula, daging, jagung dll, hingga kini belum bisa kita penuhi sendiri, sehingga masih harus import. Bahkan tepung, ikan dan garam pun mesti kita datangkan dari negara lain meski dua pertiga dari wlayah kita beupa lautan dengan garis pantai terpanjang di dunia. Sementara BBM ( Bahan Bakar Minyak) dulu kita dikenal sebagai eksportir, tapi kini kita telah berubah status sebagai importir.

Apakah ini cermin akibat kurang bersyukurya kita kepada Allah atas karuniaNya berupa sumber daya alam yang melimpah ruah? Ataukah ini cermin kerendahan kualitas sumber daya manusia, ataukah ini hasil manejemen dan kebijakan pemerintah yang tidak bermutu?

Barangkali dalam menegakkan kedaulatan pangan mupun kemandirian energi, kita perlu berkaca pada Nabi Yusuf yang kisah dan prestsinya telah diabadikan dalam Al- Qur’an.

Tantangan berat negeri Mesir saat itu adalah pemenuhan bahan pangan bagi rakyatnya dalam menghadapi musim kering yang pajang dan dahsyat. Keberhasilan Yusuf memimpin bangsa. dalam menghadapi  masa paceklik yang panjang telah menyelamatkan bangsa Mesir dari ancaman hegemoni kapitalis Yunani. Apa rahasia dan bagaimana strategi Yusuf pada sekitar 3.700 tahun yang lalu itu sehingga mampu menyelamatkan bangsanya dari ancaman kelaparan. Agaknya hal ini perlu kita cermati (BERSAMBUNG)…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.