Umat Islam Tidak Butuh Moderasi

0
76

Oleh: Ustazah Sulistiawati Ummu Aisyah

Sumber : Muslimah news.com

beritalangitan.com, — Kemenag telah menerbitkan revisi buku-buku panduan pendidikan agama Islam secara online. Buku-buku sebelumnya dianggap masih mengandung konten radikal. Ini dilakukan sebagai tindak lanjut moderasi dalam pendidikan Agama.

Jadi muncul pertanyaan, mengapa penting bagi mereka untuk memoderasi ajaran Islam? Padahal materi pendidikan erat kaitannya dengan tujuan pendidikan itu sendiri.

Dalam pandangan Islam, tujuan pendidikan adalah pembentukan syakhsiyah (kepribadian) Islamiyah siswa. Ini tentu akan berpengaruh pada generasi. Sangat berbahaya jika ajaran Islam diubah atau bahkan dihapuskan. Generasi terancam tidak lagi mengenal syariat Islam secara utuh.

Moderasi ajaran Islam menjadikan Islam tidak seutuhnya dipahami. Hakikatnya adalah mengubah ajaran Islam itu sendiri. Seperti ajaran tentang jihad, maknanya adalah perang di jalan Allah.

و جاهدوا فى سبيل الله…

“…dan berjihad di jalan Allah…” (QS Al Baqarah: 218)

Lafaz “Al-Jihad” secara bahasa maknanya mengerahkan segala kemampuan (بذل وسعه). Pengertian secara syar’i Al-Jihad adalah perang (القتال). Sehingga Al-Jihad adalah mengerahkan segala kemampuan dalam perang di jalan Allah, baik secara langsung maupun memberikan bantuan berupa harta, pendapat, memperbanyak logistik, atau yang lainnya. (Taqiyuddin An Nabhani, Al Syakhshiyyah al Islamiyyah jilid 2, 147)

Imam Ath Thabari pun memaknai jaahaduu dalam ayat ini, dengan قاتلوا dan حاربوا (mereka berperang).

Dilanjutkan oleh Imam Ath Thabari memaknai في سبيل الله adalah طريقته و دينه (jalan dan agama Allah). Juga Imama Al Khazin dan Imam Al Samarqandi memaknai dengan في طاعة الله (dalam ketaatan kepada Allah).

Lantas bagaimana bisa dengan alasan moderasi, jihad hanya diambil makna bahasanya semata? Kalaulah demikian, sah mengamalkan salat hanya aktivitas doa, karena الصلاة secara bahasa maknanya adalah الدعاء (doa)?

Tentu tidak sah salat hanya dengan doa. Begitu pula dengan jihad.

Berikutnya bisa kita bayangkan nasib generasi mendatang yang tidak lagi mengenal perang dalam Islam. Generasi semacam ini tidak siap memerangi penjajah yang masuk ke dalam negerinya. Sehingga musuh pun akan dianggap teman.

Berbahaya bukan? Bayangkan generasi didik semacam ini akan memimpin sebuah negara. Penjajah akan disambut, bukan malah diusir dan siap menghadapinya secara fisik.

Yang sering dijadikan dasar bagi moderasi adalah istilah ummatan wasathon. Dalam Alquran surah Al Baqarah ayat 143, lafaz “ummatan wasathon” ditafsirkan Umat Islam Moderat. Tafsir ini tidak berdasar, baik secara lafaz maupun secara ma’tsur (berdasarkan hadis).

Allah SWT berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا۟ شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS Al Baqarah: 143).

Dalam tafsir Imam Ath Thabari dijelaskan:

: كذلك خصصناكم ففضلناكم على غيركم من أهل الأديان بأن جعلناكم أمة وسطا . وقد بينا أن الأمة هي القرن من الناس والصنف منهم وغيرهم .
وأما الوسط فإنه في كلام العرب : الخيار
يقال منه : فلان وسط الحسب في قومه : أي متوسط الحسب , إذا أرادوا بذلك الرفع في حسبه , وهو وسط في قومه وواسط .

“Demikian pula Kami (Allah) telah membedakan dan mengutamakan kalian (umat Muhammad) dari umat agama lain, menjadikan umat Muhammad sebagai yang terbaik (wasathon).”

Maka “wasthu” di sini, menurut kamus Arab adalah Al-khiyar (terbaik) dan Al-hasabu (pilihan). Jadi ia adalah pilihan di antara kaumnya. Yaitu pilihan terbaik, umat terbaik, dan sebagai wasith.

Secara ma’tsur, terdapat hadis yang dituliskan dalam tafsir Ath Thabari,

حدثنا سالم بن جنادة ويعقوب بن إبراهيم , قالا : ثنا حفص بن غياث , عن الأعمش , عن أبي صالح عن أبي سعيد , عن النبي صلى الله عليه وسلم في قوله : { وكذلك جعلناكم أمة وسطا } قال : ” عدولا

Rasulullah Saw. ketika menafsirkan وكذلك جعلناكم أمة وسطا, adalah umat yang adil. Ummatan wasathon yang dilekatkan dengan umat Islam justru adalah umat yang terbaik, umat yang berbeda dengan umat yang lain.

Demikianlah ummatan wasathon, sama sekali tidak ada kaitannya dengan moderasi. Tuduhan radikal jika mempelajari Islam seutuhnya, sangat tidak berdasar.

Bahkan istilah radikal pun tidak menjadi istilah umat Islam. Sehingga tidak ada keperluan umat Islam harus merevisi atau menjadikan moderat ajarannya.

Langkah moderasi yang terstruktur dan masif ini, sama sekali tidak ada manfaatnya. Justru akan membawa umat ini semakin berpikiran sekuler radikal. Semakin ingin jauh dengan syariat Islam. Karena itu hendaknya dihentikan atau Allah SWT akan mengingatkan dengan cara-Nya.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ ٱلْكِتَٰبِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَآءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْىٌ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلْعَذَابِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al Baqarah: 85)

Mengambil sebagian hukum Allah dan membuang sebagiannya adalah tindakan tercela. Tidak ada balasan bagi perbuatan ini selain kehinaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Kita berlindung kepada Allah dari perbuatan ini. Wallahu a’lam. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.