Virus Wahn, Virus Akhir Zaman

0
756

Oleh Abu Rumi

Menyadur dari Tausyiah Al Ustadz (Rahimahullah) KH. Zainuddin M.Z.

Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamualaykum warahmatullohi wabarokatu,

Dalam sebuah kisah diriwayatkan, bahwa suatu hari Rasulullah Muhammad Salallahu’ Alaihi Wassalam sedang berkumpul bersama para Sahabatnya, kemudian Rasulullah pun bersabda, “Pada suatu saat nanti, akan datang di tengah-tengah kamu wahai umat islam, dimana orang-orang lain di sekeliling kamu akan bersatu mengerubungi kamu seperti bersatunya orang-orang mengerubungi makanan diatas meja makan.” Akan datang suatu saat nanti dimana kondisimu dikepung sedemikian rupa, yang sebelah barat akan menerkam, yang sebelah timur akan menghantam, yang selatan akan menginjak-injak, dan yang utara pun akan menjelajah.

Sebagian sahabat pun terheran-heran dan terkejut-kejut, lalu bertanya “Apakah jumlah kami pada waktu itu sedikit ya Rasulullah ? Kami sampai dikepung sedemikian rupa.” Rasulullah pun menjawab, ”Sama sekali tidak, kamu tidak sedikit pada saat itu, bahkan jumlahmu sangat banyak, kamu adalah mayoritas.” Tetapi keadaanmu padan saat itu percis seperti buih di lautan. Banyak tapi tidak memiliki daya dan kekuatan, banyak tapi dipermainkan gelombang lautan, dihempaskan ke tepian pantai tanpa memiliki makna dan arti. Kondisimu pada saat itu, kuantitas yang tanpa kualitas, hingga orang lain seenak saja mengepung kamu. Akidahmu didangkalkan, dibanjiri dengan peradaban dan kebudaayaan yang menjaukan dari agama, dari segi maksiat, dan segala kemungkaran seluruhnya mengepung, hingga kita lepaskan nilai-nilai islam pada diri kita ini. Dan celakanya sambung beliau, akan dicabut kehebatanmu dimata musuh-musuhmu, sehingga saat seperti itu orang lain memandangmu enteng saja, remeh saja, kecil saja, tidak ada apa-apanya. Alangkah ironinya, alangkah menyedihkanya. Memilukan sekaligus memalukan, umat yang mayoritas ini dipermainkan oleh minoritas. Umat terbanyak tapi dipermainkan oleh para kelompok-kelompok kecil.

Pada saat itu dicampakanlah penyakit Wahn, “Hubbud Dunya wa Karohiyatul Maut.” Terlalu cinta kepada dunia, dan terlalu takut kepada kematian. Menjadi manusia yang berkarakter materialistis dan takut resiko.

Ini merupakan analisa sosial, bahwa suatu saat ini akan terjadi ditengah umat, kita akan dihantam diserbu dari segala penjuru, akidah didangkalkan, peradaban dan kebudaayan dirusak, makanan dan minuman diracuni, pakaian ditelanjangi, sampai sedikit demi sedikit, kita akan meninggalkan dan menanggalkan ruh, jiwa nilai islam yang kita cintai ini. Kondisi seperti itu akan datang kepada kita, demikianlah analisa dan peringatan dari Rasulullah kala itu kepada para sahabatnya.

Adalah benar bahwa di zaman sekarang, insya allah kita tidak akan mengalami Perang Badar sehebat yang pernah dialami oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Tetapi sesungguhnya perang yang kita hadapai dizaman sekarang ini tidak kalah hebatnya dengan Perang Badar, tidak kurang dahsyatnya dengan Perang Uhud, dan tidak kurang mengerikannya dari Perang Khandak. Hanya yang kita hadapi sekarang hari ini bukanlah ujung pedang, ujung tombak, ataupun ujung busur panah. Akan tetapi yang tengah kita hadapi sekarang ini adalah Perang Akidah, Perang Ideologi, Perang mempertahankan keyakinan, barang tentu yang kalau kita kalah sekarang pun kita memang masih beragama, namun coba kita bayangkan anak cucu kita generasi yang akan hidup dimasa datang, Wallahualam bishawwab.

Islam memang tidak mungkin hilang dari dunia, akan tetapi tidak mustahil juga islam akan gulung tikar dari desa kita, kampung kita, negara kita. Jikalau kita tidak menjaganya, memeliharanya, bahkan jika kita tidak mewariskanya kepada anak kita di generasi yang akan datang.

