Penguatan Peranan Keluarga Dalam Pendidikan Anak (Bagian 1)

0
2504
Ilustrasi.

(Beritalangitan.com) – Orangtua jaman dulu, dalam hal mendidik putra-putrinya sangat mengutamakan pendidikan akhlak/budi pekerti, karena menurut mereka budi pekerti merupakan barometer kepribadian seseorang. Sejak usia yang sangat dini, sebelum mereka masuk sekolah Dasar, SD, SMP dan selanjutnya, kepada mereka sudah diajarkan tentang sopan-santun, yang merupakan bagian dari budi pekerti. Sebagai contoh misalnya, jika menunjukkan sesuatu kepada orang yang lebih tua, harus menggunakan ibu jari, tidak boleh menggunakan telunjuk. Jika melewati orangtua yang sedang duduk harus merundukkan badan, jika dipanggil harus menyahut dengan kata-kata yang baik, atau jika diberi sesuatu harus mengucapkan terima kasih. Hal-hal seperti itu juga diajarkan kepada penulis ketika masih kanak-kanak, sampai sekarang kebiasaan menunjuk dengan ibu jari masih dilakukan.

Sampai saat ini, penulis sudah memiliki keturunan tiga generasi, memiliki 23 orang cucu. Dalam rentang waktu sekian lamanya, sedikit demi sedikit budaya santun seperti itu terkikis oleh budaya Barat, sehingga sekarang ini  sudah jarang terlihat. Padahal, semaju apapun jaman ini, masalah sopan-santun itu harus tetap dipertahankan dan tetap merupakan barometer kepribadian seseorang, bahkan kepribadian sebuah bangsa.

Terkikisnya budi pekerti atau budaya santun ini dikarenakan masuknya budaya Barat yang tak terbendung.  Budaya Barat-lah yang saat ini mendominasi Negara-negara bagian Timur termasuk Indonesia, yang masih tergolong  sebagai Negara berkembang dan masih mencari-cari jatidirinya, padahal  jauh sebelumnya bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang santun. Banyak orang berpendapat, jika tidak mengikuti gaya dan kebiasaan Barat, baik cara berbusana ataupun makan dan kebiasaan-kebiasaan lainnya, mereka merasa ketinggalan jaman, sebaliknya jika mengikuti kebudayaan Timur dianggap kuno. Padahal kuno atau tidak kuno itu dalam hal apa? Sebagai contoh, dulu, pergi ke sekolah berjalan kaki atau naik sepeda. Dalam hal ini tentunya kita harus mengikuti perkembangan jaman, sekarang sudah bukan jamannya lagi pergi ke sekolah jalan kaki, paling tidak naik angkot, bis, atau motor bahkan ada yang mengendarai mobil pribadi. Begitu pula dengan cara berpikir, jaman sekarang harus maju, harus berkembang dan harus mengikuti jaman, kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang tertinggal, tetapi tidak dalam hal budi pekerti/akhlak, kita tetap harus menjadi bangsa dan pribadi-pribadi yang santun.

Disamping masalah kepribadian yang ditengarai dengan hilangnya budaya santun tadi, banyak hal lain yang harus dibenahi oleh bangsa ini, khususnya oleh para orangtua dan para pendidik, semisal kenakalan remaja, narkoba, pergaulan bebas, kekerasan dalam rumahtangga atau kekerasan terhadap anak, semua ini menambah parahnya keadaan. Untuk memperbaiki keadaan seperti ini, para orangtua dan para pendidik harus berpikir keras mencari cara yang jitu  untuk mengatasinya, agar supaya moral bangsa ini tidak semakin terpuruk.

Nah, sekarang bagaimana memperbaiki keadaan yang sudah parah ini supaya tidak bertambah parah. Peribahasa mengatakan :”lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali”.

Menurut penulis, pembenahan ini harus dimulai dari rumah, siapakah yang berperan utama dalam hal ini? Pastinya, orangtua dan keluarga!. Mari kita bersama-sama mencari cara atau solusi untuk mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi oleh bangsa ini, khususnya dalam hal pendidikan anak.

Dalam hal ini penulis memiliki beberapa pandangan sebagai berikut :

Sebelum melangkah ke jenjang perkawinan, para calon orangtua sebaiknya mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, dan bisa mengatasi berbagai masalah anak yang akan dihadapinya kelak ketika sudah menjadi bapak dan ibu. Kesiapan seperti  ini tentunya tidak serta merta ada atau datang dengan sendirinya, tetapi harus berkonsultasi dan belajar dari para ahli di bidang pendidikan dan psychology anak. Banyak orangtua yang kurang berhasil dalam mendidik anak-anaknya, khususnya dalam pendidikan akhlak/budipekerti, dikarenakan tidak ada persiapan sebelumnya.

