Penguatan Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Anak

0
1612
Happy Family. (Internet)
Penulis : Karmini

Beritalangitan.com – Peranan keluarga dalam pendidikan anak merupakan hal yang sangat penting, karena keluarga khususnya orangtua bertanggungjawab penuh atas perkembangan fisik, jiwa, pendidikan maupun perkembangan sosialnya. Apalagi jaman sekarang, dimana pengaruh budaya Barat semakin kuat menggeser budaya Timur khususnya Indonesia, merupakan tantangan yang sangat besar dan kompleks. Kebanyakan anak-anak senang meniru-niru gaya dan kebiasaan Barat dalam berbusana ataupun bergaul, dan hal-hal lain yang bersifat kebarat-baratan.

Begitu pula dengan perkembangan di dunia teknologi yang sedemikian pesat, seperti teknologi industri, teknologi informasi. Hal ini mengakibatkan berubahnya perilaku, kebiasaan, dan perkembangan jiwa anak. Orangtua, bahkan anak-anak menjadi konsumtif, bahkan memaksakan diri untuk mengikuti perkembangan-perkembangan tersebut, semisal berganti-ganti speda motor, berganti-ganti Hand-phone dan sebagainya, dengan alasan takut ketinggalan jaman.

Ditambah lagi dengan semakin banyaknya ibu-ibu yang berkerja di berbagai kantor atau perusahaan, itupun pasti akan berpangaruh terhadap pendidikan anak khususnya perkembangan jiwanya, karena para ibu tak memiliki waktu yang cukup untuk membimbing, mendidik dan mengawasi putra-putrinya. Padahal, mereka sangat membutuhkan perhatian, kasih sayang dan bimbingan dari orangtua khususnya bimbingan ibunya. Akibatnya, terjadilah kecenderungan kerusakan moral dan mental pada anak. Oleh karena itu khususnya para orangtua dan para pendidik harus berusaha keras, bagaimana mengatasi paling tidak membendung kecenderungan kerusakan moral dan mental agar tak semakin parah.

Jika keadaan sudah seperti ini, darimana kita harus mulai memperbaikinya? Menurut penulis, sebaiknya lebih dahulu kita lihat dari bagaimana peran orangtua atau keluarga dalam masalah pendidikan anak ini. Apakah orangtua memiliki waktu yang cukup untuk mendidik, membimbing, dan mengawasi serta memberikan contoh teladan yang baik kepada putra-putrinya, dan memiliki ilmu yang cukup tentang bagaimana cara mendidik anak? Ataukah orangtua lebih membiarkan mereka berkembang sesuai jaman dan keadaan yang kemungkinan akan membawa mereka ke jurang kerusakan moral dan mental bahkan kepribadian mereka?

Nah, perbedaan dari cara mendidik seperti yang disebutkan di atas tadi, akan menghasilkan dua type anak-anak, pertama anak yang memiliki mental dan moral yang baik, berbudi pekerti luhur yang akan menjadi kebanggaan orangtua dan keluarga, atau anak-anak  yang menjadi korban deka-densi (Kemerosotan. Red) moral seperti sekarang ini. Jadi, para ibu khususnya yang bekerja  harus super pandai mengatur dan menyiasati waktu yang harus dibagi untuk bekerja dan mendidik putra-putrinya. Oleh karena itu patut dibanggakan dan diacungi jempol kepada ibu-ibu yang bekerja tetapi bisa mendidik putra-putrinya dengan baik.

Sebagai solusi untuk memperbaiki dan membentuk moral, mental bahkan kepribadian secara utuh pada anak-anak, marilah kita coba menerapkan beberapa hal di bawah ini :

