Ribuan Muslimah Bosnia Lakukan Protes Larangan Kenakan Jilbab

0
764
Aksi demonstrasi Muslimah Bosnia (foto: bbci.co.uk)

Sarajevo, 10/2 – Ahad (7 Februari) waktu setempat, sejumlah  jalanan protokol Kota Sarajevo, Bosnia, dipadati lebih dari dua ribu muslimah yang melakukan protes terhadap larangan mengenakan jilbab selama berada di Pengadilan serta perkantoran lembaga-lembaga hukum yang lain.

Para muslimah ini, selama lebih dari satu jam berparade. Mereka mengusung sejumlah spanduk serta berteriak untuk memrotes kebijakan pemerintah melalui Komisi Yudisial, yang melarang mengenakan jilbab bagi muslimah ketika berada di gedung pengadilan, serta sejumlah kantor lembaga hukum. Mereka menyatakan penolakan terhadap kebijakan larangan tersebut.

“Larangan ini merupakan serangan serius terhadap kehormatan, kepribadian dan identitas muslimah,” teriak Samira Zunic Velagic, penanggungjawab aksi unjuk rasa tersebut, sebagaimana di kutip BBC London, edisi Senin (8 Februari) kemarin.

Sebab, tambah Samira Zunic, mengenakan jilbab atau menutup rambut (kepala), merupakan hak dan kewajiban bagi setiap muslimah. Karenanya, ia bersama lebih dari dua ribu muslimah lain, menggelar aksi; berparade turun ke jalan untuk memprotes  kebijakan pemerintah melalui Komisi Yudisial tersebut.

Komisi Yudisial, sebenarnya tidak hanya mengatur pelarangan pengenaan jilbab bagi muslimah. Namun dalam keputusan terbarunya tersebut, juga melarang pengenaan atribut agama apapun ketika berada di gedung pengadilan serta di sejumlah perkantoran lembaga hukum. Dalam keterangan tertulis, Komisi Yudisial secara khusus menyebutkan larangan tersebut terhadap pengenaan jilbab serta penutup kepala lainnya.

Pencantuman jilbab dalam klausa atribut keagamaan, termasuk yang dilarang tersebut, memicu reaksi hingga menimbulkan aksi protes. Aksi tersebut, sebenarnya bukan sekadar dari kalangan muslimah, melainkan juga dari kalangan politisi muslim serta hampir semua pemuka agama Islam di Bosnia.

“Larangan demikian, sama dengan melarang muslimah bekerja atau meninggalkan rumah. Sebab, setiap muslimah berjilbab, tentu tidak akan melangkah meninggalkan rumahnya jika tanpa mengenakan jilbab,” tambah Samira Zunic.

Diperoleh catatan, larangan semacam ini pernah ada, yaitu di dalam dasawarsa 1990-an ketika Bosnia masih menjadi bagian dari Negara Yugoslavia. Kini, setelah Bosnia merdeka dan berdiri menjadi Negara tersendiri, pemerintah melalui Komisi Yudisial, berkeinginan kembali menerapkan aturan tersebut.

Bosnia, dengan penduduk 3,8 juta jiwa. Sekitar 40 persen diantaranya adalah umat Islam, sedang 60 persen lainnya  adalah umat Katholik dan Kristen. Kalangan wanita–muslimah, mengenakan jilbab. Demikian juga diantara para wanita Katholik dan Kristen, juga ada yang mengenakan penutup kepala, sebagai atribut keagamaannya, dan tentu juga terkena larangan ini.  (die/muhammad halwan/dbs/suara-islam.com)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.