Kemudian, jika ingin memiliki anak-anak yang santun, tentunya harus dari orangtuanya terlebih dahulu, yang merupakan contoh teladan yang akan ditiru dan diikuti oleh anak-anaknya. Biasanya jika orangtua sudah memberikan contoh, kemungkinan anak-anak akan meniru dan meneladani orangtuanya, sehingga orangtua pun  tidak perlu terlalu banyak bicara, karena banyak bicara mungkin hanya akan membosankan mereka.

Pembentukan akhlak anak juga harus dilakukan sejak dini, ibarat kertas putih bersih yang akan diberi gambar atau warna tertentu. Dalam hal ini orangtua-lah yang akan dan harus lebih dahulu membuat gambar dan warna-warna tersebut. Setelah mereka mulai keluar rumah, misalnya sudah mulai sekolah, lingkungan luar rumah akan ikut menggambar dan mewarnainya. Di sinilah para orangtua harus waspada agar tugas menggambar dan mewarnainya tidak diambil alih oleh lingkungan luar rumah khususnya teman-temannya. Apalagi jika sudah menginjak usia remaja, berarti mereka memasuki usia yang sangat rawan. Di usia ini teman-teman mereka akan bertambah banyak, mereka akan mendapat pengaruh dari teman-temannya, pengaruh yang baik maupun yang buruk, maka orangtua harus mengamati dan menyeleksi siapa-siapa yang menjadi teman mereka.

Jika mereka sudah dewasa, mulailah diajarkan bagaimana menghargai kepentingan dan pendapat orang lain, tolerant, empaty/peduli terhadap sesama, atau berkorban untuk kepentingan orang lain. Begitu juga dengan budaya tertib dan teratur harus dijadikan kebiasaan di rumah, di sekolah termasuk di jalan raya, karena ini merupakan cermin baik buruknya akhlak/budi pekerti seseorang, bahkan ketertiban berlalu-lintas merupakan ciri sebuah Negara maju.

Apabila mereka memiliki cita-cita, seperti ingin menjadi dokter, ingin menjadi guru, atau ingin menjadi pilot misalnya, berilah mereka semangat dan keyakinan bahwa mereka bisa, dengan kalimat-kalimat yang positif, misalnya : “Kamu bisa jadi dokter atau pilot asalkan kamu rajin dan giat belajar”. “Kamu kan anak pintar, pasti kamu bisa”. Kalimat-kalimat positif seperti ini harus sering-sering diucapkan oleh orangtua agar supaya tertanam dalam diri mereka, sehingga keyakinan untuk bisa mencapai cita-citanya bertambah besar.

Selain teman dan orangtua serta lingkungan luar rumah, faktor yang akan mewarnai atau membentuk watak anak, adalah  benda-benda yang ada di rumah. Apakah itu?  Televisi misalnya, banyak film-film yang disukai anak-anak ditayangkan oleh beberapa station televisi secara beruntun dari pagi  sampai malam, sehingga mereka lupa mengerjakan PR atau besok pagi ada ulangan. Mereka pun cenderung meniru-niru gaya atau kebiasaan pemeran tetentu yang jadi idola mereka.  Apalagi jika orangtua mereka bekerja, televisi-lah yang menjadi teman dan ibu mereka. Anak-anak yang sudah menginjak masa remaja, biasanya mereka asyik dengan Hand-phone dan Internetnya. Di usia ini orangtua harus lebih intensif memantau kegiatan mereka sehari-hari baik di rumah atau pun di luar rumah, karena dikhawatirkan mereka terpangaruh oleh tayangan-tayangan buruk dari Internet atau Hand-phone mereka,

Kemudian, berikan pengertian kepada mereka tentang arti sukses. Sementara ini, banyak orang berpendapat atau mengartikan “sukses” itu, memiliki jabatan atau kedudukan yang tinggi, berkecukupan secara materi memiliki harta yang melimpah, sehingga banyak orangtua yang menginginkan anak-anaknya, ketika sudah dewasa nanti memiliki posisi atau profesi yang menghasilkan banyak uang. Padahal justeru orang tua  harus menjelaskan kepada mereka, bahwa arti sukses yang sebenarnya  adalah “berhasil mencapai cita-cita, menjadi yang terbaik di bidangnya  dan memiliki budi pekerti yang luhur”.

