LGBT Gaul bisa menular

0
1438
Profesor Sarlito Wirawan. ©2016 Merdeka.com/imam buhori

Beritalangitan.com – Prof Sarlito Wirawan Sarwono juga Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia membuat opini menarik dalam sebuah tulisan beberapa waktu lalu. Dia mengklasifikasikan ada dua jenis Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) dalam kacamata Psikologi. Pertama ialah LGBT Sistonik, kemudian juga ada LGBT Distonik.

Namun ada istilah lain mengenai LGBT sedikit kekinian. Dia menyebut LGBT Gaul. Pro dan kontra mengenai LGBT menular pun dikemukakan Sarlito. Menurut dia, dari tiga klasifikasi jenis LGBT, paling bahaya ialah LGBT Gaul. Sebab, klasifikasi LGBT Gaul bisa memberikan pengaruh. Dia bisa menular.

“Tetapi kalau sama LGBT Gaul ini yang justru bisa jadi ikut-ikutan,” ujar Sarlito saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu siang lalu. Dia pun menjelaskan, penularan itu bisa dilihat dari perubahan gaya hidup cenderung ikut-ikutan LGBT Gaul.

Berikut petikan wawancara Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono kepada Mohammad Yudha Prasetya dari merdeka.com melihat LGBT dari Psikologi Sosial.

Dari kaca mata psikologi sosial, bagaimana Anda mengklasifikasikan LGBT dan perannya di masyarakat?

LGBT ini ada yang (pembawaannya) gelisah karena mereka tidak bisa menerima dirinya sendiri. ‘Kenapa orang lain heteroseksual kok saya homoseksual?’. Nah inilah yang perlu ditolong dan ini disebut dengan LGBT golongan Distonik. Mereka inilah yang memerlukan pertolongan, dan SGRC UI (Support Group and Resource Center on Sexuality Studies Universitas Indonesia)-lah yang menyediakan pertolongan itu. Mereka kan bisa dapat ruang yang lain di situ, karena banyak psikolog yang membantu. Karena mereka (LGBT) ini sebenarnya susah untuk ditolong. Sebab dasarnya itu sudah berbeda di struktur otaknya. Paling-paling kita hanya bisa mengurangi bebannya sedikit-sedikit, atau membuat mereka untuk membuat dirinya bisa lebih senang, bisa lebih diterima, bagaimana langkah menghadapi orang tua, bagaimana menghadapi masyarakat dan lain sebagainya. Dan itulah yang dilakukan SGRC UI kepada para LGBT, yang curhat kepada mereka. Intinya LGBT yang asli bawaan lahir itu tidak bisa diubah.

Nah ada lagi tipe LGBT asli yang merasa ‘happy’ aja dengan dirinya, menjalani identitasnya, punya pacar, dan bahkan bersikap terbuka. Salah satu contohnya adalah DR. Dede Utomo di Surabaya, yang profesor itu. Itu dia terbuka aja. Sudah lama dari tahun 80-an punya pacar, dan dia juga punya perkumpulan (GAYa Nusantara). Tetapi orang-orang ini enggak ganggu. Mereka hanya berkumpul di sekitar komunitasnya saja. Nah, jangan didiskriminasi orang-orang seperti ini, mereka itu pemberian tuhan. Mereka kan enggak memilih untuk lahir sebagai LGBT lho, dan di dalam ilmu pengetahuan juga sudah diidentifikasi bahwa mereka itu manusia normal juga.

Apakah ada klasifikasi lain selain dari dua tipe itu?

Dewasa ini, ada yang saya namakan sebagai ‘LGBT Gaul’. Yakni mereka yang menjadi LGBT karena mau kenes-kenesan, genit-genitan, dan bukan bawaan lahir (LGBT asli). Seperti misalnya ada laki-laki yang menjadi penari latar, padahal instingnya laki-laki normal. Jangan di campur gitu lho. Karena kemudian LGBT-LGBT inilah yang mencari legitimasi, mau cari kawan banyak-banyak dan sebagainya.

Nah ini yang kemudian, di beberapa tempat seperti di Bangkok, dimanfaatkan. Para LGBT asli kan butuh partner nih, dan di sana banyak bar-bar atau cafe yang bisa menyediakan laki-laki sewaan buat LGBT asli. Nah laki-laki yang disediakan ini kalau pagi itu mereka jadi pegawai, mahasiswa, tetapi kalau malam disuruh kerja. Itu kan jadi komersial karena dikomersilkan. Ada lagi yang pura-pura jadi LGBT supaya bisa kerja di salon. Itu kan ada tuh ya, nah yang seperti itu yang memang mesti diberantas.

Bagaimana dunia psikologi mengukur tingkat kecenderungan seksual seseorang dianggap homoseksual atau heteroseksual?

Jadi sekarang untuk mengukur antara hetero dan homo itu ada ‘Skala Kinsley’ namanya. Skala dari 0 sampai 6. Skala 6 itu yang full mengindikasikan bahwa subjek itu adalah homoseks, dan skala 0 itu yang full heteroseksual. Yang tengah-tengah di antara keduanya itu Biseksual, artinya bisa ke sana dan bisa ke sini. Kalau di Skala Kinsley itu mengindikasikan bahwa kamu heteroseksual, kamu itu enggak bisa jadi homoseks. Dari seorang LGBT asli menjadi normal itu enggak bisa. Misalnya, seseorang pria yang heteroseksual itu mau dikasih gambar pria yang seksinya kayak apa, dia itu enggak bakal terangsang. Sama misalnya seperti pria homoseks, mau dikasih gambar wanita seksi bagaimana pun juga ya enggak akan dia terangsang. Jadi itu semacam spektrum. Nah untuk menentukan apakah seseorang itu masuk dalam skala ke berapa di skala Kinsley itu, ada test yang dilakukan dan ditentukan oleh dokter.

