Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak (Bagian 2)

0
1658
Ilustrasi.

(Beritalangitan.com) – Dunia berputar zaman pun beredar dengan perubahan, perkembangan dan segala hiruk pikuknya di berbagai sektor. Perubahan dan perkembangan yang terjadi antara lain di bidang ilmu pengetahuan, bidang pendidikan, kebudayaan, perdagangan, industry dan juga perkembangan di bidang teknologi. Perubahan dan perkembangan ini telah mendunia, yang sekarang disebut dengan istilah globalisasi.

Perubahan dan perkembangan itu bisa merubah perilaku manusia, merubah pola pikirnya, merubah kebiasaannya, bahkan merubah gaya hidupnya. Sepanjang perubahan itu kepada hal-hal yang positif, tidak menjadi masalah, tetapi jika perubahan itu kepada hal-hal yang negatif, inilah yang akan menjadi masalah bagi kehidupan manusia itu sendiri. Misalkan, yang tadinya hidup biasa-biasa saja, menjadi konsumtif, yang tadinya hidup sederhana menjadi berlebihan, dengan alasan takut ketinggalan zaman atau ingin menunjukkan prestise/gengsi.

Perubahan-perubahan itu tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak. Jika perubahan itu kepada hal-hal yang negatif, ini sangat berbahaya, dikarenakan anak-anak belum mampu menyaring atau menyeleksi mana yang berdampak baik dan mana yang berdampak buruk bagi dirinya.

Dari berbagai perubahan dan perkembangan sebagaimana disebutkan di atas, penulis ingin menyoroti perkembangan di bidang teknologi informasi.

Era globalisasi seperti sekarang ini di mana perkembangan teknologi informasi, sudah semakin canggih. Hampir semua orang tak mau ketinggalan untuk mengikuti dan memanfaafkan kecanggihan teknologi tersebut. Namun kecanggihan teknologi informasi itu, tidak selalu membawa dampak positif, tetapi bisa juga membawa dampak yang negatif. Oleh karena itu, hendaknya pandai memilih dan memilah, mana yang berdampak positif dan mana yang berdampak negatif.

Perkembangan di dunia IT (Information Technology), dengan Hand-phone misalnya, berbagai informasi penting bisa segera disampaikan oleh seseorang kepada orang lain, kepada kerabat ataupun teman dari jarak jauh sekalipun. Begitu juga dengan Internet, yang sudah dengan sangat mudah diakses  oleh banyak orang dengan menggunakan Hand-phone, Laptop ataupun Komputer, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, di kota bahkan di kampung-kampung. Berbagai informasi bisa didapatkan di sana, dari hal penting yang dibutuhkan oleh orang-orang tertentu, semisal lowongan/bursa kerja, informasi tentang kesehatan, pendidikan atau bisnis, semuanya ada. Itulah beberapa manfaat yang merupakan dampak positif dari kecanggihan teknologi informasi tersebut.

Adapun dampak negatifnya, di sana banyak terdapat informasi atau sajian-sajian yang tidak penting bahkan bisa dikatakan sampah, semisal tayangan-tayangan pornografi yang membawa dampak yang sangat buruk jika dilihat oleh anak-anak yang belum saatnya untuk melihat tayangan seperti itu. Berbagai jenis permainan/games yang bisa menyita waktu berjam-jam, yang seharusnya waktu tersebut bisa digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat, terbuang begitu saja. Tayangan-tayangan seperti itu juga bisa merusak jaringan otak terutama bagi anak-anak.

Disamping beberapa dampak negatif yang disebutkan di atas, juga akan meningkatkan sifat/kebiasaan konsumtif masyarakat. Tanpa terasa pulsa yang digunakan untuk itu semua telah menghabiskan banyak uang, yang mungkin hampir menyamai biaya kebutuhan primer.

Selain kecanggihan teknologi informasi yang berdampak buruk terhadap  pendidikan anak khususnya perkembangan jiwanya, tak kalah berbahayanya yaitu pergaulan bebas muda-mudi. Banyak kerugian yang diakibatkan oleh pergaulan bebas ini, semisal putus sekolah karena hamil diluar nikah atau yang lebih parah lagi terjerumus ke dalam dunia hitam.

Sementara perkembangan jiwa atau akhlak anak-anak itu, dipengaruhi oleh 3 faktor lingkungan yaitu : pertama lingkungan rumah, dalam hal ini orangtua dan keluarga. Kedua, lingkungan luar rumah yang salah satunya telah dikemukakan di atas yaitu perkembangan teknologi informasi, dan yang ketiga adalah sistem/budaya. Ketiga faktor lingkungan inilah yang akan membentuk watak atau akhlak anak. Dari ketiga faktor ini, mana yang lebih dominan mempengaruhi mereka, itulah yang akan membentuk watak atau akhlak mereka. Oleh karena itu, lingkungan rumah-lah yang harus lebih kuat mempengaruhi mereka, agar anak-anak kita tidak menjadi korban. Sebagai orangtua/keluarga, dalam membangun dan membentuk watak anak, tentunya harus memiliki cara dan ilmu.

