Let’s Back to Muslim Identity

0
411

Oleh: Siti Julaeha

(Aktivis Mahasiswa Universitas Padjadjaran Sumedang)

Potensi mahasiswa sebagai pemuda sangatlah besar. Ia merupakan sosok intelektual yang memiliki semangat dan peran besar sebagai agen perubahan di tengah-tengah masyarakat. Sejarah memperlihatkan, pelopor revolusi orde lama ke orde baru adalah pemuda, pelopor revolusi orde baru ke reformasi pun pemuda berada di garda terdepannya. Terlebih bagi mahasiswa muslim, gelarnya tidak hanya mahasiswa melainkan Islam yang melekat pada dirinya hingga akhir hayat.

Tersebutlah Mus’ab bin Umair, beliau merupakan duta pertama Islam. Beliau diutus oleh Rosul untuk mempersiapkan penduduk Madinah akan datangnya Islam. Di tangan beliaulah sedikitnya 1000 orang pemimpin-pemimpin kabilah di negeri Madinah masuk Islam. Tersebutlah Muhammad Al-Fatih, beliau merupakan sebaik-baik panglima yang diramalkan Rosul ratusan tahun jauh sebelum dia lahir ke dunia sebagai panglima yang menaklukan konstantinopel yang kala itu merupakan salah satu negeri dengan sistem pertahanan paling canggih pada masanya. Berkat ketangguhannya, hanya dengan mendengar namanya disebut saja bisa membuat kaum kafir bergetar ketakutan.

Sayangnya, kebanyakan mahasiswa kini terjebak dengan rutinitas kuliah dan tergerus dalam pusaran globalisasi. Tuntutan kurikulum kuliah yang padat dengan waktu tempuh belajar yang semakin dipersingkat membuat mahasiswa tidak punya pilihan lain selain belajar dan belajar. Mereka ‘lupa’ akan potensi hakiki mereka yang tak hanya sekedar mahasiswa tapi mereka juga adalah kaum intelektual, agen perubahan yang di tangan merekalah masa depan bangsa ini berada. Maka bukan sesuatu yang mengherankan ketika kecanduan gadget, selfie berlebihan, terpengaruh gaya hidupnya akibat media-media digital, hingga terkena program deradikalisasi banyak terjadi pada pemuda muslim.

Sistem pendidikan kapital ini lahir dari ideologi Kapitalis-Demokrasi yang hari ini diemban oleh negara. Orientas lembaga pendidikan hari ini bukan lagi mencetak ilmuwan cerdas yang akan mempersembahkan segala kemampuannya demi kemajuan bangsa. Orientasi pendidikan hari ini beralih menjadi komoditas ekonomi, mencetak para pekerja yang siap pakai. Pemuda tidak lagi memikirkan bagaimana kesejahteraan umat melainkan hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan, menjadi pengusaha sukses, dan menjadi mapan.

Adalah Islam dalam bingkai Daulah Khilafah, sebuah atuaran hidup yang tak hanya mengatur hubungan manusia dengan penciptanya tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Islam mengatur lingkup kehidupan pribadi hingga ke taaran negara. Diantara aturan yangg dimilikinya, Islam memiliki sistem pendidikan yang khas. Seorang anak tidak akan diberi pelajaran-pelajaran yang berisi ide-ide asing.

Pemantapan aqidah merupakan kurikulum pertama yang akan diterima anak agar keyakinan akan Islam terbentuk dengan kokoh sebelum bertemu dengan ide selain Islam. Dengan begitu, anak-anak muslim akan mampu mempelajari ide-ide di luar Islam dengan tujuan mencari pengetahuan darinya tanpa tergerus pemikiran-pemikiran yang terkandung di dalamnya.

Dari sinilah akan lahir kembali ilmuwan-ilmuwan cerdas semacam Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan ilmuwan lainnya yang mengabdikan ilmu bukan untuk komoditas ekonomi melainkan demi kesejahteraan umat. Hanya Islamlah yang mampu mengoptimalkan potensi pemuda sebagai agen perubahan, kontrol masyarakat, serta semua julukan yang disematkan padanya terwujud dengan baik. Hanya Islamlah yang mampu mengembalikan pemuda pada identitas muslimnya. [voa-islam.com]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.