Apa hasil penelitian didapatkan dengan pengukuran skala Kinsley?

Jumlah yang homoseksual di skala 6 ini sangat sedikit, mungkin hanya sekitar 1 persen dari seluruh total populasi. Paling banyak memang yang heteroseksual, karena 90 persen lebih kebanyakan dari kita itu memang heteroseksual. Permasalahan LGBT yang harusnya kita perdebatkan itu adalah mereka yang heteroseksual, tetapi gaya hidupnya seperti homoseks. Sebab, ada jenis homoseks yang dasarnya itu bukan dari dalam dirinya, tetapi hanya dari pergaulan saja, dan ini yang berbahaya.

Kalau kita gaul sama LGBT beneran sih enggak apa-apa, tetapi kalau sama LGBT Gaul ini terus diajak ke sana ke sini biasanya malah jadi terpengaruh. Karena kalau gaul sama LGBT asli, insting kita itu sudah berdiri sebagaimana aslinya dan susah terpengaruh. Tetapi kalau sama LGBT Gaul ini yang justru bisa jadi ikut-ikutan. Misalnya dari gaya hidup dan lain sebagainya.

Menurut Anda, apa yang menjadi bias dipahami masyarakat ketika menyikapi LGBT?

Kalau kamu heteroseksual, tetapi kemudian kamu dicium sama yang homoseks, kan kamu marah juga. Bahkan bisa kamu gampar kan dia, Otomatis lho. Jadi sebenarnya yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah masalah etika. Bukan soal dia homoseks atau heteroseksual, tetapi kalau dia sudah berperilaku melanggar etika atau norma di masyarakat, ya aspek itulah yang mesti diperhatikan. Bukan soal dia homo atau heteroseksual. Kalau para LGBT itu bertindak apapun sesuai kehendaknya di kalangan mereka sendiri, ya silakan karena itu enggak melanggar norma orang lain. Siapa pun kalau di rumah sendiri mau jungkir balik kaya apa kan terserah saja. Asal enggak mengganggu atau berpengaruh terhadap lingkungan. Tetapi jika mulai berpengaruh, ya itu baru yang tidak boleh.

Bagaimana pandangan Anda jika ada pasangan gay tinggal serumah dan lingkungannya menjadi resah?

Kalau gay yang seperti itu sih sebenarnya enggak apa-apa. Sama juga kalau ada cewek sama cowok, tinggal serumah enggak nikah (kumpul kebo), lingkungan gelisah juga kan ? Berarti di sini parameternya bukan apakah mereka homo atau heteroseksual, tetapi di situ jelas ada norma dalam masyarakat yang mereka langgar.

Pemahaman masyarakat Indonesia kan masih asing jika melihat pasangan gay yang jalan sambil bergandengan tangan atau bahkan berpelukan. Jadi ketika ada pasangan gay yang melakukan hal tersebut di ruang publik, yang secara tidak langsung telah melanggar norma atau etika yang dipahami masyarakat, maka benturan pun terjadi. Ketika masyarakat menganggap pasangan gay itu telah melanggar sebuah nilai umum, maka pasangan gay itu juga harus paham bahwa publik bukan tempat mereka bermesraan.

Saya pernah melihat anak-anak muda heteroseksual yang ciuman di mall, atau di tempat publik lainnya. Nah norma masyarakat itu dalam hal ini kan sebenarnya juga sudah ditabrak. Jadi bukan masalah LGBT aja, tetapi oleh semua. Yang heteroseksual juga termasuk. Intinya, jika ada nilai di tatanan masyarakat yang dilanggar, maka respon negatif memang biasanya akan muncul setelahnya. Itu sebenarnya lebih ke pergeseran norma di masyarakat umum, bukan tentang LGBT atau non-LGBT saja.

Apa pendapat Anda mengenai masifnya kampanye kelompok pro LGBT hari ini?

Ya tergantung kita. Kalau saya bilang (kampanye pro LGBT itu) enggak akan banyak berpengaruh. Mayoritas masyarakat itu kan masih tetap anti LGBT. Tidak hanya yang Islam, tetapi yang Kristen juga lho. Bahkan di luar negeri, itu teolog-teolog Kristen sudah mulai mempelajari lagi ayat-ayat tentang Sodom dan Gomora. Karena di Sodom dan Gomora, itu juga dipertanyakan apakah seluruh tempat di Sodom dan Gomora itu semuanya homoseks ? Nah itu yang mulai dipertanyakan oleh orang-orang teologi itu.

Selama sikap masyarakat Indonesia seperti sekarang ini, enggak akan bisa banyak berkutik mereka yang pro LGBT itu. Bahkan kalaupun didiamkan saja, mereka itu enggak akan bisa berkembang. tetapi kalau makin diramaikan seperti ini isunya, maka peluang mereka akan makin banyak bergerak, karena mereka punya hak jawab. Selama ini diam-diam saja kan respon masyarakat terhadap LGBT ini, nah sekarang karena ‘digosok’ oleh media jugalah makanya jadi makin ramai pembahasan ini.

Apalagi sejak dulu memang ada tempat-tempat tertentu, seperti di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, yang budayanya sudah begitu. Dari dulu di sana itu terkenal banyak PSK laki-laki lah istilahnya. Mereka yang LGBT asli dari dulu sudah terkenal Lapangan Banteng itu. Di beberapa mall seperti Plaza Indonesia, kemudian di Hotel Borobudur, dari dulu kan mereka sudah ada dan enggak mengganggu yang lain karena mereka di situ-situ aja.

[Kj/arb]
Sumber : Merdeka.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.