Membongkar Bisnis Seks dan Wisata Birahi di Jakarta

0
1767
PSK (ilustrasi). Blogspot.com

Oleh: Alwi Shahab

Beritalangitan.com – Pada 2009 lalu, saya dan Moammar Emka sempat menjadi pembicara di sebuah seminar yang digelar salah satu partai politik. Pada seminar tersebut, pertanyaan banyak ditujukan pada Moammar Emka, penulis buku ‘Jakarta Undercover’ dan pemerhati kehidupan malam.

Moammar Emka, tanpa ragu-ragu menyebutkan dewasa ini ratusan tempat hiburan malam berlomba-lomba membuka pintu lebar-lebar dengan aneka menu spesial yang menggoda: dari kafe, bar, pub, karaoke, sampai klub. Diskotek sudah menjadi ajang untuk mereguk kenikmatan ‘surga ekstasi dan seks’. Karaoke sudah jadi private room untuk mendapatkan layanan spesial dari penari striptis, seks sashimi sampai kencan one short time.

Tidak tanggung-tanggung ada perempuan pribumi, Cina, Thailand, Vietnam sampai bule dari Rusia, Uzbekistan dan Brasil. Kalau dilihat dari kaca mata industri, Jakarta tak ubahnya sebuah medan yang tiap hari, bahkan tiap jam, selalu berdenyut oleh banyaknya transaksi seksual.

Menjamurnya gadis-gadis impor dari Cina, Thailand, Vietnam, Rusia atau Uzbekistan adalah salah satu kiat dan strategi yang dipergunakan tempat hiburan seksual untuk memanjakan tamu-tamunya. Saking besarnya industri seks yang ada di Jakarta, kata Mommar, dia sampai berani membuat kesimpulan sudah menjadi medan sex show supermarket.

Wisata Birahi di Jakarta

Dalam kaitan ini, pengarang muda yang bukunya telah beberapa kali cetak ulang, jumlah tempat pijat, sauna, karaoke, dan hotel yang sediakan pelayanan seksual, jumlahnya tak kalah banyak dibanding supermarket. Pembeli bisa dengan leluasa melihat, memilih dan membeli ‘pasangan kencan’ yang diinginkan.

Sejauh ini, kata Moammar, ada satu kebijakan yang mengatur industri seks itu sendiri. Di satu sisi, lokalisasi dibubarkan dan ditutup, di sisi lain, praktek industri seks yang dijajakan di tempat pijat, karaoke, hotel atau sauna, tetap beroperasi dari hari ke hari. Yang pasti jumlahnya selalu bertambah. Itulah potret sesungguhnya.

Wisata seks semacam ini bukan saja menjamur di Jakarta, tapi juga di Surabaya, Bandung, Semarang, Batam, Medan, dan kota-kota lainnya. Berdasarkan data-data yang ditemukan di lapangan, menurut Moammar Emka, ternyata ‘wisata birahi’ secara tertutup jumlahnya lebih dahsyat dari tempat prostitusi terang-terangan seperti Dolly (di Surabaya) dan Kramat Tunggak (sudah dijadikan Islamic Center).

Di Jakarta, panti pijat berdiri seperti jamur. Jumlahnya bukan bilangan puluhan, tapi mencapai ratusan. Tapi yang berpraktek betulan hanya 10-20 persen. Sisanya menawarkan jasa kencan seks.

Seperti di Mangga Besar atau Kota, jangan harap bisa menemukan panti pijat kesehatan. Belum lagi praktek-praktek bisnis ‘wisata birahi’ di kawasan Mangga Besar, Kota, Ancol, Pluit sampai Melawai. Karena subur, mungkin pantas kalau bisnis seks disebut bisnis basah. Lebih basah dari bursa saham atau uang.

Mati Satu Tumbuh Seribu

Walaupun secara hukum dilarang, tapi dalam prakteknya mengalami pertumbuhan sangat pesat. Berulangkali ditertibkan tapi muncul tempat-tempat baru. Dari data Direktorat Rehabitasi Tuna Susila (WTS) 1997, menyebutkan seluruh Indonesia ada 72.724 WTS terdaftar.

Diestimasikan yang tidak terdaftar jumlahnya satu setengah kali yang terdaftar. Kalau diakumulasi bisa capai 187 ribu orang. Mereka dibagi dalam empat kelompok.

Pertama kelas bawah diperkirakan 125 ribu orang. Dengan tarif sekitar Rp 20 ribu – Rp 75 ribu. Kedua, kelas menengah jumlahnya 123 ribu orang dengan tarif antara Rp 100 ribu-200 ribu. Ketiga, pekerja seks kelas atas berjumlah sekitar 42 ribu. Kelompok ini bisa mengantungi bayaran Rp 700 ribu sampai Rp 2-3 juta untuk sekali transaksi.

Keempat, pekerja seks kelas tinggi atau papan atas jumlahnya sukar ditebak. Bukan apa-apa mereka diatur secara cermat dan punya jaringan bisnis sendiri yang undercover.

Bisnis Prostitusi Dibeking Mafia

Mereka melayani klien dari kelompok masyarakat kelas elite seperti pengusaha sampai pejabat tinggi. Biasanya mereka datang dari kalangan artis, bintang iklan, model, petugas asuransi, karyawan bank, sekretaris sampai mahasiswi.

Kalau dijumlahkan, perputaran uang dalam ‘bisnis birahi’ bisa mencapai Rp 24,576 triliun. Angka yang dipergunakan ini, ungkap Moammar, masih menggunakan standar estimasi tarif terendah.

Misalnya untuk transaksi kelas menengah yang menggunakan sampel harga terendah Rp 50 ribu. Padahal dalam praktek ada yang Rp 100 ribu, Rp 200 ribu, bahkan Rp 300 ribu. Bukan mustahil transaksi seks di Jakarta bisa menembus angka Rp 29.904 triliun, malah Rp 44.856 triliun.

Tapi perputaran itu hanya membasahi ‘kantong-kantong pribadi’. Sedangkan di Thailand mereka dikenakan pajak.

Apa yang dikemukakan ‘Pemerhati Kehidupan Malam’ ini membuat sebagian peserta mengajukan bertubi-tubi pertanyaan. Bagaimana cara ampuh memberantas kemaksiatan yang di-back up para mafia, preman, dan cukong. Saya sendiri turut geleng kepala, karena pada 1960’an hanya belasan tempat prostitusi. (as)

 

Sumber : Republika

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.