Setiap anak memiliki perilaku atau sifat yang berbeda. Perbedaan ini menandakan bahwa, mereka kelak akan memiliki peran, fungsi, status, jabatan, dan profesi yang berbeda pula. Sebagai contoh, ada anak  yang suka main sekolah-sekolahan dan ia selalu ingin menjadi gurunya, karena ia bercita-cita ingin menjadi guru. Ada juga yang bermain  dokter-dokteran, kemungkinan besar dia benar-benar akan menjadi dokter. Ada juga yang memiliki sifat tidak mau diatur, tak mau kalah, suka memaksa, tidak sabaran, tidak bisa diam, dan aktif bergerak ke sana ke sini. Memiliki anak seperti ini, orangtua jangan serta merta menuduh anak itu nakal, bandel, susah diatur, dan lain-lain predikat yang tidak baik. Sifat atau perilaku-perilaku seperti itu menggambarkan sifat seorang pemimpin. Seorang pemimpin harus mengatur dan otomatis tidak akan mau diatur, dia suka memaksa, seorang pemimpin memang harus memaksa, tidak mau kalah, iya .. seorang pemimpin tak akan mau mengikuti keinginan karyawan atau bawahannya, tidak sabaran karena seorang pemimpin biasanya selalu bergerak cepat, tidak mau diam, iya . . karena seorang pemimpin harus kreatif. Nah, bersabarlah jika memiliki anak yang memiliki sifat atau perilaku seperti itu, sebaliknya orangtua harus bisa mengarahkan serta mendukung bakat mereka, mudah-mudahan  benar-benar mereka menjadi seorang pemimpin, menjadi dokter atau guru.

Bagaimana dengan anak yang suka berbohong? Mungkinkah ini kesalahan orangtua dalam mendidik putra-putrinya? mungkin saja . . .  Banyak anak yang tidak berani  berkata jujur kepada orangtuanya, mengapa tidak berani berkata jujur?. Karena, ketika seorang anak berkata jujur tentang suatu kasus, orangtuanya marah. Sebagai contoh, uang SPP yang seharusnya dibayarkan, dipinjamkan kepada temannya untuk keperluan yang sangat mendesak. Ia mengatakan kepada orangtuanya, uangnya hilang karena takut dimarahin jika mengatakan uangnya dipinjamkan kepada temannya. Kebohongan yang dilakukan oleh anak tersebut, dikarenakan ia ingin menolong temannya, tetapi  tetap saja  ia mengira orangtuanya akan marah, sehingga terpaksa ia harus berbohong. Jika terjadi kasus  seperti ini, dan ternyata benar-benar anak tersebut menolong temannya, tetapi orangtua tidak setuju, sebaiknya tidak serta merta menyalahkan anak. Berilah pengertian bahwa menolong orang itu baik, tetapi harus melihat kondisi, memungkinkan atau tidak.  Kasus seperti ini tidak mutlak menjadi kesalahan si anak, berbeda dengan seorang anak yang memang dengan sengaja membohongi orangtuanya demi kepentingannya. Kebiasaan berbohong seperti ini harus segera dicegah, jangan sampai terlanjur si anak memiliki sifat pembohong. Lain lagi dengan anak yang berbohong, karena sering melihat orantuanya berbohong, apakah membohongi anaknya sendiri ataupun membohongi orang lain, sehingga si anak beranggapan berbohong itu suatu perbuatan yang benar, kemudian ia menirunya. Itulah sebabnya, mendidik itu tidak mudah, memerlukan ilmu, kebijaksanaan, kesabaran yang tinggi dan memberi contoh teladan yang baik.

Berusahalah untuk tidak melakukan kekerasan kepada anak, baik kekerasan secara fisik maupun ungkapan-ungkapan, semisal bentakan atau teriakan-teriakan, karena perlakuan seperti itu hanya akan menambah kenakalan mereka dan akan semakin membangkang bahkan dendam. Lebih berbahaya lagi jika mereka  melampiaskan rasa dendamnya kepada anak-anaknya kelak, sehingga budaya kekerasan akan berlanjut turun-temurun, janganlah hal seperti ini sampai terjadi. Anak-anak yang menjadi korban kekerasan orangtua, biasanya mereka kelihatan penurut di rumah, tetapi mereka akan melampiaskan semua kekesalan dan ketidak-puasannya di luar rumah.

Berusahalah mendidik anak dengan lembut penuh kasih sayang, sabar, dan penuh pengertian. Biasanya anak-anak yang diperlakukan seperti itu, akan memiliki sifat yang lembut pula. Sebaliknya perlakuan yang kasar terhadap anak-anak akan membentuk watak yang kasar pula. Tidak mudah memang, untuk bisa mendidik anak dengan baik, tidak semudah mengucapkannya, tidak pula semudah membalikkan telapak tangan, namun   demikian orangtua tetap harus berusaha sebisa mungkin.

Sekarang, marilah kita perbaiki hal-hal yang kurang tepat dari cara-cara kita mendidik anak selama ini,  agar kita semua memiliki anak-anak yang berbudi luhur, cerdas, sukses dan berguna bagi sesamanya. Dengan demikian, akan terwujudlah sebuah bangsa yang damai dan sejahtera, saling menghormati, saling berbagi dan saling menyayangi.

Demikianlah beberapa pandangan penulis, mudah-mudahan kita semua menjadi orangtua yang sukses dalam mendidik anak, karena anak adalah harapan dan penerus bangsa.

Akhir kata, selamat berjuang membangun bangsa yang maju dan berbudi luhur.

Penulis : Karmini

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.