Ujian fiisabilillah sebagai Qodratullah

0
944
Ilustrasi (dakwatuna.com)

Beritalangitan.com – “Ikhwan”,   Perjalanan menebar butir demi butir ayat Qur’an ke dada manusia, dengan tujuan supaya perikehidupan manusia itu dapat sesuai dengan tujuan penciptaannya, sejak dulu dari zamannya para Nabi memang bukanlah sebuah proses yang mudah apalagi instan, para Nabi sendiri sebagai orang spesial yang memiliki akses langsung kepada sang Maha Pencipta alam semesta ini harus menebusnya dengan susah payah, mereka para Nabi itu harus mendedikasikan seluruh hidupnya, tenaga, waktu, pemikiran, harta benda bahkan keselamatan hingga nyawa satu-satunya diserahkan demi tegaknya kehendak sang Pencipta itu.

Berbagai penentangan, permusuhan dan peperangan akan senantiasa dihadapi oleh seorang penyeru kebenaran, dan hal ini bukanlah sebuah kebetulan yang terjadi dari masa ke masa, ini adalah sebuah janji mutlak yang datang dari dua pihak yang berlawanan, yang pertama adalah janji dari Allah, sang pemilik kebenaran itu sendiri, dimana Allah telah  berjanji tidak akan membiarkan umatnya mengaku beriman dan akan memberikan ujian hingga kesungguhan ummatnya itu terbukti secara nyata sesuai dengan firmannya :

  1. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Qs : Al Ankabuut : 2)

Yang kedua janji itu datang dari syaitan, bahwa syaitan akan senantiasa mengganggu dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah dengan berbagai cara, dengan berlapis pasukan dan kekuatan, dengan berbagai tipu daya baik yang nyata maupun yang tersembunyi sesuai yang tertera dalam Al Qur’an Surat Shaad (38) : 79 – 8.

  1. Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah Aku sampai hari mereka dibangkitkan”.
  2. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh,
  3. Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)”.
  4. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya,
  5. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka [1304].

[1304]  yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang Telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.

Di lain pihak seorang Da’i, tentunya juga adalah seorang manusia biasa, dia akan dihadapkan pada hajat hidup layaknya orang lain, harus makan minum, harus tampil layak dan baik, harus berinfaq, bershodaqoh, harus menghidupi keluarganya secara layak, dan terlebih lagi harus juga membiayai perjuangannya, karena perjalanan dakwah itu bukanlah sebuah proses yang gratis atau cuma-cuma apalagi dalam konteks kekinian dimana segala sesuatu akan senantiasa dihadapkan pada urusan finansial.

Itulah gambaran secara umum tentang kondisi konkrit bagi orang orang yang hendak menyerukan kebenaran, seorang Mujahid Allah akan terus di himpit oleh ujian dari berbagai arah, akan senantiasa diganggu dan dihalang-halangi oleh berbagai pihak dan dengan berbagai cara, rupanya itu sudah sebuah kepastian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, sebuah proses yang mutlak akan dihadapi oleh seorang penyeru kebenaran.

Lalu bagaimana dengan cerita Da’I yang ternyata tidak pernah menemui semua hambatan itu ? mungkin banyak orang yang mengklaim dirinya telah berjuang dijalan Allah tapi ternyata tidak menemui kesulitan apa apa, datar datar saja, biasa-biasa saja tanpa ada halangan berarti atau penentangan dari pihak manapun. Tunggu, apakah semua janji yang tertera dalam Al Quran itu yang salah ?, ataukah Da’I itu sendiri yang belum memenuhi kualifikasi orang yang telah dijanjikan Allah akan menerima ujian dariNya.

Kalau begitu mari kita tengok perjalanan sang Uswah Nabi besar Muhammad SAW, bagaimana bisa diawal perjalan dakwahnya ditahun tahun pertama saja Muhammad sudah banyak mendapat penentangan, ditertawakan, di cemoohkan, dianggap gila dan pembual besar, lalu pertanyaannya apa sebenarnya yang diserukan Muhammad waktu itu ?, kenapa begitu murkanya para penguasa Mekah masa itu seolah Muhammad akan merebut kursi kekuasaannya saat itu juga ?, betulkah jika ajakan menyembah Allah saja bisa membuat mereka marah ?.

Tentunya tidak bukan ?, Ikhwan, menyeru manusia untuk menyembah Allah pastinya tidak akan membuat siapapun gusar, tetapi yang membuat mereka begitu marah adalah kenyataan bahwa Allah tidak suka diduakan oleh apapun juga, Tauhid yang dibawakan Muhammad tidak membenarkan ada persekutuan dengan musuh Allah dalam bentuk apapun, dalam konteks apapun, kita semua tahu pada saat puncaknya dakwah Muhammad mengguncang Mekkah, para penguasa saat itu bersepakat untuk menawari Muhammad tiga hal.

“Wahai Muhammad, apa yang engkau inginkan ?, jika engkau inginkan kekuasaan mari kami kumpulkan semua pemimpin kabilah untuk mengangkatmu sebagai pemimpin diatara kami, atau jika engkau menginginkan harta benda mari kami kumpulkan semua harta benda dari seluruh bangsawan Mekkah untukmu, atau jika engkau inginkan wanita yang paling cantik pilihlah sesukamu, dan yang kami minta hanya satu yaitu “hentikan dakwahmu !”

“Seberbahaya itukah dakwah Muhammad?”, kenapa mentauhidkan Allah adalah sebuah ancaman besar bagi penguasa kuffar saat itu, lalu bukankah jika dengan memimpin bangsa Arab Muhammad dapat lebih leluasa untuk menjalankan hukum Islam ?, atau bukankah dengan harta yang banyak Muhammad bisa membeli apa saja yang diinginkannya ?, ternyata tidak Ikhwan, Muhammad lebih memilih dihina, dicaci maki, diintimidasi, disiksa bahkan lebih rela dikejar kejar hendak dibunuh daripada mencampur setetes saja Tauhid itu dengan apapun juga.

Dan seperti itulah perjalanan Dakwah seharusnya, tidak dibiarkan Allah untuk tidak diuji, dan tidak dibiarkan musuh-musuh Allah untuk tidak dihalang-halangi, jadi jika hari ini para  mujahid Allah menemui berbagai rintangan dan kesulitan, bertawakallah hanya kepada Allah, dan jika justru tidak ada kesulitan apapun yang menghampiri maka berinstropeksilah, kita tentunya tidak ingin menyongsong kesulitan itu, tapi sungguh kita lebih takut jika amal kita tidak sesuai dengan kehendakNYA, atau jangan jangan malah sudah melenceng jauh dari jalannya. Na’udzubillah Tsumma Na’udzubilllah.

16 Jumadil Ula 1437 H

Oleh : D. Udas Ruswandi / beritalangitan.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.