Timses Ahok Diminta Memahami Perasaan Umat Islam

0
450

Tim pemenangan Ahok-Djarot yang menamakan dirinya Badja

beritalangitan.com — Cendekiawan Muslim yang juga pembawa acara “Ulasan Media” di Radio Dakfa FM Dr Adian Husaini  menyatakan, Tim Sukses Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok perlu memahami perasaan umat Islam terkait kasus penistaan agama yang menimpa Ahok. Sebab, kasus itu, selalu dihubungkan dengan motivasi politik untuk menjatuhkan Ahok. Seolah-olah, masalah politik itu segala-galanya bagi umat Islam. Padahal, masalah terpenting bagi seorang muslim adalah keselamatan iman. Bahwa, iman itu beda dengan kekufuran.

Adian menyampaikan analisis tersebut , pagi Kamis pagi (05/01/2017), dalam acara Ulasan Media, saat mengulas berita di satu media online berjudul: “Timses Ahok: Perlahan-lahan Konspirasi Menjatuhkan Ahok Terbongkar.”

Jika kasus yang menimpa Ahok itu dikatakan ada konspirasi politik, maka pihak yang paling kena tuduhan Timses Ahok itu adalah Majelis Ulama Indonesia. Berarti itu menuduh Majelis Ulama Indonesia (MUI) terlibat konsporasi politik menjatuhkan Ahok. Sebab, kata Adian, MUI-lah yang telah resmi mengeluarkan pendapat keagamaan, bahwa Ahok telah menista al-Quran dan ulama.  Karena itulah, kemudian lahir GNPF-MUI, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI.

Menurut Adian, Timses Ahok harusnya paham, bahwa ucapan Ahok yang beberapa detik itu telah melukai banyak ulama yang selama ini berusaha berjuang membentengi aqidah umat Islam.

Para ulama itu yakin, bahwa makna QS al-Maidah ayat 51 dan banyak ayat al-Quran lainnya, memang melarang umat Islam untuk mengangkat pemimpin dari kalangan kafir.  Apalagi, dalam sidang pertama, adik Ahok menyebut tentang politisi busuk yang dikaitkan dengan penggunaan ayat al-Quran untuk memilih pemimpin seiman.

“Pendapat para ulama itu berdasarkan ilmu dan keyakinan. Bukan karena faktor kepentingan politik. Meskipun tentu saja, pendapat itu berdampak terhadap politik,” kata Adian, penulis buku “Penyesatan Opini”.

Ia mencontohkan, selama puluhan tahun, sejak awal 1960-an, Buya Hamka sudah menulis dalam tafsir al-Azhar, bahwa makna “auliya” dalam QS al-Maidah:51 itu bermakna pemimpin. “Selama puluhan tahun, tidak ada yang menuduh Buya Hamka telah membodohi dan membohongi umat Islam, pakai QS al-Maidah 51. Baru sekarang muncul manusia seperti Ahok yang mengatakan seperti itu,” papar Adian.

Menurut Adian, dalam negara yang plural seperti Indonesia, diperlukan sikap lapang dada untuk memahami perbedaan pendapat. Termasuk memahami sikap umat Islam yang tidak mau memilih pemimpin daerah yang tidak seiman.  Sebab, sikap itu mempunyai landasan kuat dalam al-Quran.

Jadi, kalau dikatakan, bahwa para ulama, ustad, politisi muslim, yang menggunakan QS al-Maidah 51, telah melakukan kebohongan, atau dikatakan manusia busuk, dan sejenisnya, tentu ucapan itu merupakan satu jenis pelecehan terhadap agama Islam.  Jika tidak setuju dengan pendapat itu, jangan menuduh para ulama melakukan pembodohan dan pembohongan!

“MUI dan jutaan umat Islam itu menonton langsung video Ahok. Mereka paham bahwa ucapan Ahok itu melukai hati umat Islam. Mereka mengambil sikap itu pakai logika,  bukan karena kebencian yang membabi buta,  sehingga mereka rela berkorban dengan melakukan Aksi Bela Islam di Jakarta,” ulas Adian.

Penulis buku “Wajah Peradaban Barat Dari Hegemoni Kristen Ke Dominasi Sekuler Liberal” ini juga menyarankan agar media massa berhati-hati dalam menurunkan berita yang konotasinya menuduh ulama-ulama Islam melakukan konspirasi menjatuhkan Ahok.  Itulah perlunya memahami pemikiran dan perasaan umat Islam. Bahwa, masalah keselamatan iman itu jauh lebih berharga daripada jabatan politik apa pun di muka bumi ini.

Acara Ulasan Media Radio Dakta mengudara setiap Senin-Jumat pukul 06.30-07.00 WIB, di Radio Dakta 107 FM atau livestreaming www.dakta.com. *

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.