Nah, itulah masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh para orangtua atau keluarga saat ini. Sekarang, bagaimana peran keluarga untuk mengatasi atau paling tidak mengurangi dampak buruk dari  kecanggihan teknologi informasi dan pergaulan bebas muda-mudi tersebut.

Banyak orangtua yang resah dengan keadaan seperti ini, mungkin mereka juga sedang mencari solusi untuk menyelamatkan putra-putrinya.

Mari kita bersama-sama mencari solusi untuk memecahkan masalah ini. Dalam hal ini penulis ingin menyampaikan beberapa pandangan sebagai berikut :

Pertama-tama anak-anak harus dikenalkan kepada ajaran agama sedini mungkin, tidak hanya  diwajibkan untuk sekolah umum saja, sejak SD bahkan Taman Kanak-kanak sampai ke Perguruan Tinggi, tetapi juga harus diberi pendidikan akhlak, atau secara umum biasa disebut budi pekerti, yang sekarang ini hampir-hampir sirna. Di sekolah umum seperti itu mereka hanya mendapat pelajaran tentang pengetahuan umum, yang memang dibutuhkan oleh mereka dalam mengarungi  kehidupannya di masa mendatang. Sedangkan pendidikan akhlak atau budi pekerti, lebih banyak terdapat dalam ajaran agama.

Dalam ajaran Islam, banyak dikemukakan hal-hal yang menyangkut pendidikan akhlak, semisal bagaimana cara bergaul muda-mudi, sifat-sifat mulia seperti pemaaf, peduli, penolong, dermawan, santun dan menghormati orang yang lebih tua. Alangkah indahnya kehidupan ini jika anak-anak memiliki sifat-sifat mulia seperti itu. Bagi anak-anak perempuan biasakan  mengenakan busana muslim, agar saat dewasa nanti mereka sudah terbiasa mengenakannya. Dengan mengenakan busana muslim, paling tidak, tidak akan menimbulkan hasrat lawan jenisnya untuk melakukan hal-hal yang melanggar agama atau susila, dan hal-hal lain yang  kurang sopan. Jadi, haruslah seimbang antara pendidikan umum dengan pendidikan akhlak, karena keduanya sama-sama memiliki peran dan posisi penting untuk kehidupan mereka. Apalah artinya orang berilmu, jika tidak ber-akhlak.

Begitu juga dengan kedisiplinan dalam melakukan aktifitas sehari-hari, juga harus dibiasakan, mulai dari bangun tidur yang diawali dengan shalat subuh, atau kegiatan lain bagi non Muslim, kemudian bersiap-siap untuk pergi ke sekolah bagi pelajar dan anak-anak. Kesibukan atau aktifitas di luar rumah juga harus diatur sedemikian rupa supaya bisa terpantau oleh orangtua.

Orangtua harus pandai mengalihkan kegemaran anak-anak untuk bermain games dan berasyik-asyik dengan tayangan-tayangan yang buruk di Internet atau main ke luar rumah, kepada hal-hal yang positif. Misalkan, diikutsertakan dalam berbagai kursus yang tentunya sesuai dengan bakat mereka, olahraga atau kegiatan lain yang bermanfaat untuk masa depan mereka.

Jangan ijinkan mereka untuk main atau keluar rumah di malam hari jika tidak jelas tujuannya, karena pada malam hari lebih banyak hal-hal buruk yang bisa dilakukan dibanding dengan siang hari.

Jangan biarkan mereka menyimpan atau memiliki gambar-gambar porno, dikhawatirkan akan membangkitkan hasrat untuk melampiaskan naluri seksualnya.

Buat jadwal aktifitas harian mereka dengan selingan-selingan yang menyenangkan, semisal: cerdas-cermat ringan antar keluarga disertai hadiah-hadiah yang menghibur, agar mereka tidak jenuh dengan aktifitas yang itu-itu saja.

Mengamati teman-teman mereka, anjurkan untuk berteman dengan sesama teman sekolah, teman kursus atau kegiatan positif lainnya, karena teman memiliki pengaruh yang sangat besar.

Sebaiknya memberi mereka uang jajan secukupnya tidak berlebihan, karena dikhawatirkan digunakan untuk hal-hal  yang kurang baik, semisal digunakan untuk berfoya-foya.

Beri mereka contoh/teladan yang baik-baik, karena jika mereka melihat hal-hal yang tidak baik  dilakukan oleh orangtua atau keluarga mereka, dikhawatirkan mereka akan meniru, karena yang kurang baik itu biasanya sangat mudah ditiru.

Para orangtua/keluarga harus berusaha menjalin hubungan yang dekat dengan mereka, penuh kasih-sayang, sehingga mereka merasa diperhatikan, karena bisa jadi mereka berasyik-asyik dengan tayangan-tayangan Internet yang buruk atau Hand-phone itu, merupakan pelarian dikarenakan mereka merasa kurang diperhatikan.

Batasi penggunaan Hand-phone yang dipenuhi dengan berbagai games, yang akan mengurangi bahkan menyita waktu belajar mereka.

Demikianlah beberapa pandangan penulis tentang bagaimana memperkuat Peranan Keluarga dalam Pendidikan Anak. Semoga ada manfaatnya.

Penulis : Karmini

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.