  • Para orangtua khususnya ibu harus memiliki waktu yang cukup untuk membimbing dan mengawasi putra-putrinya, karena bimbingan dan pengawasan merupakan bagian dalam mendidik anak. Dengan memiliki waktu yang cukup, orangtua bisa lebih banyak memberi perhatian, bimbingan serta penjelasan tentang  baik dan buruk misalnya, karena anak-anak belum tahu dan belum mengenal mana yang baik dan mana yang buruk, begitu pula dengan mana yang berbahaya dan tidak bagi mereka. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan sehari-hari ketika mereka masih balita, seperti makan-minum  menggunakan tangan kanan, makan minum tidak boleh sambil berdiri, dan mengucapkan terima kasih jika diberi sesuatu oleh seseorang. Jika mereka sudah beranjak remaja, mulailah diajarkan bagaimana menjaga kebersihan ataupun membereskan keperluannya sendiri. Orangtua juga harus mencontohkan sifat-sifat yang baik seperti jujur, rendah hati, dermawan, tolerant, solider, agar anak-anak juga memiliki sifat-sifat mulia seperti itu. Dengan melihat contoh dari orangtuanya, biasanya anak akan meniru apa yang dilakukan oleh orangtuanya, karena anak memiliki kecenderungan untuk meniru.
  • Anak laki-laki dengan anak perempuan memiliki kecenderungan meniru yang berbeda. Anak laki-laki cenderung meniru dan mengidolakan ayahnya. Banyak hal yang dilakukan oleh ayahnya, diamatinya yang kemudian ditirunya, sedangkan anak perempuan cenderung mengamati dan meniru kebiasaan ibunya. Jadi, ayah dan ibu sama-sama memiliki peran dalam mendidik putra-putrinya, walaupun dalam bentuk yang berbeda.
  • Semakin besar, anak akan mengenal lingkungan yang lebih luas, disamping lingkungan keluarganya. Lingkungan teman-teman di sekolah, di tempat kursus, di club olah raga, atau lingkungan temannya bermain. Lingkungan yang lebih luas ini akan memberi pengaruh terhadap perkembangan jiwa, mental dan moral mereka. Jauhkanlah mereka dari teman-teman yang sekiranya akan membawa pengaruh buruk, pilihkan teman-teman yang mengajak kepada hal-hal yang bermanfaat, misalnya membentuk kelompok belajar bersama atau kegiatan positif lainnya yang berguna bagi masa depan mereka dan bisa terpantau oleh orangtua.
  • Ayah dan ibu sebagai orangtua adalah model bagi putra-putrinya. Lingkungan beserta tingkah laku orangtua merupakan pelajaran yang sangat berarti bagi pertumbuhan mereka, baik pertumbuhan fisik, perkembangan jiwa maupun perkembangan kepribadiannya. Perilaku dan kebiasaan orangtua-lah yang pertama akan ditiru oleh mereka. Itulah sebabnya orangtua harus memberikan contoh teladan yang baik. Namun demikian tidak berarti hanya lingkungan orangtua atau keluarga saja yang akan mempengaruhi perkembangan mereka, tetapi lingkungan luar rumah pun cukup besar pengaruhnya, sebagaimana telah diutarakan di atas, yaitu teman-teman mereka juga akan mempengaruhi mereka, bahkan bisa jadi lebih besar pengaruhnya.
  • Ketika anak sudah mulai menginjak usia remaja, kendala-kendala bagi orangtua dalam mendidik anak akan bertambah besar, karena di usia ini anak mulai ingin memiliki hak untuk bebas berpikir dan berperilaku, oleh karena itu mereka akan menunjukkan sikap keras kepala, susah diatur bahkan membangkang. Di sinilah orangtua harus bisa bersikap bijaksana dan penuh pengertian. Peran orangtua dalam mendidik, merupakan salah satu kewajiban terhadap anaknya dan sebaliknya menjadi hak anak yang harus dipenuhi oleh orangtuanya.
  • Kemudian, dianjurkan kepada orangtua untuk menjalin hubungan yang dekat dengan anak, agar supaya anak merasa bebas untuk mengemukakan pendapat dan perasaannya kepada ibu dan ayah mereka. Mereka mempercayai orangtuanya sepenuhnya, sehingga tidak perlu lagi mencari pendapat orang lain atau teman-temannya sekalipun. Disamping memberikan pendidkan umum, orangtua juga perlu mendidik anak-anaknya dalam hal ketaatan kepada agamanya, sebagai Muslim tentunya harus taat kepada Allah dan Rosul-Nya, taat dalam menjalankan perintah-perintah-Nya. Di dalam Islam, banyak terdapat ajaran mengenai etika, perilaku santun, sifat-sifat mulia dan berbakti kepada orangtua. Orangtua, ibu dan ayah adalah orang-orang yang paling berjasa dalam membesarkan dan mendidik anaknya. Seorang anak tumbuh menjadi besar dan kuat dikarenakan jasa orangtuanya. Nabi Muhammad s.a.w. mengatakan, jasa seorang ibu tak kan terbalaskan sekalipun telah menggendongnya untuk pergi haji. Begitu pula dengan ayah yang telah bekerja keras untuk menafkahi anak-anaknya. Allah SWT. memerintahkan berbuat baik kepada kedua orangtua setelah memerintahkan untuk menyembah-NYa, dan juga memerintahkan bersyukur kepada-Nya dan bersyukur kepada kedua orangtua.  Dia menempatkan perintah berbakti dan bersyukur kepada orangtua pada urutan kedua. Jadi, begitu pentingnya, perintah untuk berbakti kepada kedua orangtua. Alangkah bangga dan bahagianya memiliki anak yang cerdas dan berkepribadian luhur seperti itu. Dengan menanamkan nilai-nilai spiritual dari ajaran agama, juga akan mengakibatkan terbentuknya keyakinan yang sehat dan pengetahuan yang luas. Perpaduan antara pendidikan spititual dan akal, akan menimbulkan kepribadian yang tangguh, sebab akal yang terus berkembang akan sangat bermanfaat bagi kehidupan dan kemampuan seseorang. Begitu pula kekuatan spiritual yang juga terus berkembang dengan mantap akan dapat menjaga seseorang dari kesalahan dan kekeliruan. Jika seseorang telah mampu memahami sesuatu dengan hatinya, dan mencintai kehidupan dengan akalnya, maka ia akan menjadi pilihan yang bisa diandalkan.
  • Ajarilah mereka cara memilih teman, karena setiap orang tentunya memerlukan teman, untuk bisa saling menghibur, saling mencurahkan perasaan dan saling menyayangi. Sebagai konsekwensi dari berteman adalah akan beralihnya akhlak dan perilaku sesama mereka, karena mereka saling mempengaruhi. Dalam ajaran Islam diajarkan untuk memilih teman yang hubungannya baik dengan Allah SWT. yaitu yang taat menjalankan perintah-perintah-Nya, yang takut kepada-Nya dalam kesendirian ataupun keramaian, dan yang senantiasa melakukan amal-saleh, agar pertemanan itu berdampak baik. Berteman karib dengan orang yang baik hubungannya dengan Allah tadi, merupakan asset kekayaan yang amat berharga dan abadi dalam kehidupan seseorang, disamping itu  juga akan melestarikan kasih sayang dan kejujuran dalam bergaul.

Demikianlah beberapa pandangan dan pendapat yang dapat disampaikan oleh penulis, sebagai sumbangsih dalam upaya memperkuat peranan keluarga dalam pendidikan anak. Semoga bisa menjadi pencerahan bagi masyarakat khususnya yang membaca opini ini. Aamiin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.