Mari kita lihat, kilas balik sejenak kepada sejarah Negara Spanyol, yang pernah berjaya, yang pernah menghidupkan daratan eropa dengan nafas islam, dan yang sekarang hanya tinggal cerita saja. Rasulullah Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam pernah memperingatkan, “Akan datang suatu masa ditengah umatku, pada saat itu Islam ada, tapi hanya tinggal sekedar namanya saja, dan Al Quran pun ada tapi hanya tinggal sekedar tulisannya saja.” Apabila kita tidak segera mewariskannya kepada generasi penerus, apabila kita telat melakukan kaderisasi dakwah kepada anak-anak kita, apabila kita telat mencetak bibit-bibit mujahid, maka serbuan dari berbagai penjuru dunia dari hari ke hari akan semakin kita rasakan kehebatanya, dan bukan hal yang mustahil jika apa yang pernah terjadi pada sejarah Spanyol akan terjadi pada kampung kita, desa kita, kota kita, luasnya negara kita. Dan pada saat itu terjadi kita sebagai umat islam akan kehilangan wibawanya, karena pada hati kita sudah merajarela Virus Wahn, Cinta Dunia, Takut Mati.

Terlalu cinta dunia, menjadi generasi yang lupa akan tanggung jawab kita, lupa meneruskan dan mewariskan kepada generasi yang akan datang, kita hanya berlomba untuk mengejar dunia dan isinya, baik itu yang bernama materil, seksual, pangkat jabatan, dan kedudukan. Berurat dan berakar nadinya dunia itu akan membuat kita sulit dan berat berpisah daripadanya, akibatnya keinginan untuk berbuat dan demi atas nama agama akan sulit terwujud dalam kehidupan dunia ini.
Terlalu takut mati, mati secara ajal, mati pusaranya, mati kariernya, mati pangkat dan jabatanya, sehingga demikian jatuhlah kita menjadi umat yang kehilangan wibawa dimata orang lain.

Dalam sebuah hadist disebutkan Aisyah bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Barangsiapa suka berjumpa dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” Kontan ‘Aisyah berkata, “Apakah yang dimaksud benci akan kematian, wahai Nabi Allah? Tentu kami semua takut akan kematian.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– lantas bersabda, “Bukan begitu maksudnya. Namun maksud yang benar, seorang mukmin jika diberi kabar gembira dengan rahmat, keridhoan serta surga-Nya, ia suka bertemu Allah, maka Allah pun suka berjumpa dengan-Nya. Sedangkan orang kafir, jika diberi kabar dengan siksa dan murka Allah, ia pun khawatir berjumpa dengan Allah, lantas Allah pun tidak suka berjumpa dengan-Nya.” (HR. Muslim no. 2685).

Kondisi seperti yang disebutkan diatas kontan akan menjadi boomerang bagi kita semua sebagai umat islam yang digadang-gadang merupakan agama yang Rahmatan lil ‘Alamin, agama yang ‘Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Bukan menjadi juru selamat bagi umat manusia lainnya, namun justru umat islam telah mengalami kemunduran kualitas, degradasi akhlak, keterbelakangan ilmu jika saja penyakit Wahn ini menjadi kelaziman di kalangan umat islam. Orientasi hidup yang seorang muslim tuju, identitas sehari-hari yang seorang muslim tunjukan, akan menjadi luntur dan lenyap dengan seketika jika dalam hatinya sudah tertanam kecintaan pada dunia yang kasat mata, dan ujung-ujungnya akan menjadi khianat pada perintah Allah dan Rasulnya. Seperti yang Allah firmankan dalam QS. Al-Anfal (8) : 27-28, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Renungkanlah, renungkanlah wahai saudaraku. Dunia ini tak lebih baik dari sekedar sebelah sayap nyamuk. Dunia ini tak lebih dari sekedar basahnya jari kita ketika dicelupakan kedalam air laut. Dalam QS. At Taubah (9) : 38, Allah berfirman “… Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” Maka dari itu, mulailah banyak menyibukan diri dengan tolabul ilmi. Pahamilah hakikat kehidupan di dunia ini beserta fitnah-fitnah yang menyertainya agar kita senantiasa terhindar dari murka Allah. “…Tolonglah Agama Allah, maka (niscaya) Allah pun akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad (47) : 7).

Tidak kutemukan kebahgiaan pada kumpulan harta. Namun pada ketakwaan kutemui makna bahagia. Rasa takwa sebaik-baik bekal simpanan. Di sisi Allah pun ia mendapat tambahan.

Jazzakumullah khoiron katsiro.
Wassalamualaykum warahmatullohi wabarokatu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.